55507.jpg
Diambil dari fanspage FB Yayasan Pondok Pesantren Sirojul Athfal
Agama · 6 menit baca

Kiyai Kampung dan Ustadz Medsos

Abah saya adalah seorang kiyai kampung. Orang-orang biasa memanggilnya Apa Harun (panggilan tradisi sunda kepada yg sudah sepuh). Ayahnya KH. Mista (alm) allahumagfirlahu memberi nama Harun agar kelak anaknya dapat mengikuti jejak-jejak dakwah Nabi Harus As saat mengajak Fir'aun dan kaumnya untuk beriman kepada Allah SWT. Memang abah tak mempunyai nama panjang hanya nama tunggal saja (mononim). Saat saya memberi saran untuk melengkapi namanya. Abah tak mau dengar dengan dalih bahwa nama-nama orang sholeh dan para nabi itu sangat disukai oleh Rasulullah SAW.

Terlepas dari itu, abah habiskan hari-harinya itu dengan mengajar santri di pondok pesantren miliknya hingga melayani warga dengan berbagai hajat yg bermacam-macam. Mulai dari dimintai untuk memimpin doa ataupun mengisi ceramah dalam setiap acara.

Beliau jauh dari media, baik koran, media sosial apalagi televisi yg syarat akan pecitraan. Sangat jauh dari perkotaan dan "pusat-pusat peradaban". Meski begitu, beliau memiliki kearifan yg kadang tak dimiliki para aktivis dakwah sekarang.

Suatu ketika, abah saya diminta untuk menghadiri dan mengisi ceramah dalam acara al-walimatu al-ursy (pernikahan) salah satu alumninya. Sekedar informasi pesantren abah saya dengan nama Pondok Pesantren Sirojul Athfal Itu sudah berdiri selama 41 Tahun dan memiliki ribuan alumni di setiap pelosok negeri. Kebetulan saat beliau hendak mengisi ceramah, saya ikut mengantar bersama salah satu santrinya yg menjadi pengurus untuk menemani dan menghadiri abah ceramah. Saya dan orang-orang yg hadir sepertinya sangat menikmati materi ceramah yg abah sampaikan. Sejuk dan teduh sekali rasanya. Abah saya sukses membuat orang-orang terhanyut dalam ruang dan waktu.

Walaupun beliau tak banyak memakai konsep dakwah, memang beliau setiap ceramah tak terlalu memperhatikan konsep. Menurutnya, terlalu banyak konsep akan mengganggu tujuan dakwahnya. Beliau hanya menggunakan "kitab-kuning" sebagai pegangan materinya saat ceramah.

Kitab yg digunakan oleh abah saat mengisi ceramah diacara pernikahan alumninya itu ialah "uqudulujain" kitab fiqih pernikahan karangan Syekh Imam Nawai Al-bantani (Banten) allahumagfirlahu alfatihah. Yg dulu pernah saya kaji saat belajar di pesantren.

Cukup dengan pegangan kitab ringan itu abah dengan jelas membahas konsep bagaimana membangun rumah tangga yg baik dan diridhoi Allah SWT.

Jika ditelisik lebih dalam, cara abah ceramah dengan menggunakan kitab-kitab klasik itu punya implikasi penting terhadap pesantren. Secara tidak langsung beliau sedang mendakwahkan tradisi keilmuan pesantren yg sekarang sudah banyak ditinggalkan. Beliau hendak mengajak kepada para hadirin untuk memperhatikan pesantren dan memotivasi agar anak-anaknya dapat belajar agama di pesantren. Abah tau betul bahwa urusan agama tak cukup hanya ditempuh lewat pendidikan formal seperti sekolah. 

Memang jasa pesantren sangat besar sekali terhadap pendidikan moral bangsa. Maka dari itu saat ada wacana mengenai konsep Full days school yg sekarang sudah diterapkan di berbagai sekolah oleh kemendikbud, saya sebagai orang yg dulu pernah "nyantren" jelas menolak konsep demikian. Menurut saya, FDS dapat melumpuhkan dan melenyapkan pendidikan Islam berbasis pesantren di Indonesia. Khususnya pesantren selafi yg ribuan jumlahnya. Jika FDS diterapkan lembaga pesantren akan kesulitan mengatur jam belajar santri yg mengenyam pendidikan formal. Dan ini jelas sangat kontradiktif dan kontra produktif sekali. Abah sangat peka terhadap isu ini jauh sebelum FDS ini diterapkan. Abah memang selalu menjaga tradisi pesantren. Dengan selalu tampil 'nyantri' walaupun levelnya sudah kiyai. Inilah yg saya suka dari beliau. It so classic.

Beliau pun seorang pemburu ilmu yg rakus. Masa kecil dan mudanya ia habiskan untuk belajar di pesantren. Berbagai Ilmu di pesantren-pesantren Banten ia sudah rasakan. Koleksi dalil alquran maupun haditsnya pun cukup banyak untuk dicekokkan kepada jama'ah yg menghadiri ceramahnya. Namun hal itu tak beliau lakukan. Beliau cukup menyampaikan beberapa dalil saja.

Selebihnya, beliau menyampaikan materi ceramahnya dengan bahasa kaumnya, bahasa masyarakat Sunda yg lekat dengan syair-syair, dongeng, cerita rakyat dan humor-humor yg tak jarang mengundang tawa. Beliau mampu masuk kedalam jiwa-jiwa jama'ah menyelami kesehariannya, masalahnya, pengalamannya dan kebutuhan rillnya, tidak melangit tapi sangat menarik. Disitulah terbangun suasana pengajian yg kohesif.

