Ketik untuk memulai pencarian

Manipulasi Diri dan Pelecehan Dunia Siber

Manipulasi Diri dan Pelecehan Dunia Siber

Erving Goffman Dramaturgical Approach Presentation (Foto: slideshare.net)

Secara umum, media sosial (social media) didefinisikan sebagai bentuk komunikasi dan interaksi sosial melalui media digital dan dilaksanakan secara online melalui jaringan internet yang melibatkan banyak aktor dan kepentingan dengan tema yang beragam.

Berdasarkan kegunaan dan kepentingannya, media sosial dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori seperti, Social Network yang biasanya dipergunakan untuk bersosialisasi dan berinteraksi seperti Facebook, LinkedIn, Myspace.

Social Game yang berisikan gim online seperti Doof, Pogo. Share, yaitu media sosial yang dipakai untuk membagi file, video, musik seperti YouTube, Slideshare. Discuss sebagai media diskusi seperti WhatsApp, Skype, Google Talk.

Media sosial telah membentuk dunia tersendiri dan menciptakan berbagai konfigurasi kehidupan sosial sebagaimana layaknya kehidupan sosial sehari-hari. Konfigurasi kehidupan sosial apakah yang terbentuk di media sosial saat ini? Dari sekian banyak konfigurasi kehidupan sosial yang terbentuk ada dua gejala menarik sekaligus memprihatinkan yaitu manipulasi diri (self manipulation) dan pelecehan dunia siber (cyber bullying).

Fenomena Manipulasi Diri

Di era teknologi informasi yang menghasilkan sejumlah modern gadget dan media sosial, ternyata membuat banyak orang tergoda untuk melakukan berbagai manipulasi diri, mulai dari mengedit foto diri agar terlihat lebih tampan dan cantik, berfoto di sejumlah tempat liburan mahal dan prestisius untuk mengirim pesan betapa mapannya diri kita, menyandingkan barang-barang mahal (mobil, motor, dll.) seolah-olah kita adalah pemilik atau konsumen utama.

Mengunggah foto menu makanan mahal di restoran terkemuka untuk mendapatkan pengakuan perihal selera makan. Ukuran keberhasilan dan kesuksesan saat ini ditentukan oleh apa yang kita unggah di media sosial (Facebook, Instagram, YouTube, Line, WhatsApp, dll.).

Gejala Simulakra dan Hiperrealitas (istilah yang dipopulerkan sosiolog Jean Baudrilard) mewabah di mana-mana. Simulakra adalah pencitraan realitas melalui simulasi berupa iklan. Hiperrealitas adalah melampaui kenyataan sebenarnya. Setidaknya inilah yang terjadi dan diakui oleh seorang blogger fesyen bernama Essena O’Neil, seorang remaja berusia 18 tahun yang saat ini mengampanyekan “berhenti menipu diri sendiri lewat media sosial”.

Ia memiliki 265.000 pengikut di You Tube dan 702.000 pengikut di instagram. Namun semua itu tidak membuatnya berbahagia. Ketidakbahagiannya disebabkan dia kerap memanipulasi keadaan dirinya sendiri agar terlibat kaya, keren, pintar, mapan, prestisius. “Jangan biarkan jumlah follower dan like mendefinisikan dirimu,” demikian ujar O’Neil.

Oleh karenanya jangan lekas percaya dengan sejumlah foto yang diunggah di media sosial sehingga kita terpancing untuk menikmati, mengalami, memiliki sesuatu yang di luar jangkauan dan kemampuan kita.

Fenomena Pelecehan Dunia Siber

Bagi mereka yang aktif di media sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram, Line dll. pasti tidak asing dengan istilah Cyber Bullying. Jika ada istilah Real World dan Real Community maka di era teknologi informasi dan internet ini ada istilah Cyber World dan Cyber Community.

Namun bukan hanya nilai-nilai yang positif yang dipindahkan ke dunia maya (cyber world) melainkan kejahatan dan berbagai bentuk perkataan serta perilaku menyimpang dapat masuk ke dunia maya. Oleh karenanya ada istilah Cyber Crime (kejahatan dunia maya) dalam bentuk penipuan, pemalsuan yang merugikan siapa pun yang menjadi korban pelaku kejahatan di dunia maya.

