ziarah.jpg
kegiatan ziarah santri dan orangtuanya beserta warga masyarakat untuk memeringati Isra Mi'raj, 2014. Dokumentasi Pribdi.
Pendidikan · 5 menit baca

Masa Depan Pesantren Klasik


Oktober 2015, Presiden Joko Widodo alias Jokowi menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Salah satu alasan penetapan Hari Santri Nasional karena kontribusi para santri dalam merebut kemerdekaan nasional (liputan6.com, 22/10/2015).  

Istilah Santri merujuk kepada orang yang belajar agama Islam di lingkungan tertentu sembari meninggali alias mondok di tempat tersebut. Dari kegiatan pelajar yang mondok tersebut kemudian menjadi frase, pondok pesantri-an yang dilafalkan dengan ‘pesantren’. Identifikasi yang lebih khusus dari Santri adalah orang-orang yang belajar kitab kuning dan pakaian khasnya sarung dan peci.

Identifikasi-identifikasi di atas membedakan Santri dengan orang yang belajar di sekolah-sekolah formal meskipun berlabel Islam . Istilah Santri pun tidak diterapkan kepada orang yang belajar Islam di Kairo dengan meraih gelar license yang disingkat Lc.

Keberadaan pondok pesantren lebih tua ketimbang organisasi massa Islam semisal Nahdlatul Ulama maupun Persatuan Islam. Karena itu, tidak semua pondok pesantren merupakan bagian dari dua ormas tersebut.

Tradisi Pesantren

Keberhasilan santri terletak pada saat mampu membuka pondok pesantren lagi. Level terendah dari keberhasilan tersebut adalah mengelola jamaah sendiri atau menjadi imam mesjid atau muazin. Biasanya disebut dengan muqim atau menetap dan tidak lagi mondok.

Hal di atas membedakan pondok pesantren dengan sekolah formal. Sekolah formal menjanjikan, setiap lulusannya akan bekerja di perusahaan atau di pemerintahan.  Level kesuksesan akan meningkat jika lulusan sekolah bekerja di perusahaan bonafide dan menempati jabatan relatif tinggi.

Konsep link and match dengan industri telah ‘mendarahdaging’ dalam gagasan sekolah formal. Karena kategori kesuksesan tersebut seringkali tidak terbukti, akhir-akhir ini muncul ungkapan yang mematahkan, ‘pelajar yang sukses adalah yang memiliki jiwa kewirausahaan dan menciptakan lapangan pekerjaan’. Meski begitu, sekolah formal apalagi sekolah kejuruan lebih memberikan harapan ketimbang pesantren.

Pondok pesantren mengenal beragam sistem belajar yang lebih kaya ketimbang sekolah umum. Misalnya, sistem belajar bahtsul masail, sorogan, dan ngalogath-bandongan.

Bahtsul masail setara dengan sistem belajar studi kasus. Biasanya para santri akan mendiskusikan persoalan kontemporer dengan merujuk pada kitab-kitab kuning. Sedangkan sorogan merupakan sistem belajar di mana santri memilih kitab dan gurunya sendiri berdasarkan minatnya.

Melalui sistem belajar ngalogath-bandongan, di mana kiyai membaca dan mengartikan satu per satu bahasa Arab kitab kuning, para santri secara telaten menandai kalimat-kalimat penting dalam kitab tersebut. Beberapa pondok pesantren di Tatar Sunda para kiayi mengartikan kitab kuning dalam bahasa Jawa, kemudian kiyai menerangkannya dalam bahasa Sunda.

Bab-bab lain yang dipelajari di pondok pesantren adalah hukum waris dan zakat, yang secara tidak langsung para santri pun belajar ilmu hitung. Pesantren menjadi aktor yang mengajarkan baca-tulis-menghitung dan merawat bahasa lokal. Pesantren pun memperkenalkan cara menulis Arab Pegon, bahasa Latin yang ditulis dalam kalimat-kalimat Arab. Karena itu, seorang santri bisa saja butu huruf latin, tapi akan lancar membaca dan menulis Arab.

Gagasan lain dari pondok pesantren adalah setiap orang dapat belajar tanpa batas umur dan keterbatasan biaya. Pesantren tidak mengenal murid dikeluarkan atau tidak naik kelas karena tidak mampu menguasai pelajaran. Semua orang mempelajari kitab yang sama dan menyelesaikannya (Kompas, 19 Maret 2010).

Pesantren tidak memperkenalkan ‘sistem prestasi’ yang diwarnai semangat persaingan bebas.  Santri dapat bertahun-tahun mondok jika dirasa belum mampu keluar pesantren. Pesantren pun tidak mengenal penahanan ijasah karena tidak mampu bayar uang sumbangan pendidikan.

