58072.jpg
Politik · 3 menit baca

Maafkan Saya, Ahok


Tulus saya sampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya untuk dirimu, Ahok. Saya selama ini sudah salah menilaimu. Saya salah karena ikut menuduh dan mengklaim dirimu sebagai penista agama dan penghina para ulama.

Saya juga salah karena ikut terlibat menjatuhkan pamor, citra, dan elektabilitasmu. Saya melakukan itu, baik secara langsung melalui aksi demo berjilid-jilid angka maupun yang tidak langsung dengan ikut menyebarkan berita-berita hoax tentang dirimu. Semua saya lakukan hanya untuk menghancurkan dan melengserkanmu dari tempat di mana semestinya kamu berada.

Ahok, kini saya sangat merasa malu pada diri saya sendiri. Saya malu karena tuduhan dan klaim saya atas dirimu itu ternyata tidak terbukti. Saya malu karena sudah mengata-ngatai dirimu sebagai orang paling bejat, penista agama, penghina ulama, padahal nyata tidak berdasar. Rupanya itu hanya fitnah belaka.

Berani saya katakan ini setelah tahu bahwa jaksa yang menuntut dirimu bukan pada ranah pasal penistaan agama (Pasal 156a KUHP). Jaksa yang menuntutmu ternyata memilih menggunakan Pasal 156 KUHP dan menuntutnya 1 tahun penjara dengan 2 tahun masa percobaan. Itu artinya kamu tidak menistakan agama apalagi menghina para ulama.

Ya, kamu memang menimbulkan keresahan dan kesalahpahaman. Maka tepat jika jaksa menuntut dengan Pasal 156 KUHP. Tapi itu pun tidak berarti bahwa keresahan dan kesalahpahaman yang kamu timbulkan adalah murni kesalahan dirimu sendiri. Justru orang seperti saya inilah yang ikut andil membuatmu terperangkap di kubangan lumpur.

Jujur, saya sebenarnya sadar dari awal kalau kamu tidak akan mungkin melakukan tindakan tercela berupa penistaan agama dan penghinaan para ulama. Merujuk pada pengalamanmu ikut Pilkada Bangka Belitung 2007, menjadi satu fakta bahwa tak ada niat untuk kamu melakukan tindakan bejat seperti itu.

Apa yang kamu lontarkan di Kepulauan Seribu pada September 2016 lalu, tak lain adalah upaya dirimu mengantisipasi tindakan-tindakan para elit politik yang menggunakan isu SARA dalam proses demokrasi seperti Pilkada. Ingat kan bagaimana kamu kalah di Pilkada Babel di mana pemanfaatan Surat al-Maidah 51 menjadi alat satu-satunya melawan ketangguhan dirimu sebagai kandidat waktu itu?

Persis seperti itulah yang juga terjadi di Pilkada DKI Jakarta 2017. Lontaran perkataanmu di Kepulauan Seribu, merujuk pengalamanmu sendiri, bukanlah ungkapan penistaan agama dan/atau pun penghinaan ulama. Nilai utama dari perkataanmu, sekali lagi, hanyalah upaya dirimu mengantisipasi pengalaman pahit yang pernah kamu derita di 10 tahun silam itu.

Atas dasar itu pulalah mengapa jaksa berani mengambil kesimpulan. Bahwa kamu, Ahok, niatmu itu, lebih tertuju kepada orang lain atau elit politik dalam konteks Pilkada yang kamu ikuti. Bukan tertuju pada penistaan agama atau penghinaan ulama sebagaimana yang saya terus tuduh-tuduhkan selama ini.

Sungguh, saya sadar betul sedari awal. Hanya saja, pengaruh kuat dari lingkungan yang membuat saya tak mampu menguasai diri sendiri. Saya terarahkan, Ahok. Sikap dan kedirian saya menyerah pada sikap dan kedirian massa mayoritas yang berkecamuk di sekeliling saya. Tak kuasa saya menahannya.

Sesal? Apa boleh buat. Hanya rasa itu yang bisa saya ekspresikan. Toh rasa penyesalan memang selalu tampil di ujung kisah. Meski demikian, kata “maaf” tetap paling tepat bagi saya untuk saya ikut-sertakan.

Ya, seperti kamu pernah contohkan sesaat setelah viralnya rekaman video pidatomu yang direkayasa Buni Yani itu. Kamu minta maaf, mengaku salah meski nyatanya kamu tidak bersalah sedikit pun. Persis seperti itulah mengapa ungkapan maaf juga kiranya wajib saya layangkan untukmu. Meski penyesalan dan kata “maaf” tidaklah cukup untuk mengembalikan semua pada semula.

Saya menyesal, menyesal sekali melakukan tindakan tercela untuk dirimu itu, Ahok. Hanya karena ketidaksukaan semata, ditambah lagi dengan kedunguan saya yang hanya mementingkan diri dan golongan pribadi, saya rela menanggalkan akal sehat demi menjatuhkanmu. Akhhh.., betapa dungunya saya!

Tapi apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Pengalaman ini hanya bisa saya jadikan pelajaran berharga. Ke depan, sikap dan tindakan bejat seperti itu tidak akan pernah saya ulangi lagi. Saya berjanji, sebenar-benarnya berjanji.