42762.jpg
http://www.cbc.ca
Perempuan · 6 menit baca

Melawan Cat Call Bukan Hanya "Foto-Update-Share"


Apa sih cat call itu? “Kelakuan remah-remah laki yang hobi godain perempuan yang lagi lewat” jawab sahabatku enteng sambil mengunyah pisang goreng.

Apa sih cat call itu? “Panggilan atau siulan atau semacamnya yang mengobjektifikasi cewek” respon seseorang yang sedang sibuk bekerja sambil menahan kantuk.

Apa sih cat call itu menurut kamu?

Saya ingin bercerita sedikit pengalaman menjadi “korban” cat calling ini. Alkisah sembilan tahun yang lalu tepatnya setelah menghadapi Ujian Nasional SMP, mama berinisiatif mengajak saya makan siang bersama di sebuah mall tak jauh dari sekolah. Sesampainya di mall, mama menyuruh saya ganti baju (beliau memang paling sensi melihat anak berseragam sekolah main di mall), kebetulan baju yang saya pakai saat itu kaos dengan potongan lengan pendek dan celana jeans. Tidak ada yang mencolok dari penampilan saya, ditambah raut muka kusut sehabis menghadapi ujian dan beberapa jerawat kecil di jidat dan hidung tipikal remaja tanggung.

Saat ingin pulang, kami berdiri di trotoar depan mall menunggu papa yang sedang dalam perjalanan menjemput. Lalu tiba-tiba lewat segerombolan anak jalan atau anak punk atau pengamen (saya kurang tahu istilah yang pas) sambil menatap ke arah saya dan bersiul-siul menggoda. Jujur saja saat itu saya lebih merasa bingung ketimbang terganggu, dalam benak saya;“ini serius ni gue gembel item keriting jelek gini dipiwitin?” hihihi. Tapi mama sigap menggenggam tangan saya sambil teriak “jangan kurang ajar sama anak saya ya!” disertai tatapan ketus khas inang-inang batak. Kaget dengan reaksi mama, saya jadi semakin bingung apa yang salah dari siul-siul orang yang mungkin saja hanya iseng?

Mama adalah orang yang ramah dan cepat bergaul dengan banyak orang dari berbagai kalangan, dari pejabat sampai kang parkir, dari chef restoran bintang lima sampai pedagang kaki lima. Maka melihat beliau ketus terhadap orang lain merupakan isyarat bahwa dia merasa terganggu, terancam atau terhina, hal ini membuat saya sadar bahwa kejadian yang barusan saya alamibukanlah sesuatu yang remeh dan bisa didiamkan melainkan harus dilawan.

Saya tidak akan membahas feminisme maupun faktor-faktor penyebab seseorang melakukan cat calling, perihal itu dapat kita pelajari lewat buku, jurnal ilmiah, blog atau artikel yang membahas hal tersebut secara mendalam dan tuntas. Yang menarik perhatian saya belakangan adalah bagaiman respon perempuan dalam menghadapi perilaku cat calling ini.

Di era media online sekarang, sangat mudah mengekspos wajah pelaku cat calling disertai dengan cerita yang runut mengenai kejadian yang baru saja si “korban” alami lalu kemudian diunggah di berbagai media sosial miliknya. Pada awalnya saya berpikir bahwa ini merupakan salah satu bentuk perlawan karena membuat banyak orang menjadi sadar bahwa cat calling is not okay, namun berbalik memuakan ketika perilaku “foto-update-share” menjadi kebiasaan dan terkesan satu-satunya cara melawan cat calling.

Apa yang diharapkan dari bentuk perlawanan yang gencar lewat media sosial namun ketika terjadi di depan mata malah hanya diam, tidak bersuara, tidak melakukan reaksi sama sekali? Jangan bilang menulis merupakan salah satu usaha, mengekspos wajah si pelaku agar orang lain waspada, tidak melawan karena TAKUT. Berkompromi dengan rasa takutmu sendiri lalu nyaman untuk menjadi lemah dan berharap perilaku cat calling lenyap hanya dengan “foto-update-share”.

Kita semua tahu cat calling bisa terjadi dimana saja, ketika seseorang perempuan jalan sendirian dan tak peduli apa busana yang dia kenakan ataupun sapaan melalui personal chat. Bentuk cat call-pun beragam, dari siulan, memberikan gestur yang bertendensi seksual (meski tidak eksplisit), hingga kalimat-kalimat seperti; “Cantik, mau ditemenin ga?”, “Kok cemberut aja, manis?”, “Ih sombong amat sih”, “Jangan malu-malu sini…” atau ungkapan-ungkapan lainnya.

Saya sudah cukup kenyang jadi sasaran cat calling oleh tukang ojek, kuli bangunan, kenek angkot, pengamen jalanan, tukang gorengan, kang parkir Indomaret, orang lewat, anak SMP/SMA dan masih banyak lagi, cat calling bukan hal baru bagi perempuan yang kemana-mana jalan sendiri dan naik angkutan umum. Lalu mengapa saya tidak pernah “foto-update-share” di media sosial? Ya karena sungguhlah cat calling tidak semenakutkan itu (atau karena saya tidak memelihara rasa takut itu).