Di waktu libur, santri dapat berleha-leha sampai memiliki biaya untuk berangkat lagi ke pesantren. Karena tidak ada keharusan menyampaikan 'satuan unit pelajaran' di tahun tertentu, jam belajar di pesantren sebenarnya lebih fleksibel. Santri dapat mengikuti jam belajar selepas melaksanakan aktivitas hariannya, bahkan tidak mondok. Biasanya disebut dengan santri kalong.

Pondok pesantren tidak mengenal ‘sistem ajaran baru’ yang telah menjadi lumbung rezeki industri pakaian dan industri percetakan buku. Kitab-kitab yang dimiliki oleh para santri dapat dipergunakan secara turun temurun dan tidak ada tuntutan menggunakan pakaian baru.

Para guru di pondok pesantren mengajarkan hidup sederhana dengan cara tirakat dan berpuasa sunat sebagai metode ngalap keberkahan ilmu. Melalui nazaman, pesantren mengembangkan teknik menghapal kaidah-kaidah bahasa maupun kaidah fikih.

Lumrah bagi para santri memasak, makan bersama-sama, dan mencuci sendiri. Untuk keperluan makan sehari-hari para santri biasanya membawa beras dari rumahnya masing-masing.

Dalam kehidupan bermasyarakat pondok pesantren memiliki media bertemu langsung dengan warga dalam bentuk pengajian mingguan atau bulanan. Ikatan sosial pesantren tidak hanya dengan santri dan orangtuanya. Kebanyakan kiyai pesantren menjadi sandaran warga masyarakat untuk mengatasi pelbagai problem kehidupan; mendapatkan jodoh, kelancaran berdagang, kesuksesan karir pekerjaan hingga menyembuhkan kesurupan.

Kematian Pesantren Klasik

Tidak banyak pondok pesantren yang mampu bertahan dengan metodologi belajar di atas. Banyak pondok pesantren beradaptasi dengan membuka sistem belajar formal sembari mempertahankan ‘gaya lama’ atau mengintegrasikan ‘gaya lama’ dalam sistem belajar umum. 

Pilihan adaptasi yang dapat dilacak dalam gerakan pembaharuan Islam di akhir Abad ke-19 tersebut kerap menanggalkan tiang utama pondok pesantren sebagai ruang belajar semua orang tanpa mengenal batas usia. Pada akhirnya pondok pesantren tersandera dalam sistem kurikulum, formalisasi seragam, dan tampak asing bagi masyarakat miskin.

Di luar persoalan hubungan patron-klien kiyai, santri, dan warga masyarakat, peminat pondok pesantren ‘gaya lama’ terus menurun. Pesantren tidak memberikan harapan bahwa santri akan menjadi birokrat negara atau buruh pabrik.

Percayalah! dari 46 buruh formal di Indonesia beberapa di antaranya pernah mencicipi pondok pesantren, masih bolak-balik ke pesantren untuk memohon ridlo dari kiayinya, bahkan ada yang tinggal di pondok pesantren. Sayangnya, Muatan belajar di pesantren terkadang hanya relevan untuk pelaksanaan ritual tertentu. 

Kitab-kitab dasar di pesantren semisal Safinatun al-Naja dan Fath al-Qarib membahas fikih secara rinci, namun memerlukan pengayaan. Misalnya, apakah boleh seorang buruh melakukan jamak-qasar salat, karena waktu salat di pabrik sangat pendek dan berkejaran dengan pemenuhan target produksi akan menyebabkan keselamatan pekerjaan hilang? Di bulan Ramadhan, barangkali pimpinan pondok pesantren pun perlu menyerukan kepada manajemen pabrik agar tidak menunggak membayar tunjangan hari raya, agar santri-buruhnya dapat menunaikan zakat fitrah

Jika tidak memiliki trah keluarga pesantren sangat sedikit santri yang mampu membuka pondok pesantren yang baru. Dengan melonjaknya harga tanah untuk kepentingan investasi semakin sedikit orang yang bersedia mewakafkan tanahnya untuk pesantren. Saat ini, tanah untuk pemakaman sekalipun telah menjadi bisnis tersendiri. Tentu saja membuka kontrakan untuk buruh pabrik lebih menjanjikan ketimbang membuka pemondokan santri.

Para penyelenggara negara bukan tidak mengetahui nilai guna pondok pesantren. Saat menjelang pemilihan kepala desa hingga pemilihan presiden, pesantren adalah salah satu media yang dipergunakan untuk meraup suara. Namun, alokasi anggaran pemerintah pusat hingga desa tampaknya lebih prospektif membiayai infrastruktur demi menarik investasi.

Tugas-tugas kemanusiaan pondok pesantren harus ditanggung dari pembiayaan dari keluarga kiyai dan sumbangan sukarela dengan alakadarnya dari santri yang rata-rata berasal dari keluarga miskin. Di pojok lain, sementara para pegiat gerakan sosial berpikir keras merancang modul-modul pendidikan popular, metodologi belajar ala pesantren semakin banyak ditinggalkan.

#LombaEsaiKemanusiaan