Gejala lainnya yang saat ini marak adalah hate speech (ujaran kebencian) yang bisa dimanifestikan secara verbal (melalui kata-kata langsung) atau non verbal melalui media sosial. Salah satu bentuk hate speech adalah Cyber Bullying yaitu segala bentuk ungkapan kata-kata ejekan, hinaan yang tidak hanya ditujukan pada seorang anak tapi siapa pun dengan mengabaikan nilai dan norma kesopanan dengan tujuan mempermalukan seseorang di media sosial.


Follow Qureta Now!

Perhatikan saja mulai dari status yang dibuat seseorang hingga percakapan dalam kolom komentar semakin jauh dari keterdidikan. Alih-alih mendiskusikan dan memperdebatkan sesuatu dengan kaidah-kaidah logika dan keilmuan, yang muncul adalah umpatan, cacian, ejekan, hinaan.

Belum lagi setiap kebijakan pemerintah atau instansi pasti akan ditanggapi bukan dengan kalimat-kalimat cerdas dan membebaskan melainkan dengan umpatan, hinaan. Media sosial justru menjadi arena untuk menyalurkan pikiran, gagasan dan perkataan kita yang tidak mungkin kita ungkapkan secara verbal di muka umum yaitu seronok, menghina, mencaci, mengejek.

Presentasi Diri Ekstrem Panggung Depan dan Panggung Belakang: Perspektif Dramaturgis Erving Goffman

Kita akan menganalisis fenomena manipulasi diri dan pelecehan dunia siber melalui perspektif Sosiolog Interaksionisme Simbolik bernama Erving Goffman (1922-1997). Goffman telah menulis sejumlah buku yang mengedepankan proses analisis sosiologis pada aspek aktor dan tindakan interpretatif individu tinimbang melakukan analisis eksternal pada kekuatan struktur sosial yang berpengaruh pada perilaku individu dan masyarakat.

Beberapa buku Goffman yang terkemuka al., The Presentation of Self in Every Day Life (1959), Asylum: Essays in the Social Situasion of Mental Patients and Other Inmates (1961), Encounters: Two Studies in the Sociology of Interaction (1961), Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identitiy (1963), Frame Analysis: An Essay on the Organization of Experience (1974), dan sebagainya.

Dalam bukunya, The Presentation of Self in Every Day Life (1959), kehidupan sosial seperti sebuah arena pertunjukan teater di mana ada sejumlah bagian yang melengkapi sebuah pertunjukkan teater yang meliputi “aktor”, “setting”, “panggung depan” (front region), “panggung belakang” (back stage), “gaya” (manner), “penampilan” (appearance).

Perihal “panggung depan” (front region) didefinisikan, “Panggung depan adalah bagian penampilan individu yang secara teratur berfungsi di dalam mode yang umum dan tetap untuk mendefinisikan situasi bagi mereka yang menyaksikan penampilan itu. Di dalamnya termasuk setting dan personal front, yang selanjutnya dapat dibagi mejadi penampilan (appearance) dan gaya (manner)” (Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporer, 2010:232).

Ambillah contoh kehidupan seorang dokter. Setting seorang dokter adalah kantor. Penampilannya memperlihatkan status sosialnya sebagai seorang dokter yaitu mengenakan jas putih dengan tas dan stetoskop. Gaya seorang dokter memperlihatkan sikap tenang dan persuasif dan meyakinkan pasien untuk memperoleh kesembuhan. Bagian depan kehidupan seorang dokter selalu mengetengahkan sosok ideal.

Perihal “panggung belakang” (back stage) didefinisikan,

”Di samping panggung depan yang merupakan tempat melakukan pertunjukkan tersebut, terdapat juga daerah belakang layar. Identifikasi daerah belakang ini tergantung pada penonton yang bersangkutan. Pada saat istirahat, kantor pribadi seorang dokter bisa merupakan sebuah ruangan di mana dia dapat melepaskan jas putihnya, duduk santai dan bercanda dengan para juru rawatnya.

Sekalipun juru rawatnya dapat menyaksikan sang dokter di dalam keadaannya yang demikian di dalam panggung belakang, tidaklah demikian halnya dengan para pasien. Beberapa menit kemudian, kantor ini akan berubah menjadi ruang konsultasi dan oleh karenanya menjadi panggung depan” (Ibid., hal 234).

