31091.jpg
Politik · 5 menit baca

Mas Anies, Masihkah Kau yang Dulu?

Mas Anies, sambil mengisi waktu menanti pelantikan kakanda nanti, boleh saya sedikit mengganggu?

Beberapa hari lalu (8/8/2017) saya menyaksikan berita tentang penghargaan yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta bagi penyelenggara dan pemangku kepentingan atau stakeholders dalam penyelenggaraan Pilkada DKI Jakarta 2017. Saat diwawancarai, ketua KPUD Jakarta, Sumarno mengatakan bahwa penghargaan ini sebagai wujud terima kasih atas suksesnya penyelenggaraan Pilkada DKI Jakarta. What? Sukses? 

Lebih lanjut lagi beliau mengatakan bahwa prosesnya berjalan demokratis dan damai. Heh? Damai? Ringan betul abang Sumarno menyebut Pilkada Jakarta kemarin berlangsung damai. Apa gerangan kriteria damai menurut abang ini? Jika pilkada Jakarta kemarin dikatakan damai, lantas bagaimana pula gambaran pilkada yang tidak damai? Ngeri betul rasanya jika dibayangkan. Ya, tapi mungkin bisa dimaklumi lah, secara beliau ketua penyelenggaranya.

Kemudian di media online saya membaca petikan sambutan Mas Anies dalam acara tersebut. Ternyata dalam berita itu pun Mas Anies berkesimpulan yang sama, bahwa pilkada berlangsung sukses. Meskipun saya bukan siapa-siapa, tapi terus terang saya merasa agak terganggu dengan pernyataan sukses itu. Apalagi jika yang menyebut ini Mas Anies. Saya tahu, bahwa mungkin yang dimaksud sukses itu adalah bahwa pilkada bisa dijalankan sampai selesai. Tapi sesederhana itu kah “pilkada sukses” menurut seorang Mas Anies? Apa karena Mas Anies yang menang pilkada sedang berbunga-bunga lantas melihat semuanya menjadi serba indah, ya?

Mas Anies, tolong jawab, melihat riuhnya perjalanan pilkada Jakarta kemarin bagaimana tanggapan jujur Anda sebagai cendekiawan muslim?

Apakah benar Mas Anies tak menyimpan sedikit pun kekecewaan terhadap proses politik Jakarta yang sangat brutal kemarin? Karena hingga saat ini saya belum pernah mendengarkan sedikit pun kata keprihatinan Anda melihat rusaknya bangunan keberagaman kita akibat perang kekuasaan. Bukankah dunia mengenal Mas Anies sebagai tokoh muslim moderat?

Lantas di manakah Anda berdiri melihat intoleransi akut yang bermetastasis jauh hingga ke perdebatan asas negara kita. Bukan kah Anda penggagas Gerakan TurunTangan yang mendorong agar kampanye dilakukan secara sehat tanpa ada kampanye hitam? Lalu dimana teguran Mas Anies terhadap pelaku-pelaku kampanye hitam di barisan Anda kemarin?

Pilkada Jakarta begitu banyak menjejakkan luka intoleransi. Simak-lah bagaimana anak-anak kecil di Jakarta menyambut Ramadhan dengan berpawai obor sambil teriak dan bernyanyi “bunuh-bunuh si Ahok”. Di masjid-masjid pada hampir tiap khutbah Jum’at selalu berpesan agar tidak memilih pemimpin kafir. Hingga himbauan untuk tidak mensalatkan jenazah pendukung calon non-muslim.  Dan Mas Anies tentu sudah mendengar bagaimana tanggapan masyarakat internasional melihat wajah Pilkada Jakarta kemarin. Politisasi agama yang terjadi telah merusak reputasi Indonesia yang menganut bentuk Islam moderat.

Berdasarkan hasil penelitian beberapa lembaga survey pasca pilkada, didapatkan kesimpulan yang konsisten bahwa faktor agama memainkan peran utama bagi kemenangan Mas Anies dan Sandiaga. Dalam laporan Tempo, Indomatrik-H2Y merespon 880 orang di 440 TPS mendapatkan hasil bahwa 85% responder memilih Anies-Sandi adalah karena se-agama. 

Polmark Indonesia menanyakan 800 orang di 400 TPS mendapatkan hasil bahwa sebanyak 67.6% responder menginginkan gurbernur muslim. Populi Center melaporkan penelitiannya terhadap 2000 orang di 500 TPS dengan hasil bahwa 93.2% responder memilih Mas Anies karena kesamaan agama. Apakah Mas Anies puas dengan pencapaian demokrasi yang rasis ini? Bukankah kita memimpikan demokrasi yang dewasa dan pluralis?

