Ketik untuk memulai pencarian

Labuan Bajo dan Eksistensi Firaun

Labuan Bajo dan Eksistensi Firaun

Pantai Pede - Labuan Bajo - Foto diambil dan diedit oleh penulis sendiri

Di Facebook sedang ramai, orang-orang berlomba menyatakan eksistensi atas tanah airnya. Menyenangkan bahwasanya muda-mudi berkantung dua digit mulai menyadari keindahan Ibu Pertiwi ini. Minimal 5 provinsi telah disinggahi, entah berlibur atau sekaligus melakukan perjalanan dinas, setidaknya sudah mengenal Indonesia.

Orang bilang tanah kita tanah surga, tombak batu dan kayu jadi tanaman

Penggalan lagu koes-plus itu benar-benar telah dibuktikan sendiri oleh mata kepala setiap orang yang memberi icon "love"heart atau "smile"smiley di setiap nama provinsi - di postingan facebooknya. Semangat cinta tanah air digaungkan melalui persaingan eksistensi.

Semangat bekerja, vakansi, berkumpul dengan keluarga, atau penguatan masyarakat seolah dikesampingkan, demi pembuktian akan tanah dan air di negeri ini sedikit demi sedikit telah kita cicipi. Dampaknya menjadi besar terhadap pengakuan sosial di ruang-ruang pergaulan.

Syukurnya, kita benar-benar memposisikan Indonesia sebagai rumah (tempat pulang) besar yang memiliki banyak ruang untuk langsung dinikmati dan sangat membanggakan. Tinggal pilih perkotaan, perbukitan, lautan, salju sekalipun ada untuk dijadikan latar demi sebuah bukti gambar, karena kalau No Pic pasti Hoax bukan?

Tapi kita luput tentang makna sebuah rumah yang tidak akan menjadi tempat pulang tanpa roda keseharian di dalamnya. Putaran roda itu dihidupi oleh manusia-manusia yang tidak butuh sekedar simbol cinta atau senyuman pembuktian bahwasanya kita bisa pulang bahkan membawa uang.

Follow Qureta Now!

Lebih dari persaingan eksistensi, pulang seharusnya menjadi waktu di mana kita semakin mengenal. Nilai-nilai yang dipertahankan dan baru kita temukan idealnya menjadi perbincangan di ruang-ruang pergaulan. Jangan sampai dilupakan bahwa tombak, batu, dan kayu itu tumbuh hidup beriringan dengan para pemutar roda keseharian.

Jika rumah ini pada akhirnya hanya menjadi akselerator pengakuan sosial, maka tidak hanya Labuan Bajo, hampir semua tempat di Indonesia akan mengalami hal yang sama.

Di Labuan Bajo, hampir semua wisatawan yang turun dari pesawat langsung di bawa ke kapal untuk hidup melaut, menikmati alam, mengumpulkan bukti-bukti eksistensi atas tanah air, dan mengajak semua bangsa untuk turut hadir ke pulau ini. Rasa bangga dan memiliki Ibu Pertiwi disebarluaskan merata ke penjuru bumi melalui ruang-ruang sosial digital.

Dampaknya, rumah tempat kita pulang ini kehilangan identitas. Saya tidak menemukan rumah makan khas Labuan Bajo, baju adat yang lalu lalang di daerah ini hanya bikini dan sendal jepit. Euforia terhadap keindahan ruang-ruang di Indonesia perlahan kita bawa menyelam ke dalam ego itu sendiri bersama keindahan bawah laut di kepualauan komodo ini.

Dekat dari pelabuhan (titik start para turis berpsesiar), ada sebuah goa bernama Watu Cermin yang - menurut arkeolog dari belanda - pernah terendam air laut selama bertahun-tahun. Dibuktikan dengan banyaknya fossil hewan laut yang menempel di dinding-dinding goa.

Peradaban bawah laut di goa ini dilestarikan oleh masyarakat sekitar dan pemerintah daerah. Sayangnya belum banyak wisatawan yang melihat hal ini sebagai satu dari banyaknya keindahan alam. Padahal dari cerita yang didongengkan juru kunci di Goa ini, banyak nilai-nilai leluhur yang bisa kita dapat dan membawanya ke dalam ruang-ruang pergaulan. Misal tentang para leluhur yang pergi bertapa ke goa ini untuk mencari kekuatan, karena mereka percaya:

sumber dari kekuatan itu sendiri adalah menyepi dan berdamai dengan diri sendiri.

Watu Cermin tidak menjadi pilihan terbaik untuk para wisatawan. Karena ada trend yang lebih besar bertajuk "Living on Board" di Kepulauan Komodo. Trend itu kemudian menggerus nilai-nilai masyarakat yang bisa kita bawa pasca berlibur panjang.

Sama seperti fenomena di facebook saat ini, kita cenderung bergeliat ketika kefanaan itu dibungkus oleh persaingan eksistensi, kita lupa bahwa ada nilai kehidupan yang berjuang melawan arus zaman. Kita lupa bahwa roda keseharian ini tetap dapat terus berputar tanpa kefanaan eksistensi.

Alam Indonesia hadir dan tumbuh dari zaman firaun belum eksis, kita mau jadi lebih eksis dari firaun? Siapa kita?

Walgita Anderpati

Pecinta aksara yang ogah menjadi jurnalis

Comments

Damianus Febrianto Edo's picture
Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016