49951.jpg
Tabloidbintang.com
Perempuan · 4 menit baca

Langkah Kiri Kartini


Armijn Pane, Dalam pengantarnya di “Habis Gelap Terbitlah Terang” terbitan Balai Pustaka (1983), memberikan sebuah pengantar yang cuplikannya berbunyi; “Kartini seorang pengangan-angan, yang banyak menaruh cita-cita, dia seorang yang banyak memandang ke dalam. Di situlah dunianya. Masyarakat manusia penuh dengan barang yang buruk dan kotor, dan karena hendak menjauhi itu, banyaklah dia membaca buku, melayang di dunia angan-angan. Apa yang berat dilihatnya, apa yang kurang adil di dunia luar, apa yang menyedihkan hatinya, diperjuangkannya di dalam dirinya. Senang dia menggali-gali luka-luka jiwanya.”

Masih pengantar Armijn Pane, Kartini pada mulanya mencaci agamanya dan adat istiadatnya, mukanya selamanya dihadapkannya ke arah Barat. Kemudian berubah juga, kemudian dipandangnya adat istiadatnya dan pikiran-pikiran yang terkandung dalam bangsanya ada juga baiknya. Jiwa Kartini pada mula-mulanya berontak, cita-citanya hendaklah dengan segera berlaku, lambat laun dia menjadi sabar dan tawakkal. Perasaan sabar dan tawakkal itu timbul karena banyaknya alangan yang dilihat dan dirasainya. Cukuplah buat dia jika dia cuma pembuka jalan saja, orang lainlah nanti yang meneruskan, malahan pada akhirnya katanya, “akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia Bumiputra; kalau bukan karena kami, tentu oleh karena orang lain.” (Surat kepada Nona Zeehandelaar 9 januari 1901).

***

Sudah menjadi rahasia umum pula, bahwa Raden Ayu Kartini adalah seorang pemberontak zaman. Ia banyak menuntut keadilan akan hak saat itu. Tentu, hal ini adalah sebuah gerak-gerik yang sangat ditabukan oleh setting budaya, yang pada akhirnya banyak mendapat cemooh. Bagaimana pula bentuk cemoohan itu? Kalau membaca surat-suratnya, kita boleh menduga, apa yang dilakoni Kartini dulu serupa tapi tak sama dengan yang dilakukan Awkarin pada zaman ini; muda, memberontak adat, kebarat-baratan, energi meletup-letup, rindu kebebasan, yang kemudian memanifestasikannya dalam karya, yang akhirnya kita asu-asu-kan bersama.

Kalau saya boleh mendakwa, Awkarin dengan caranya sendiri telah menjadi salah satu simbol perempuan zaman ini yang sudah teraliri darah muda Kartini. Kalau di kehidupan yang terus bergulir ini Awkarin punya kesadaran yang sama dengan jalan hidup Kartini, bukan mustahil Awkarin akan juga harum namanya berabad-abad mendatang. Walau memang, simplifikasi semacam ini tidak bisa dibenarkan, toh, tak ada salahnya, itung-itung kita berdo’a buat Dek Awkarin agar mau bergerak sebagaimana dilakukan R.Ay Kartini, biar dicontoh adek-adek lain. Kamu juga bebas tidak setuju dengan pendapat ini. Kamu bebas memaknai perjuangan R.Ay Kartini sebagaimana yang umumnya telah disepakati sejak zaman Soeharto; Pesta kebaya dan sanggul, kontes kecantikan, lomba memasak, dan aneka ria kosmetika politis yang semakin menjauhi substansi Kartini.

Tentu, kompas perayaan 21 April esok tak bisa lepas dari cara Orde Baru menafsir seorang Kartini. Ia direpresentasi sebagai ‘wanita’ anggun, pesolek nan gemulai, yang tidak lepas dari aturan-aturan. Apalagi sebagai orang Jawa, Soeharto tak segan menyebut Kartini sebagai ‘wanita’, yang dalam jarwa doso/garba –sub bab pelajaran sastra jawa– terdiri dari kata ‘wani’ dan ‘nyuwita’. Wani berarti berani, nyuwita (suwita) berarti mengabdi, seperti pernah dikemukakan Herman Sinung Janutama dalam sebuah diskusi Salihara.

Berani mengabdi? Sebagai orang Jawa, tentu Soeharto sangat memahami arti kata ‘wanita’ ini, sebagaimana ia kemudian mulai memakainya dalam kabinet pembangunan jilid III tahun ‘78, ketika ‘Kementrian Muda Urusan Peranan Wanita’ yang diketuai Ny. L. Soetanto, S.H dibentuk. Sebagaimana pula ia memperhalus kata ‘Lonte’ menjadi ‘Wanita Tuna Susila’.

Ada konstruksi sosial khas masyarakat patriarkis yang secara tidak langsung menyiratkan pemahaman tentang kekuasaan, kepemilikan, eksistensi dan dominasi laki-laki dalam kata ‘wanita’. Ada pengkondisian dan polarisasi antara laki-laki dengan selain laki-laki.

Dalam hal ini Simone de Beauvoir menyebut, bahwa wanita dibentuk sebagai ‘other’ bagi laki-laki, sedang laki-laki merupakan 'self', sang subjek, sang absolut. Sejak dalam masyarakat paling primitif dan dalam mitologi paling kuno, orang bisa menemukan ekspresi dualitas ini: self/other. Kualitas yang dikotomis ini intrinsik dalam mitos feminitas abadi yang diletakkan pada wanita.

Sejak zaman Soeharto, penggunaan kata itu tidak pernah digugat. Baru pada era Gus Dur, pemakaian kata ‘wanita’ perlahan mulai berubah menjadi ‘perempuan’, ditandai dengan berdirinya Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan, diketuai Khofifah Indar Parawansa.

Perempuan, yang dalam tradisi Jawa berakar dari kata ‘Empu’. Empu, yang kadang diartikan sebagai sang pembuat, kadang sang asal kehidupan, atau kadang sang awal mula, sang pemilik rahim. Tentu, ini angin segar untuk memaknai ulang apa yang pernah diperjuangkan oleh Kartini dan para perempuan pemberani lain di masa penuh angan-angan dulu. Posisi tawar kaum hawa dengan diulang-ulangnya penggunaan kata perempuan menjadi lebih tinggi.

Tapi lucunya, dari tahun ke tahun tradisi dan perayaan 21 april yang sangat ‘wanita’ warisan Soeharto itu belum berubah sampai saat ini. Perempuan yang esok hari idealnya berteriak lantang menuntut apa yang diperjuangkannya, masih berdiri dengan persepsi yang sama, wani nyuwita marang Kartono ….

Jadi ladies, kalau besok kamu update foto pakai sanggul kebaya, atawa ikut-ikutan lomba masak dan kontes cantik-cantikan, kamu itu merayakan apa???

Mbok ya itu, berjuang jualan online shopnya diterusin aja ....