Ketik untuk memulai pencarian

Kualitas Pikiran Kita

Kualitas Pikiran Kita

Foto: Pixabay

Kualitas pikiran seseorang diukur bukan dari seberapa banyak gelar yang ia dapatkan atau seberapa banyak sertifikat penghargaan yang ia kumpulkan. Kualitas pikiran seseorang diukur dari seberapa total penghayatannya terhadap kehidupan.

Hakikat kehidupan adalah mengerti dan memahami. Kita boleh mendefinisikan diri kita sebagai apa. Tapi tanpa pemahaman yang luas terhadap hakikat keapaan yang kita definisikan tadi, kita hanya akan menjadi orang-orang kebanyakan yang terlalu (sok) serius tetapi malah terlihat lucu dan menggelikan.

Memang pada dasarnya dalam hidup ini lebih banyak orang yang menjadi orang banyak. Lihat saja sejarah peradaban manusia, selalu perubahan besar dimotori oleh hanya satu dua orang. Embrio revolusi selalu lahir dari satu dua kepala yang kokoh menancapkan diri ke dasar lautan tanpa digerus oleh gelombang kerumunan masyarakat yang berbuih-buih tanpa nalar yang sehat dan hanya mengenal taat.

Follow Qureta Now!

Memahami berarti mengetahui inti. Mengerti berarti mampu menerjemahkan sesuatu sesuai arti. Kalau hal-hal seperti itu tak kita kuasai maka keyakinan yang kita miliki hanya akan membuat kita menjadi fanatik, mudah marah, meledak-ledak, suka menghakimi, membenci, arogan, dan yang paling menonjol: merasa paling benar sendiri.

Kualitas pikiran itu terlihat dari seberapa keras seseorang menggali nilai dari ketekunannya mengolah data, informasi, pengetahuan yang ia butuhkan. Bukan asal salin-tempel setiap informasi dan opini yang berlalu-lalang di depan matanya. Bukan asal meneruskan dan membagikan setiap postingan (media sosial) di dunia maya yang malah mengakibatkan keriuhan di dunia nyata.

Astronom Karlina Supelli dalam salah satu ceramahnya berkata, "Pengetahuan yang tidak lengkap dan pandangan yang bias [akan] membuat penalaran menjadi timpang."

Penalaran yang timpang inilah yang membuat kita lebih cenderung mengonsumsi data-informasi-pengetahuan yang hanya kita sukai, bukan yang sebenarnya kita butuhkan. Sehingga lelaku sosial kita hanya menambah kebisingan, bukan memberikan kesejukan.

Kita menyebut diri sebagai penganut ajaran rahmat untuk alam semesta, tapi ketimpangan nalar membuat kita menjadi rendah, hina, dan nista. Sehingga kita lebih sibuk mengurusi pihak berbeda yang kita anggap menista, menghina, dan melecehkan diri kita ketimbang menunjukkan kemuliaan dan keilahiaan diri kita dengan mengolah rahmat Tuhan tadi menjadi berkah, keselamatan, dan kedamaian bagi sesama manusia dan seisi alam semesta.

Kualitas pikiran diukur dari keluasan sudut pandang terhadap suatu masalah, bukan banyaknya tumpukan pembenaran atas suatu fatwa. Maka untuk mengasah kualitas pikiran, mula-mulanya kita mesti keluar dari gelombang konformitas dan berani berkata tidak pada groupthink. Kualitas pikiran menjadi baik apabila nalar dididik mandiri, tidak latah terhadap suara kebanyakan dan tidak mendogma terhadap perintah "atasan".

Maka kita membutuhkan pendidikan yang baik. Agar kemampuan pikiran kita terjaga dan nalar sehat kita terawat. Maka untuk meningkatkan kualitas pikiran, dibutuhkan peningkatan kualitas pendidikannya. Sebab kita tak bisa pungkiri itu, kompetensi kualitas pikiran masyarakat kita sedang sekarat. Pendidikan perlu hadir untuk membuatnya kembali sehat.

Dan kalau berbicara soal pendidikan maka kita tak bisa melepaskan diri dari kemajuan teknologi komunikasi, internet, media sosial, koran cetak dan daring, dan yang paling utama: televisi---yang di zaman sekarang, sadar tak sadar, menjelma sebagai pendidikan paling primer masyarakat kita.

Kalau kita tidak serius memikirkan simtom teknologi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kebudayaan kita ini maka kemungkinan besar risikonya adalah kita akan melahirkan sebuah bangsa baru yang disatukan oleh dan karena kebencian, fitnah, egoisme, intoleransi, arogansi, diskriminasi, rasisme, chauvinisme, mayoritarianisme, kepengecutan, penipuan, kepalsuan, dan sebagainya, dan seterusnya ... sila lanjutkan sendiri.

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016