5196480879sunyi.jpg.jpg.jpg
Ilustrasi: mediaindonesia.com
Pendidikan · 4 menit baca

Krisis Sunyi

Kita seperti orang yang tidur di atas matras berisi udara, dan udara tersebut keluar secara perlahan. Begitu lambatnya hingga nyaris tak terdengar, sampai kepala Anda menyentuh lantai. Sesudah itu, sangatlah sulit untuk menggembungkan kembali matras tersebut. Itulah krisis sunyi. ~ Shirvey Ann Jackson, Presiden American Association for the Advancement of Silence 2014.

Globalisasi sedemikian membawa pengaruh kepada umat manusia. Kemajuan sangat terasa di sekeliling kita, pun kemunduran ada di mana-mana. Bagaimana tidak? Teknologi informasi banyak sekali memudahkan kita melakukan berbagai aktivitas.

Anda pasti merasakannya melalui gadget yang Anda genggam. Tetapi kepekaan, kepedulian, kemanusiaan, dan nurani semakin krisis. 

Anda boleh jadi tidak menyadari karena pada umumnya kita memilih kenikmatan ketimbang bersusah payah berusaha apalagi memikirkan orang. Jika setuju dengan yang saya tuliskan, berarti kita adalah orang-orang yang harus mengakhiri krisis sunyi ini.

Kita merasa senang bergabung di dalam komunitas di dunia maya. Kita merasakan kita semakin berdaya. Kita mulai menganalisis berbagai hal. Ikut mencampuri urusan politik hingga bencana dunia. Kita berkomentar. Kita menuntut. Kita merasa paling benar!  

Namun, kita tak sadar bahwa ada komunitas lain yang penuh kebencian menghabiskan waktu tahunan untuk membunuh orang tak berdosa sebanyak mungkin. Kelompok kecil yang bumbui teror dan bermodal internet dapat bertindak besar dan menciptakan bahaya terhadap ketentraman tanpa instrument negara. 

Ya, di internet, tidak ada yang tahu bahwa saya atau dia itu anjing.

Menuju Harmoni

Benarlah adanya dunia ini tak bisa sedamai surga. Ada banyak gesekan dan ketegangan yang berujung konflik, baik di tingkat lokal, regional, maupun global. Indonesia dan Malaysia adalah contohnya. Konflik-konflik perbatasan sering menghampiri. 

Terakhir kali, yang memicu konflik netizen adalah insiden terbaliknya bendera Indonesia dalam buku panduan SEA Games 2017 di Malaysia. Aksi netizen serang akun resmi SEA Games 2017 Malaysia adalah salah satu bukti abad kemarahan (age of anger) sedang melanda kita. 

Kita mengalami krisis belas kasih dan pengampunan sehingga amarah mudah merasuki. Apakah mental seperti ini yang akan kita wariskan kepada anak cucu nanti?

Saya mengenang sosok Bin Laden. Ia tidak dapat menunjukan mukanya di mana-mana kala itu. Namun, ia dapat menjangkau setiap rumah di dunia berkat internet. Bin laden tak dapat menguasai satu wilayah, tetapi dai dapat menguasai imajinasi jutaan orang. 

Hemat saya, kemarahan, kebencian, bahkan kekerasan semakin mudah tertular melalui internet dan media sosial. Sungguh sangat disayangkan orang-orang yang menyalahgunakan kemajuan teknologi informasi.

Hendaknya kita tidak menjadi sebatang korek api yang dilemparkan ke dalam tumpukan kayu yang telah disirami bensin. Melainkan kita menjadi titik-titik air yang berkumpul membentuk hujan dan menyirami kobaran api yang ada. 

Seperti yang pernah ditulis oleh Albert Einstein,”Keluar dari ketidaktentraman, menemukan kesederhanaan. Keluar dari konflik, menuju harmoni. Di tengah kesulitan, terletak peluang.” Budaya lisan dan tulisan hendaknya menyebar kedamaian.

Nyalakan Nurani

Manusia-manusia kosong adalah julukan yang tepat untuk manusia yang kehilangan hati nurani. Namun, apa mungkin hati nurani itu hilang? Kita tahu, hati nurani dapat kita katakan sebagai suara Tuhan yang tinggal dalam diri manusia. Artinya, hati nurani tak pernah hilang. 

Hati nurani mengalami ketumpulan karena manusia tak lagi mampu mengasahnya. Ia hilang karena terkikis arus globalisasi yang menawarkan kemewahan, kefanaan, dan kenikmatan sesaat. 

Bila kondisi ini terus bertahan, cepat atau lambat ‘kobodohan nurani’ akan terjadi pada generasi muda kita. Otak boleh cerdas, keahlian beragam, tetapi kepribadian mulia tetap dangkal dan tenggelam seiring harapan lingkungan terhadap prestasi akademik serta terpaan arus globalisasi yang tidak jarang berdampak negatif pada perilaku anak. 

Nurani yang semakin gelap dapat membuat orang semakin tidak peduli dengan keadaan sesama. Berlakulah hukum rimba: siapa yang kuat, dialah yang menang. Sebuah peradaban yang dangkal. Dua hal yang menyebabkan tumpulnya hati nurani, yaitu lingkungan yang tidak sehat dan ketidakmampuan manusia untuk mengasahnya.

Hati nurani merupakan salah satu kunci kita untuk menghadapi bagaimana kuatnya arus globalisasi yang menerjang Indonesia yang juga pasti berakibat kepada dunia pendidikan kita.

Oleh karena itu, jika sejak awal kita sudah dibekali oleh kekuatan hati nurani yang bersih yang sebenarnya memang sudah kita miliki sejak lahir, maka kita sebenarnya tidak usah takut menghadapi berbagai ancaman yang datang lewat arus globalisasi tersebut. Yang kita lakukan hanyalah dengan berkeyakinan teguh dengan apa yang kita miliki dengan hati nurani sebagai dasarnya. 

Senada dengan yang dikatakan Wiranto dalam siaran pers yang diterima saat acara Seminar Nasional Pendidikan Karakter, “Jika manusia mampu berpikir dan berekspresi sesuai dengan hati nuraninya, bisa dipastikan akan muncul perilaku yang sesuai pula dengan hati nuraninya, kemudian muncul kebiasaaan dan akhirnya akan menjadi karakter yang berhati nurani.”

Untuk menghindarkan generasi dari perkembangan sifat dan sikap yang tanpa nurani, maka salah satunya tak ayal adalah pendidikan “hati nurani” sedini mungkin pada mereka. Dan ini mutlak harus didukung oleh sistem pendidikan kita. 

Jangan sampai pemahaman akhlak ini hanya sebatas lingkup keluarga saja. Lingkungan dan sekolah pun harus turut mendukung terciptanya nilai-nilai akhlak yang luhur pada anak melalui suatu kurikulum yang terintegrasi.

Generasi bangsa yang beriman, cakap, berhati nurani benar, dan berbela rasa sesungguhnya tantangan terhadap keinginan dan keteguhan kita, bukan kemampuan kita. Jalan panjang menuju hidup nan damai itu ada. Krisis sunyi akan segera berakhir. Semoga.

#LombaEsaiKonflik