Mahasiswa.jpg
Sumber : www.dakwatuna.com
Pendidikan · 3 menit baca

Mahasiswa dan Rekontruksi Peradaban

Realitas sosial manusia berkembang begitu pesat dengan segala dimensinya. Modernisasi menghela gerakannya dengan amat ligat, hampir menyentuh segala sektor kehidupan. Pada masa ini, geliat pemikiran yang disokong oleh kemajuan teknologi begitu melesat, merambah pola pikir jutaan manusia di dunia.

Seorang profesor di Universitas Notre Dame, USA, mengemukakan gagasan intelektualnya terkait gejolak kontroversi Islam awal. Dari jarak ribuan kilometer, di Indonesia, seseorang mampu melahirkan reaksi intelektual berupa pembacaan dan pemahaman gagasan tersebut. Semua berkat teknologi, yang di samping mampu memudahkan manusia menjangkau akses menuju kebaikan, juga mampu mengantarkan kepada kebatilan.

Termasuk yang mencuat belakangan ini, soal gerakan radikalisasi yang begitu meresahkan. Islamic State yang kian gencar menebar terornya, maraknya pengeboman, serta menjamurnya orang kehilangan dengan kedok hendak berjuangan di jalan Tuhan mencerminkan bahwa masyarakat kita masih rapuh menelan asupan salah satu bias modernisasi.

Hal demikian masih dibumbui kehadiran Gafatar. Meski ketua organisasi ini, Manairung mengatakan bahwa kubunya tak bergerak dalam soal keagamaan, tapi berdasarkan bukti yang ditemukan, kelompoknya telah membuat wacana mengejutkan dalam praktik keberagamaan. Wacana yang mereka umbarkan mampu menyita publik dan segera memetik stigma berbagai pihak.

Demikian sedikit gambaran bahwa seiring bergulirnya masa, manusia selalu ramai dengan lalu lalang perubahan dengan segala tetek bengek yang tersemat di dalamnya. Kematangan bernalar dan keampuhan berpikir amatlah dibutuhkan dalam hal ini. Tanpa kedua hal tersebut, kita bakal terseret derasnya arus menghanyutkan kita.

Mahasiswa, pemuda yang berkecimpung di dunia pendidikan, ialah sosok yang turut hadir meramaikan keberlangsungan perubahan ini. Bukan sekadar meramaikan pada tataran pemerhati saja, lebih jauh, mahasiswa ikut terlibat dalam aksi perubahan ini. Bahkan, mahasiswalah yang diimpikan bakal memimpin masyarakat menuju idealisme.

Bukan tanpa alasan, mengapa Ir. Soekarno mengatakan dengan lantang bahwa dunia mampu ia guncang dengan 10 pemuda. Pemuda yang sehat jiwa dan raga biasanya selalu meletup gairah semangatnya. Ketika mendalami sesuatu, pemuda sering berjuang mati-matian demi mencapai tujuan, malang melintang menghancurkan lawan.

Kalau dahulu pemuda berjuang memberangus serangan penjajah, sekarang pemuda justru dihadapkan kepada hal yang lebih serius dari itu. Melawan penjajah adalah peperangan fisik, jejaknya mampu diendus oleh mata telanjang. Sedangkan, masa sekarang adalah peperangan ideologi yang wujudnya pun abstrak tak tergambarkan. Hanya mata dan hati yang jeli yang mampu melacak motif busuk wujud penjajahan dalam konteks ini dan mahasiswa adalah yang dimaksud dari pemuda pemberantas penjajah modern itu.

Merupakan kolaborasi yang brilian jika mahasiswa mampu bergabung dengan masyarakat dan melakukan konstruksi peradaban di dalamnya. Masyarakat butuh seseorang yang mampu dijadikan sebagai acuan dalam melangkah, mereka butuh referensi dalam bertindak menuju kehidupan yang mulia. Mahasiswa adalah jawaban dari semuanya.

Bukan sembarang mahasiswa yang layak diterjunkan di tengah khalayak. Dibutuhkan kemumpunan mengatur masa, kepiawaian mengatasi problematika, serta keahlian dalam intelektual, agar mahasiswa mampu memakmurkan tatanan masyarakat yang ada.

Sebagai contoh, mahasiswa yang kompeten dalam bidang keagamaan bisa terjun mendistribusikan keilmuannya melalui pengadaan penyuluhan materi keagamaan untuk masayarakat. Tergabung di dalamnya, menggalakan soal bagaimana memahami doktrin keagamaan dengan efektif dan sesuai tuntunan. Melihat gejala dewasa ini, maka wacana deradikalisasi mungkin mampu menjadi tujuan utama pencerahan keagamaan masyarakat.

Mahasiswa yang terampil dalam bidang kedokteran bisa menggelontorkan potensinya lewat pengadaan pengobatan gratis dan sebagainya. Mahasiswa yang mahir soal ekonomi bisa menggandeng pihak koperasi desa, mengarahkan bagaimana keuntungan bisa melonjak, serta bagaimana lingkungan bisa diatasi,  bagaimana agar perihal kemiskinan yang menjangkit dan sebagainya bisa diminimalisir.

Semua mahasiswa dengan berbagai kemahiran dalam bidang masing-masing dipersilakan mengalirkan ilmunya lewat berbagai kegiatan positif di masyarakat, kegiatan yang konsturktif dan mampu memiliki daya jual tinggi.

Dalam menapaki konstruksi sebuah daerah yang dituju memang tidak selalu berjalan mulus. Senantiasa hadir aral mengawani perjuangan. Biasanya, permasalahan hadir seperti penolakan oleh sebagian kecil masyarakat yang memang terlanjur larut dalam kultur keterbelakangannya dan merasa puas berkubang di dalamnya.

Problematika bisa berupa minimnya fasilitas daerah, cuaca yang menghambat perhelatan kegiatan, kekurangsadaran SDM yang bertugas soal urgensi pengembangan ini dan sebagainya. Kendati demikian, sambil dicarikan solusi, pencapaian yang gemilang diharapkan tercapai dengan sempurna.

Tatanan daerah yang efektif, baik materi ataupun nonmateri, moral masyarakat yang berbudi, pemahaman keagamaan yang bersih, tali silaturahmi yang erat antar warga, kerjasama yang tanpa perhitungan, aura kekompakan yang meruap dan sebagainya adalah representasi tujuan dari pembangunan daerah menuju iklim pengusung peradaban yang cerah dan mencerahkan.

Sebagai penutup, tulisan ringkas ini sejatinya mengajak saudara-saudara semua yang berstatus sebagai mahasiswa agar ikut andil meramaikan pesta pembangunan masyarakat. Geliat modernisasi yang terjadi di dunia ini butuh bimbingan yang memadai agar tidak ditempuh secara salah kaprah oleh masyarakat.

Mahasiswa sebagai sosok pemuda yang darahnya sedang bergejolak hendak mengadakan perubahan, disokong oleh latar belakang akademis yang mencukupi, kiranya mampu mengentaskan keterbelakangan masyarakat. Minimal di tempat ia tinggal, ia mampu menerapkan prinsip agung ini.

Bintaro, 13 Januari 2016