48834.jpg
Hiburan · 2 menit baca

Koh, Gus dan Bung


Pria gagah itu tertidur pulas beralas tikar dengan seragam narapidana. Hidup tak pernah bisa ditebak sehari yang lalu dia masih menggunakan seragam abdi negara dan tidur pulas di ranjang rumahnya.

Dalam tidurnya, merekah sebuah mimpi. Ia seakan berada di sebuah ruang yang tak pernah dia datangi. Tapi di sana ia bertemu dengan sosok yang dikenalnya.

"Gus?" ujar pria itu.

Sosok yang dipanggil "Gus" tersebut tertawa, sambil kembali menyapa, "Apa kabar Koh?"

"Capek Gus. Banyak masalah. Hari ini saja aku divonis bersalah sebagai penista agama. Padahal apa yang aku bilang adalah apa yang Gus ajarkan padaku waktu di Babel Gus," curhat si Koh.

"Hahahaha.." Gus hanya tertawa.

"Aku sudah kalah di pilgub dan sekarang di vonis Gus. Habis sudah karirku Gus."

"Gitu aja kok repot Koh," ucap Gus datar sambil dilanjutkan dengan tawa.

"Sudah kubilang Gus, bangsa ini belum cukup dewasa menerima orang keturunan beragama kristen untuk jadi pemimpin Gus. Tidak ada tempat bagi orang seperti kami Gus!"

"Hai Anak Muda!" Seorang Lelaki gagah memasuki ruangan. Wajahnya tidak asing lagi. Semua Bangsa Indonesia pasti mengenalnya.

"Bung?"

"Hai Anak Muda! Kerna ucapan dan pemikiranku aku dibuang ke pelosok negri ini. Kerna ucapan dan pemikiranku aku dijadikan narapidana. Tapi aku yakin ucapan dan pemikiranku benar dan tak akan mampu dikekang jeruji besi."

Si Koh masih terdiam melihat si Bung menasehatinya dengan penuh karisma yang terpancar.

"Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara Pancasila. Kau memiliki hak yang sama dengan setiap manusia di negri ini."

"Tapi Bung, aku hanya minoritas, si kafir, dan mereka membenciku."

"Anakku. Jika saja para pemuda saat aku berjuang berpikir demikian, maka Indonesia tidak mungkin ada!" bentak Bung.

"Sudahlah.." Tiba-tiba Gus berbicara. "Aku pun pernah merasakan hal yang sama. Tapi sekarang berbeda. Ada ribuan bunga dari yang mencintaimu. Ribuan lilin yang ingin selalu menyalakan semangatmu. Dan ribuan balon yang membawa doa-doa mereka ke angkasa. Jangan sia-siakan harapan mereka padamu."

Si Koh tersungkur. Bung mendekati,menjulurkan tangan. "Bangunlah anak ku. Negri ini merdeka untuk setiap orang di dalamnya, termasuk untukmu. Jadilah apa yang kau mau. Buatlah ibu pertiwi bangga. Jangan biarkan jeruji besi membatasi dirimu!"

Si Koh bangkit

"Ingatlah anakku, Perjuangamu akan lebih sulit melawan bangsamu sendiri!" ucap Bung sambil menatap mata si Koh.

Dari sudut tampak Gus yang duduk sedang tertawa kecil melihat si Koh kembali tersenyum.