51772mursi-tribe-ethiopia.jpg.jpg
Ilustrasi
Budaya · 3 menit baca

Melawan Budaya Primitif di Era Modern

Beberapa tahun lalu, masyarakat Amerika lagi-lagi membuat berita kejutan. Sebuah peristiwa bunuh diri massal terjadi di wilayah San Diego, California. Ini merupakan suatu tindakan irasional yang terjadi di tengah masyarakat Amerika Serikat (AS) yang sering dianggap paling modern dan rasional. Segera saja peristiwa tersebut menjadi topik utama, baik di surat kabar maupun mimbar televisi AS.

Para pengamat merasa syok karena belum lama berselang mereka disuguhi peristiwa serupa yang terjadi di Guyana, Texas, Quebec, dan kini di San Diego. Sebanyak 39 orang, 21 wanita, dan 18 laki-laki ditemukan tak bernyawa dalam sebuah perumahan mewah yang disewa seharga tujuh ribu dolar AS sebulan.

Hasil penyelidikan menyimpulkan, mereka mengakhiri hidupnya karena didorong oleh suatu keyakinan "pseudo-agama" (semi-agama) bahwa tubuh wadag (kasar) dan planet Bumi ini hanya merupakan tempat transit sementara, sedangkan tempat tinggal yang lebih indah dan ideal adalah planet Angkasa seperti yang disajikan oleh film-film scifi (science fiction).

Bagaimana kita memahami peristiwa ini? Uraian berikut akan mencoba kita lihat dengan menggunakan analisis konsep langit suci (sacred canopy), sebuah pendekatan theodicy yang akhir-akhir ini dipopulerkan kembali oleh Peter Berger.

Berasal dari bahasa Yunani, theodicy secara harfiah berarti prinsip keadilan Tuhan yang kemudian dari sudut pandang filsafat agama dipahami sebagai sebuah formula rasionalitas metafisis yang muncul dari keyakinan iman ketika seseorang menghadapi peristtiwa tragis yang dapat diterima dengan tabah, rasional tanpa harus menyalahkan Tuhan.

Menurut alur logika ini, Tuhan selalu benar dan adil sementara manusia selalu dalam pihak yang salah. Oleh karena itu, jika tertimpa musibah, harus dipahami sebagai hukuman atas dosa manusia atau sebuah ujian Tuhan. Setiap pemeluk agama meyakini konsep "theodicy" sebagai sebuah pembelaan atas keadilan Tuhan agar bisa menjalani hidup dengan tabah dan tetap memiliki optimisme.

Keyakinan akan keadilan Tuhan itu pada urutannya melahirkan konsep langit suci yang senantiasa memayungi manusia atas semua peristiwa tragis yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Tanpa kuasa dari-Nya, kehidupan menjadi absurd, tak bermakna, dan kegelisahan akan selalu menyertai kehidupan manusia. Namun, bagi mereka yang berpandangan Ateis, kehidupan dilihat hanya sebagai kebetulan historis belaka.

Kemajuan iptek modern yang ikut membidani dan membesarkan paham positivisme membuat bangunan langit suci sebagian masyarakat Barat kabur dan koyak. Memang, pusat-pusat studi agama bermunculan, buku-buku, dan jurnal keagamaan rutin diterbitkan. Namun, keyakinan dan praktik keagamaan tradisional makin menipis, bahkan yang subur adalah apa yang sering disebut sebagai pseudo-religions yang masuk dalam kategori gerakan new age.

Secara sosiologis, konsep langit suci berperan mengikat warga masyarakat karena ia disakralkan, dibela, serta diwariskan secara turun-temurun sehingga makna dunia tidak goyah. Siapa yang menggugat dalil-dalil langit suci akan dikucilkan oleh masyarakat.

Namun, keutuhan dan keteduhan bangunan keyakinan itu goyah ketika batas-batas geografis dan kultural sebuah agama melebar, lalu bertemu dengan tradisi agama lain sehingga hamparan langitnya menjadi samar dan kelam.

Dalam masyarakat Barat, di samping karena bertemu dengan tradisi agama Timur, sumber kegelisahan yang mengguncang tatanan langit suci terutama datang dari kemajuan ilmu pengetahuan dan filsafat yang mencabik-cabik konsep tradisional theodicy. Terkoyaknya langit suci ini semakin terasa dengan meletusnya Perang Dunia II dan ketika lembaga serta doktrin agama tidak berdaya menghentikan krisis-krisis kemanusiaan dan bahkan ketika agama itu sendiri menjadi sumber tragedi dan konflik sosial.

Dalam kaitan ini, Lester Kurtz mengkritik konsep Peter Berger tentang "sacred canopy" yang indah dan tenang. Padahal kata Kurtz lebih semacam hamparan langit kapas yang terdiri atas berbagai warna dan jika didekati sangat plural dan dinamis (buku Gods in The Global Village 1995).

Peristiwa bunuh diri massal yang terjadi di Barat yang relatif beruntun itu telah mencabik hamparan langit suci, sekaligus merupakan gugatan dan interupsi terhadap doktrin tradisi agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam) yang melarang keras tindakan bunuh diri.

Kemudian lagi, mengapa remaja atau orang dewasa di Barat mudah terjerat pada gerakan agama kultus? Salah satu faktor penyebabnya barangkali adalah tidak adanya konsep "multi generational family" seperti di Timur, yaitu sebuah ikatan emosional yang kuat dari keluarga dan sanggup memberikan akomodasi kontrol sosial terhadap anggotanya.

Sebaliknya yang lebih menonjol di Barat adalah budaya anak yang menginjak umur delapan belas tahun, sudah hidup memisahkan diri dari orang tua, lalu tinggal sendiri atau bersama temannya. Boleh jadi anak-anak hidup bersama lawan jenis tanpa nikah.

Proses sosialisasi keluarga yang demikian pada akhirnya akan membentuk sifat mandiri tapi sekaligus juga mengantarkan terbentuknya sifat individualistik di tengah masyarakat yang ruang kehidupannya sangat kompetitif.

Dari berbagai fenomena yang muncul para masyarakat di Barat dan Timur, umumnya mengidap gangguan psikologis. Antara lain: kerinduan pada kehangatan hubungan keluarga yang telah lama hilang dan sulit ditemukan kembali.

Logis rasanya jika sering menemukan kasus narkoba dan skandal lainnya di media televisi atau cetak generasi muda kita sudah tak diperhatikan oleh orang tua dan gurunya. Mengutip sebuah analisis di majalah Time, kehampaan spiritual yang bertemu fantasi ilmiah dan tumbuh dalam lingkungan "junk culture" (budaya sampah) ternyata bisa melahirkan perilaku yang aneh dan mengerikan.