Ada 4 cara yang bisa dilakukan dalam menghadapi cat call selain hanya update status, tergantung siapa dan situasi yang dihadapi tentunya. Yang selalu saya tekankan dalam pikirian adalah mereka melakukan cat calling karena tidak tahu bahwa hal tersebut salah, bahwa apa yang mereka lakukan mengganggu, bahwa mereka melakukan itu karena iseng tanpa niat buruk apapun (iya, saya memaksa diri untuk tidak cepat menghakimi orang). Mereka tidak tahu bahwa kata-kata juga bisa dikategorikan sebagai pelecehan, terlebih belum tentu mereka paham definisi pelecehan.

Senyum dan Berlalu

Mungkin terlihat konyol namun mereka yang melakukan cat calling biasanya para pekerja yang sehari-hari hidup di jalanan, dengan penghasilan tak menentu, di bawah terik matahari, pendidikan minim dan kurang hiburan. Saya kurang tahu hidup macam apa tepatnya yang mereka jalani, yang saya tahu kehidupan jalanan itu keras. Mereka melakukan cat call karena mungkin itu satu-satunya "hiburan" yang bisa mereka jangkau, bukan artinya saya mendukung dan menolerir cat calling tapi karena pada saat dan keadaan tertentu saya tidak menganggap hal tersebut sebagai sebuah ancaman. 

Untuk memahami perilaku manusia tidak bisa dilakukan dengan metode eksakta yang sudah pasti jawabannya, kompleksitas manusia ini yang harusnya bisa menjadi tolak ukur kita dalam merespon perilaku-perilaku tertentu. Saya mengerti mereka melakukan hal tersebut karena iseng tanpa maksud menyakiti, maka saya respon dengan memberi senyum dan pergi. Membalas gangguan mereka dengan respon yang tidak mereka duga malah membuat mereka diam dan hormat, menunjukan sikap marah atau terlihat takut justru membuat mereka semakin menjadi-jadi dan merasa berhasil mendominasi.

Intimidasi Balik

Mengajak bicara dengan raut wajah tenang, hindari bicara kasar dan jaga intonasi saat karena hal ini membuat mereka merasa tertantang. Hampiri dan minta penjelasan dengan menanyakan beberapa poin-poin seperti; “Maksud lo apa?”, “Ada masalah apa?” atau “Apa tujuan lo?”. Mereka akan salah tingkah lalu bingung atau menjawab secara malu-malu bahwa itu hanya candaan, lalu jelaskan secara singkat, padat dan jelas bahwa perbuatan itu bukan hal terpuji, mengganggu, dan sama sekali tidak lucu. Menunjukan dengan tegas bahwa perempuan bukan komoditas seksual atau pemuas estetika belaka, melainkan manusia utuh yang harus mereka hormati, tak bisa seenaknya diguyoni tanpa melawan balik. Jika pelakunya adalah mahasiswa atau orang-orang yang cukup berpendidikan saya jelas akan merespon dengan cara ini, karena mereka (harusnya) punya sedikit kecerdasan untuk diajak bicara.

Kontak Fisik

Saya sama sekali belum pernah mengalami cat call yang berakhir kontak fisik, namun jika keadaan makin tidak terkontrol sudah selayaknya saya atau anda untuk tidak berpikir panjang melakukan penyerangan ke titik vital pelaku. Tidak ada yang boleh menyentuh bagian manapun dari tubuh seseorang tanpa izin yang artinya meski mereka tidak mengerti konsensualitas, jika mereka menyentuh anda, anda punya hak untuk menyerang balik demi mempertahankan diri. Utamakan serangan ke bagian-bagian sensitif pelaku, misalnya tulang kering, kepala bagian belakang atau paling mudah selangkangan, setelahnya lari secepat mungkin ke tempat yang lebih ramai atau dirasa aman.

Block and Report

Belakangan cat call juga bisa dilakukan melalui personal chat, secara tiba-tiba orang yang tidak dikenal mengirimkan kata-kata atau gambar yang mengganggu. Saya pernah beberapa kali mendapat cat calling dalam bentuk ini dan saya merespon dengan menjelaskan pada mereka bahwa saya tidak tertarik lalu block. Cat call yang dilakukan lewat personal chat bukan hal yang layak dibesar-besarkanmerasa terganggu apalagi terancam hanya karena orang asing yang ingin mencoba berkomunikasi dengan anda lewat media sosial adalah hal yang berlebihan dan terlalu mengada-ada.

Demikian 4 macam cara melawan cat calling versi saya. Mungkin seiring jalannya waktu saya menemukan cara-cara baru yang lebih ampuh, namun untuk saat ini cara-cara di atas yang paling bisa diterapkan di lapangan. Selalu berusaha untuk tenang, tidak terpancing emosi dan tidak takut merupakan modal utama, jangan menunjukan sikap kasar ke hadapan orang yang hobi cat calling karena kemungkinannya hanya dua; mereka senang berhasil mengusik kita atau terpancing membalas kekasaran kita dan akhirnya terjadi hal yang tidak kita inginkan. 

Menghadapi sisa-sisa warisan budaya patriarki memang berat dan melelahkan, hanya bisa dilawan dengan ketenangan yang menghanyutkan bukan senantiasa marah-marah setiap kali ada hal yang tidak kita sukai. Ingat, selalu waspada tidak sama dengan berpikiran negatif, tidak bisa santai, tidak bisa melihat kejadian dari kaca mata yang lebih besar apa lagi memposisikan diri. Jadilah perempuan yang berani berdiri di kaki sendiri, bukan mengemis rasa iba dan berharap semua orang peduli.