54969.jpg
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/600x315/fc/a9/d9/fca9d93d2217349f472dcb2fc15ab6ac.jpg
Cerpen · 4 menit baca

Luka yang Menyembuhkan


“apa yang kau paham tentang paskah?”

“aku tidak paham tentang itu”

“apakah paskah itu baik untuk kita?”

“coba kau jelas dulu, kira-kira apa itu  paskah, sehingga aku bisa mengambil kesimpulan, apakah baik atau tidak.”

Dia pun diam.

“kita sudah lama di bodohi oleh gereja.” Suaraku secepat kilat mencungkil kepercayaannya yang sangat fanatik. Dia dilema habis oleh kata-kataku. Aku juga bingung, mengapa bibirku tiba-tiba mengatakan hal itu.

***

Lama sudah kami meramaikan sebuah perjumpaan  di beranda rumah itu. Rumah di mana semua orang berkumpul untuk mengais beberapa kebingungan yang tak pernah beranjak dari pikiran.

Satu menit sudah kita berlalu dalam hening yang genit, kemudian pamit kembali ke rumah. Membawa beberapa kebahagiaan yang muncul seketika dalam benak tanpa sebab.

Roda sepeda motor semakin cepat mengejar bayangannya sendiri meskipun tak pernah kesampaian. Penuh gembira kuposisikan pantatku duduk di atas sepeda motor sambil bernyanyi lirih dan menghitung banyaknya lampu yang memotret semua sisi kota, menghitung seberapa banyaknya mobil dan sepeda motor yang lalu lalang serta para pelancong yang lebih mencintai malam.

Beberapa menit kemudian, Sampailah kita di sebuah perempatan yang menolak kematian kita. Di sini kita di hajar, entah karena kelalaian kita mengendarai sepeda motor, tidak pandai mengatur kecepatan motor atau sedekah peringatan dari alam agar kita harus bertobat. Ini masa pra paskah. Aku kau tak mengerti tentang tragedi yang paling kejam itu. Kita sama-sama diam dan saling membantu membersihkan luka-luka dan darah kita yang tak pernah henti menjebolkan pori-pori kita yang sudah berserakan.

Di perempatan itu. Bulan engan memberikan sinar lembutnya, karena tangisan kita sudah menolak cahayanya agar orang-orang yang datang membantu kita tidak melihat jelas sinar mata kita yang masih normal. Ada di antara mereka bertanya, “apakah kalian mabuk?”

“tidak.”serentak mulut kita menjawabnya serta gelengan kepala kita yang memberikan isyarat lain agar semakin meyakinkannya bahwa kita tidak mabuk.

Dengan malu-malu, aku terpaksa menyalakan senter melihat jelas bagian sepeda motor yang selamat. Semuanya hancur. tidak ada secuil sisi pun yang luput dari kata pecah apa lagi retak. kembali ke dalam tubuh sendiri, melihat lengan baju yang robek, yang pasti lengan di dalamnya juga ikut luka.

Luka di lengan kanan membuatku kaku. Mandi pun tak bisa, menulis juga tidak boleh terlalu lama karena terlalu sakit. Tangan kanan adalah tangan yang terbilang sangat aktif disetiap aktivitasku. bagaimana kabar dunia kepenyairanku sekarang, puisi-puisi tak beranak lagi, meskipun kematiaan yang menolak kami di malam kelabu itu merupakan salah satu pusat inspirasi sajak-sajak bersuara, namun apa daya tangan yang menguasai jejak lautan tinta tak mampu mengarahkan kata lagi.

Satu lagi, hal yang paling menyedihkan, aku terpaksa menjadi ateis untuk sementara waktu, karena tidak bisa melakukan tanda salib. Iya, kalau boleh protes, mengapa tanda salib harus pakai tangan kanan, apa lagi dalam keadaan darurat seperti ini. Bukankah semua sisi tubuh manusia diciptakan sesempurna mungkin oleh yang kuasa dan kita tidak pantas melakukan diskriminasi di antara mereka. Namun untuk menjaga kesakralan Katolik aku memilih diam, entahlah apa kata orang tentang aku yang tidak menyebut dan melakukan tanda salib dalam perayaan Ekaristi. Semua opini dari luar adalah kebutuhan sekunder yang harus diperhatikan setelah kebutuhan dalam diriku sendiri terobati.

***

Beberapa hari sudah berlalu, luka di tangan belum juga sembuh. Aku meminta bantuan tetangga kost, kira-kira obat apa yang tepat untuk menyembuhkan luka semacam ini. Beberapa di antara mereka menyebut kunyit sebagai ramuan yang sangat mujarap untuk luka seperti ini.

Aku langsung mencobanya, sesuai dengan instruksi dari mereka. Namun tetap saja tak teratasi. Apa yang harus aku lakukan, akankah aku harus menunggu saja sampai kulitku bekerja sendiri untuk merampungkan luka yang mencecerkan kulitku.

***

Di depan sebuah rumah, orang-orang saling memandang, lagi antre menunggu kesempatannya untuk berobat. Itu adalah rumah pendoa yang katanya mendapat rahmat dari Bunda Maria.

“di kota ini semua warga mengenal oma maria.”

“tidak ada seorang pun yang tidak mengenalnya. Berkat kemampuannya yang sangat teruji dia mendapat sertifikat kesehatan dari rumah sakit umum.”

“rumah ini saja sumbangan dari dinas kesehatan agar mampu menampung pasien yang lagi antre seperti kita sekarang ini.” Kata Aldy, berusaha menjelaskan tentang latar belakang oma Maria.

Aldy adalah teman sebayaku yang penuh perhatian dan juga teman goncengku yang sama-sama jatuh kemarin. Ia yang membawaku di tempat ini untuk berobat.

Matahari sudah lurus di kepala, bayangan tubuhku tak terbaca lagi. Tibalah saatnya giliranku untuk berobat.

Dengan penuh hati-hati langkahku pelan memasuki ruangan yang biasa-biasa saja seperti di rumah kebanyakan orang. Namun dari kesederhanaan inilah tumbuh penyesalanku yang paling dalam. Penyesalan ini hadir setelah luka di tangan ini dilihat oleh nenek maria.

“nak, jangan menyebut nama Allah tidak dengan hormat. Luka itu bukan pemberian alam, namun pemeberiaan sang malaikat pencatat kejahatan.”

“semua itu bermuara dari kelalaianmu pada lidah yang tak bertulang itu. Jagalah lidahmu baik-baik untuk mengobati luka itu.”

Aku tertunduk malu. Penuh penyesalan kupulangkan ingatanku di tempat pertemuan kemarin. Teringat jelas ucapanku yang mengkhianati Tuhan, yaitu kita sudah lama dibodohi oleh gereja.

“nak, lukamu tidak bisa diobat dengan ramuan duniawi. Pergilah ke gurun pasir yang gersang, di sana lukamu bertambah pedih karena tenggorokanmu kering, perutmu lapar tak terisi, apa lagi lukamu tak terobati lagi.”

“namun, satu hal yang perlu kau tahu bahwa Kristus itu menanggung dosa kita dengan berusaha mencintai penderitaannya sampai ia menang di gunung Golgota.”

“pergilah sekarang, firman dari surga akan menyembuhkan lukamu di sana saat kau harus belajar mencintai lukamu sendiri.”

“Terima kasih oma Maria, ini adalah luka yang menyembuhkan. Menyembuhkan diriku dari kehancuran iman.” Pintaku dengan penuh rendah hati, sambil pamit dan langsung angkat kaki, membiarkan pasien lain memasuki ruangan yang menobatkan diriku.