Memang benar bahwa data tersebut sesungguhnya hanya mencerminkan bahwa politik identitas masih menjadi hal yang dominan dalam menentukan kemenangan peserta pilkada. Dan politik identitas sebenarnya adalah hal yang sah-sah saja. Tetapi tetap saja menunjukkan kualitas demokrasi kita. Dan yang paling berbahaya adalah ketika politik identitas ini menjadi penyebab perpecahan dan permusuhan di masyarakat kita. Parahnya lagi aroma kebencian tidak hanya dirasakan di Jakarta, melainkan di seluruh Indonesia.

Mas Anies, sekedar info bahwa saya adalah salah satu fans Mas Anies dari dulu. Saya selalu mengagumi gerakan Indonesia Mengajar anda yang sangat inspiratif, yang menjadi benih menjamurnya gerakan-gerakan voluntarisme sejenis di tanah air. Saya juga selalu menganggap Anda sebagai penerus Nurkholis Madjid, tokoh intelektual muslim abadi Indonesia yang melakukan pencerahan terhadap negeri ini. Anda pernah tercatat sebagai rektor termuda Indonesia, di Universitas Paramadina, kampus cendekia yang lahir dari ikhtiar syi’ar kosmopolitanisme seorang Cak Nur. 

Pada April 2008 lalu majalah Foreign Policy, Amerika, pernah memilih mas Anies sebagai satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar "100 Tokoh Intelektual Dunia" bersama Noam Chomsky, Francis Fukuyama, Samuel Huntington, dan pemenang Nobel asal Bangladesh Muhammad Yunus. Anda juga pernah tercatat sebagai salah satu dari 20 tokoh yang diproyeksikan membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh majalah Foresight di tahun 2010 silam. Dalam majalah itu Anda disebut sebagai tokoh muslim moderat.

Lalu melihat kondisi kebangsaan kita hari ini, tak bisa kah kau setidaknya berseru kepada bangsa untuk menghindari sikap intoleran? Mengapa dirimu selalu memilih diam? Oh, mungkin saya yang salah. Saya lupa kalo Mas Anies kini juga adalah seorang politisi. Diam adalah pilihan yang paling aman untuk saat ini. Dalam Kongres Diaspora bulan lalu, Mas Anies sempat berbicara tentang toleransi. Namun sayang, bukannya mengutuk intoleransi, Anda justru mengutuk kesenjangan sosial dan menuduhnya sebagai biang intoleransi tersebut. Jadi aku menganggap dirimu masih berdiam seperti biasanya, Mas.

Mas Anies, dalam bisu-mu kami bertanya ; masih kah kau yang dulu?

Sedikit curhat, Mas. Bahwa gara-gara menyayangkan rangkaian aksi angka cantik kemarin saya sering mendapatkan sebutan kaum munafik, kafir, dan sebangsanya. Teman saya bahkan ada yang diancam dihalalkan darahnya. Kami sering diminta untuk beristigfar dan disuruh untuk syahadat ulang. Tapi buat kami tak mengapa. Martin Luther King pernah berkata : “Pada akhirnya, kita tidak akan mengingat kata-kata dari orang yang memusuhi kita, melainkan diamnya teman-teman kita.”

Meskipun tidak nge-fans, saya mengapresiasi sikap pasangan Anda, Sandiaga Uno yang mendukung agar pengunggah video pidato Ahok di pulau seribu dilaporkan ke polisi. Padahal dia sama sekali bukan orang yang dihitung sebagai tokoh intelektual muslim. Tapi pernyataannya saat itu mampu menandingi kebijaksanaan seorang Syafii Maarif. Beliau sadar bahwa Jakarta adalah cerminan kehidupan berbangsa kita. Jakarta akan selalu menjadi tolak ukur, kiblat, dan trend-setter di Indonesia dalam hal apa pun. Sehingga beliau percaya bahwa proses politik Jakarta harus bisa menjadi contoh. Pilkada Jakarta harus mengedepankan demokrasi sejuk, demokrasi tanpa SARA.

Tapi apa pun itu, sekali fans saya tetap akan nge-fans kepada Mas Anies. Saya tetap setia mengidolakan Mas Anies. Ukuran kesetiaan saya jangan ditanya, Mas. Buktinya saya tetap menjadi fans Liga Italia.

Buat mas Pandji, saya tahu Anda orang dekat Mas Anies. Tapi tolong jangan baper dengan tulisan ini. Anggap saja saya sedang nge-roasting Mas Anies.