Selain konsep perihal aktor, setting, panggung depan (front region), panggung belakang (back stage), gaya (manner), penampilan (appearance), Goffman mengembangkan konsep “manajemen kesan” (impression management) dan jarak peran (role distance). Ketika terjadi proses interaksi sosial, setiap individu ingin menyajikan suatu pengertian diri tertentu yang akan diterima oleh orang lain.

Para aktor berharap bahwa pengertian diri yang mereka sajikkan kepada audiens akan cukup kuat bagi audiens untuk mendefinisikan para aktor seperti yang diinginkan para aktor itu. Dengan kata lain, setiap aktor dramaturgis membangun sebuah kesan yang diinginkan oleh aktor yang sedang berinteraksi dengan dirinya begitu pual sebaliknya.

George Ritzer memberikan deskripsi perihal manajemen kesan dengan mengatakan, “Hal itu meliputi teknik-teknik yang digunakan para aktor untuk memelihara kesan-kesan tertentu dalam menghadapi masalah-masalah yang mungkin mereka jumpai dan metode-metode yang mereka gunakan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut” (Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Postmodern, 2012:638).

Mengenai konsep “jarak peran” berkaitan dengan fungsi dan status sosial seseorang. Ritzer melanjutkan, “Orang berstatus tinggi sering mewujudkan  jarak peran karena alasan-alasan lain dari orang yang berada di posisi status bawah” (Ibid., hal 644).

Berkaitan dengan fenomena manipulasi diri dan pelecehan dunia siber dapat dikatakan bahwa manipulasi diri yang kerap terjadi di media sosial baik itu Facebook, Instagram dll bisa merupakan bentuk ekstrem dari presentasi diri di panggung depan sementara berbagai tindakan pelecehan dunia siber maupun ujian kebencian yang menyeruak dalam berbagai percakapan merepresentasikan bentuk ekstrim dari presentasi diri di panggung belakang.

Mengapa saya katakan dengan istilah “bentuk ekstrem”? Karena bentuk normal percakapan panggung depan di sosial media, layaknya di kehidupan sosial nyata sehari-hari ditandai dengan kesantunan, ketertiban, penguasaan diri, kontrol diri dll namun manipulasi diri telah menghadirkan keberadaan dirinya secara berlebih di luar kenyataan dirinya yang ada baik yang diungkapkan dalam bentuk perkataan maupun foto-foto yang diperlihatkan.

Demikian pula bentuk normal percakapan panggung belakang di sosial media, layaknya di kehidupan sosial keseharian ditandai dengan percakapan nonformal dan tanpa jarak disertai dengan kelakar-kelakar yang bisa saja mempermalukan namun dengan melakukan ujaran kebencian, fitnah dan kata-kata yang melecehkan harga diri seseorang hingga mengubah nasib seseorang yang dilecehkan merupakan bentuk ekstrem dari presentasi diri di panggung belakang.

Suller, seorang ahli psikologi internet menjelaskan alasan seseorang dapat melakukan tindakan kasar, hujat dan melecehkan dikarenakan “online disinhibition effect” (efek nirkekang daring) di mana mereka merasa lebih bebas, tidak terkekang serta dapat mengekpresikkan dirinya secara lebih terbuka (Putut Widjanarko, Media Sosial Yang Beradab, dalam Tempo 2-8 Januari 2017, hal 40).

Maka, analisis Dramaturgis Erving Goffman yang diterapkan pada pola interaksi sosial di media sosial ini dapat menjawab lebih jauh mengapa seseorang cenderung berkata-kata kasar dan hujat secara berlebihan di dunia maya atau sosial media tinimbang di dunia nyata taau kehidupan sehari-hari, karena mereka sedang memperlihatkan keaslian perilaku, orisinalitas tindakan keseharian namun dalam bentuknya yang ekstrem.

Selain pentingnya penyebarluasan literasi media sosial atau pendidikkan melek dan keadaban bermedia sosial, diperlukan pula sebuah kesadaran perihal merepresentasi diri (representation of self) di panggung depan (front region) dan panggung belakang (back stage) secara proporsional sehingga tidak terjebak pada bentuk-bentuk ektremisitas presentasi diri.

Teguh Hindarto

Peminat Kajian Teologi, Sejarah, Fenomena Sosial

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016