Ketik untuk memulai pencarian

Lusmin Sebagai Media Informasi

Lusmin Sebagai Media Informasi

Foto: pixabay.com

Indonesia yang berkepulauan, teramat banyak tradisi-tradisi setempat yang mempunyai ciri khas sendiri untuk tetap menjaga keharmonisan setiap warga khususnya. Hal itu diperlihatkan sangat penuh keseriusan (dalam hal ritual keagamaan misalnya), dan ada pula yang dilakukan dengan penuh canda tawa setiap bersama (dalam hal gotong royong masyarakat). Tentunya budaya seperti ada di kampung saya!

Berbicara tentang kampung, saya punya dan saya berasal dari kampung cukup terpencil di tengah pulau Madura, namanya Bancek, di Desa Dempo Barat, Kabupaten Pamekasan. Yang terletak di bagian paling utara kabupaten Pamekasan, tepatnya juga dalam garis perbatasan antara kabupaten pamekasan dan kabupaten sumenep, itulah kecamatan pasean yang juga dikenal dengan daerah nelayan.

Tentang budaya dan tradisi, Bancek mempunyai khas tersendiri dalam menjaga kekompokan bermasyarakat, yang juga saya nilai sebagai keistimewaan, karena mempunyai keautentikan tradisi dan budaya lokal yang masih kental, bahkan sampai zaman posmodern sekarang ini, bisa dibilang juga tradisi dalam era globalisasi ini berjalan dengan tak menghilangkan arti dalam mengemban tradisi itu sendiri.

Follow Qureta Now!

Tradisi-tradisi yang sampai sekarang masih menjadi nilai plus atas kekompakan dan tetap berjalannya, seperti: solawatan, silaturrahmi di hari raya, tahlilan dan silaturrahmi lainnya yang tetap selalu dijaga antar saudara maupun tetangga, dan lain-lain. Ada yang menarik satu lagi dari tradisi kampung saya ini, ialah setiap sore menjelang magrib beramai-ramai ke masjid untuk salat berjemaah.

Mengapa saya sebut ini tradisi, karena memang yang dilakukan masyarakat itu sudah menjadi kebiasaan orang-orang sebelumnya dan menjadi daya tarik tersendiri pada zaman mereka saat ini. Menjadi keistimewaannya karena tetap kokohnya kebiasaan yang diemban yang sudah berjalan dari zaman ke zaman.

Kebiasaan sholat berjamaah ini, menumbuhkan rasa persaudaraan antar warga satu kampung.  Masyarakat setelah sholat maghrib tidak langsung meninggalkan masjid namun menunggu waktu saat sholat isya tiba (ada yang berzikir dan ada juga yang mengobrol asyik di luar masjid) dan salat bejemaah kembali, setelah itu yang lebih menarik lagi adanya obrolan yang asyik “seru” di antara para jamaah sholat maghrib-isya ini.

Obrolan asyik itulah yang membuat saya tertarik, di mana tradisi mengobrol setelah beribadah yang mereka lanjutkan sampai pada meja warung kopi (Lusmin “bahasa lokalnya”), menciptakan suasana cerah hubungan antarwarga kampung, dan yang menjadi suatu keheranan saya ialah selalu saja ada yang mereka obrolkan ketika berada di Lusmin tersebut, itupun banyak forum didalam satu tempat, yang berbicara entah sama ataupun berbeda topiknya.

Lusmin (Warung Kopi) di kampung saya memang menjadi tempat berkumpul kedua setelah salat jemaah di masjid, hanya perbedaanya, kalau di masjid itu untuk ibadah secara berjamaah dan kalau di Lusmin mereka mengobrol dan saling tukar pikiran secara bebas di sana. Yang perlu disadari juga Lusmin ini adalah tempat dimana informasi dan ragam berita tersampaikan, melalui satu dan setiap orang yg menyampaikannya.

Dan jelas, mereka yang sering ke Lusmin selalu mengetahui informasi-informasi baru yang terjadi di luar kampung dan bahkan secara nasional. Inilah media penduduk kampung saya yang masih minim benda-benda eletronik yang biasa mengakses informasi dari luar, seperti Handphone, TV, dan sebagainya. Sebagian yang punya, dan sering mengikuti perkembangan berita, dan juga suka ke Lusmin maka ia menjadi objek berita dengan bercerita.

Di samping kesibukan penduduk sebagai petani, selalu ada waktu untuk ngopi. Sepanjang yang saya amati ada beberapa waktu dalam sehari yang menjadi tradisi warga kampung saya, ialah pada: Pagi, Siang dan Malam. Dari ketiga jadwal ngopi tersebut, semuanya dimulai setelah melakukan salat dan atau setelah melakukan kewajiban keagamaannya, artinya hubungan antara Tuhan dan Manusia sangat diapresiasi.

Dan uniknya, di samping yang sering mengopi ini adalah dari kaum laki-laki. Dulunya itu, Lusmin didominasi oleh para golongan tua, antara umur 40-an ke atas kira-kira, dan jarang sekali anak muda yang ikut bergabung di dalamnya. Dan saat ini keadaan mulai berkembang, anak muda sudah mulai berbaur dalam perkumpulan di Lusmin itu sambil minum kopi, meski pun tak setiap hari seperti golongan tua.

Selain minum kopi, di Lusmin itulah tempat berkumpul dan mengobrol dengan tukar pikiran terhadap perkembangan sumber daya alam dan sumber daya manusia di kampung, pun, Lusmin menjadi media utama pengumpulan informasi dari dulu sampai sekarang. Mari Ngopi.!

Al Gazali

Mahasiswa aqidah filsafat UIN Jakarta, Penggiat Diskusi di Indonesia Culture Academy (INCA), PIUSH, FORMAD, Kader HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin & Filsafat (KOMFUF) dan Al-Falah in Campus (AF-IC), juga Penikmat Kopi

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016