Abah sebagai kiyai kampung ini sangat berbeda dengan beberapa ustad yg akhir-akhir ini menjadi konsumsi spritual masyarakat secara umum yg erat dengan dunia internet. Media sosial adalah salah satu platform komunikasi berbasis daring yg menurut infographis hasil survei kominfo tahun 2016 mencapai angka 132 juta pengguna dari 256,2 juta penduduk Indonesia. Angka yg sangat fantastis bukan? Tak heran jika peneliti sosial mengungkapkan bahwa ciri-ciri orang yg hidup di abad 21 atau generasi millenial ini adalah memiliki akun media sosial di gadgetnya.

Semakin maju dan meningkatnya pengguna sosial media di Indonesia kebutuhan informasi keislaman pun semakin meningkat dan berimplikasi pada corak keislaman Indonesia pada umumnya yg cenderung rigid dan formalistik. Maka dari itu, saya tak heran jika artis-artis yg sudah lama tak tampil di televisi sekarang mendadak jadi ustadz atau ustadzah hanya gara-gara berpenampilan "syar'i" namun nol keilmuwan. Hanya bermodalkan alquran terjemahan Depag atau kitab terjemahan hadits ditoko, sedikit diberi penjelasan singkat, di share dan di like ribuan bahkan jutaan orang akan membuat orang menjadi ustadz panutan, padahal dangkal sekali secara pemahaman. Semakin banyak dalil yg dikeluarkan semakin banyak share dan jempol bertebaran. Mudah sekali ternyata menjadi pembawa risalah Tuhan.

Lebih parah lagi, kadang ceramahnya malah marah-marah, menyalahkan dan menyesat-kafirkan yg tidak sejalan. Bukan hanya masalah perbedaan pandangan agama saja yg mereka salahkan, masalah-masalah ekonomi, politik, sosial, hukum, sejarah, teknologi pun mereka salah-salahkan. Padahal yg disalahkan adalah orang yg kompeten dalam bidangnya yg menempuh prosedur pendidikan sangat lama dan sulit. Akhirnya, masyarakat tergiring oleh opini yg dibuatnya dan tak sedikit ikut-ikutan menyalahkan dan menyesatkan orang-orang yg memang ahli dalam bidangnya. Kenapa ini bisa terjadi? Karena ustadz-ustadz panutan itu di anggap kebenaran mutlak wakil Tuhan yg tak bisa diganggu gugat.

Memang pada dasarnya masyarakat kita yg semakin religius (baca: haus informasi agama) adalah sebuah keberkahan. Tapi jika informasi keislaman ini didistribusi oleh orang-orang yg hanya serba "mendadak" karena menempuh jalur instan. Ya tinggal menunggu kehancuran. Bukankah begitu yg disabdakan Rasulullah SAW dalam haditsnya?

Namun saya tetap sayang pada mereka semua sbg sesama muslim juga sebagai manusia. Mungkin mereka terlalu bersemangat sampai lupa metodologi dakwah yg digunakan oleh para wali sampai akhirnya Islam menyebar luas dan di anut oleh mayoritas penduduk nusantara hingga sekarang.

Atau mungkin mereka mengimpor ajaran di timur tengah dan Saudi Arabia secara mentah-mentah. Apapun itu, mereka masih hidup dan punya kesempatan untuk belajar dan kursus keislaman dengan kiyai-kiyai nusantara. Seperti kepada abah saya. Untuk berubah menuju semangat beragama yg lebih adem dan cerah.

Toh saya yakin, masyarakat Indonesia kini sudah cerdas. Orang awam pun kini sudah bisa menilai, mana yang layak mereka teladani dan tidak. Orang sudah bisa membedakan mana dakwah yang arif dan cerdas, sehingga mereka berminat untuk mendengarnya.

Dan untungnya lagi, masih ada Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang berdakwah dengan teduh: menjaga kesantunan Islam dengan wajah Indonesia.

Abah saya misalnya ataupun KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yg kerapkali mengkritik cara dakwah yang cenderung menyesatkan.

Dakwah itu mengajak yang belum masuk dalam jalan kebenaran. Ibarat manol bus, mengajak penumpang masuk bus: merayu dan meladeninya. Sekarang, malah banyak pendakwah yang menyesatkan, itu ibarat manol bus yang menyesat-nyesatkan calon penumpang,” kata sesepuh NU itu, dalam suatu pengajiannya. 

Ada juga yang berdakwah dengan modern dan segar, yaitu Majelis Maiyah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan Kiai Kanjeng dengan jamaahnya yang tersebar di berbagai kota dan pelosok Indonesia, bahkan mancanegara.

Cak Nun, begitu orang menyebutnya, menggabungkan unsur modern dengan konvensional dalam berdakwah, serta interaktif dan komunikatif dengan jamaah.

Ia seakan mencontoh dakwah para wali di bumi nusantara: dengan sentuhan seni dan budaya. Wajarlah kalau dalam berbagai kesempatan, jamaahnya kuat duduk berjam-jam tanpa berpindah, bahkan ketika hujan turun sekalipun.

Akhirnya, kearifan Abah saya serta beberapa pendakwah yang santun dalam menyampaikan dakwah, tetaplah menjadi akar yang kuat, meski tidak muncul dalam dunia entertaint yang gemerlap dan bertabur bunga.

Akar sebenarnya sama berharganya dengan bunga, hanya saja ia sudah mengikhlaskan diri untuk menyuplai sari-sari makanan bumi kepada bunga dan apa saja yang melingkupinya.

Saya kira, kiyai seperti abah saya ini ribuan jumlahnya, tersebar di seantero Nusantara. Kita saja yang tidak tahu, dan media yang enggan membesarkannya.