81535.jpg
Info · 2 menit baca

Lomba Esai: Konflik dan Krisis Kemanusiaan

Dewasa ini, dunia kita seperti sedang menghadapi apa yang disebut penulis India, Pankaj Mishra, sebagai abad kemarahan (age of anger). Ada banyak gesekan dan ketegangan yang berujung konflik, baik di tingkat lokal, regional, maupun global.

Di tingkat global, gejala populisme dengan propaganda-propaganda berbasis sentimen primordial sedang mengalami pasang naik. Terorisme dapat mengancam negara mana saja.

Di Eropa, ketegangan di Ukraina masih membara. Timur Tengah masih menjadi medan perang proxy yang melibatkan banyak pihak, baik di Suriah, Irak, maupun Yaman. Sudah enam tahun perang berkecamuk dan tak kunjung reda. Sudah begitu banyak pula korban harta dan nyawa.

Konflik dan ketegangan di Timur Tengah juga punya kecenderungan menjalar ke kawasan lain macam Asia Selatan ataupun Asia Tenggara. Di Asia Selatan, Afghanistan, dan Bangladesh masih menghadapi berbagai ketegangan dan tak kunjung stabil. Di Asia Tenggara, konflik masih berkecamuk, baik di Myanmar, Filipina Selatan, maupun Thailand Selatan. Perebutan kota Marawi di Mindanao medio April lalu oleh IS-Ranao juga membuat situasi kian rumit.

Saat ini, Indonesia memang tak lagi mengalami konflik komunal sebagaimana di permulaan era Reformasi 1998. Namun, berbagai ketegangan di tingkat nasional maupun lokal masih mewarnai kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Narasi-narasi konflik masih menghantui dan membuat kita makin waswas akan keberlangsungan kehidupan masyarakat majemuk secara harmonis.

Semua ketegangan atau konflik di atas tentu punya konsekuensi-konsekuensi kemanusiaan. Jatuhnya banyak korban harta dan nyawa, misalnya. Juga munculnya gelombang pengungsi dalam negeri (internally displaced people) atau ke luar negeri (migrant) yang tak jarang pula memicu krisis kemanusiaan dan problem-problem baru di tingkat global maupun nasional.

Nah, demi mencermati fenomena di atas dan dalam rangka memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus, Qureta dan ICRC mengundang Anda untuk menulis esai seputar isu ini.

Apa faktor-faktor pemicu ataupun mekanisme yang dapat meredam terjadinya krisis kemanusiaan? Apakah hukum dan norma-norma lokal maupun global sudah cukup memadai untuk menghadapi konflik terkini? Seberapa gawat problem migrasi dan problem baru yang menyertainya? Apa yang bisa kita perbuat untuk mencegah konflik dan membantu korban?

Jika Anda punya renungan, riset, ataupun studi seputar konflik dan krisis kemanusian, segera kirimkan tulisan Anda untuk memenangkan Lomba Esai ini.

Tema Utama

Konflik dan Krisis Kemanusiaan

 

Topik-Topik:

  • Sebab-sebab Pemicu dan Peredam Konflik
  • Peran Agama dalam Konflik dan Kemanusiaan
  • Aspek Hukum dan Kemanusiaan dalam Konflik
  • Pengelolaan Konflik dan Masalah Hak-Hak Asasi
  • Konflik dan Problem Migrasi Masa Kini
  • Konflik Regional dan Pengaruhnya terhadap Situasi Nasional
  • Hukum Adat dan Konflik Komunal

Ketentuan dan Panduan

Jadwal Lomba:

  • Lomba dimulai pada 1 Agustus 2017 dan berakhir pada 15 September 2017.
  • Nama-nama finalis akan diumumkan di web Qureta seminggu setelah penutupan lomba.
  • Seluruh finalis akan diundang menghadiri Malam Penghargaan Lomba Esai ICRC-Qureta pada 26 September 2017.

Kriteria Penilaian

  • Kesesuaian dengan tema.
  • Orisinalitas alias tidak menjiplak.
  • Kualitas dan gaya bahasa.
  • Kreativitas atau cara penyajian isi tulisan.
  • Keputusan juri tidak bisa diganggu-gugat.

Hadiah

Total hadiah Lomba Esai ini adalah Rp. 15.000.000,- yang akan dibagikan dengan komposisi berikut:

  • Juara 1: Rp. 5.000.000 + trofi + sertifikat + merchandise
  • Juara 2: Rp. 3.000.000 + trofi + sertifikat + merchandise
  • Juara 3: Rp. 2.000.000 + trofi + sertifikat + merchandise
  • 5 nominasi terbaik akan mendapatkan masing-masing: Rp. 1.000.000 + trofi + sertifikat + merchandise

Informasi lebih lanjut:

  • 081228891289 (Nash)
  • 081293399633 (Bintang)
  • blogs.icrc.org/Indonesia