28091.jpg
Buku · 6 menit baca

Kisah Ahok dan Perjuangannya
Ulasan "A Man Called #AHOK"

Bukan karena Pilkada ibu kota. Ini tentang kisah seseorang yang menginspirasi bernama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Memang, tidak semua orang akan menganggap kisah Ahok sebagai yang patut diceritakan apalagi dijadikan inspirasi hidup. Tetapi saya bisa pastikan (optimis), semua yang cinta perubahan DKI Jakarta, Indonesia secara umum, akan memandangnya sebagai hal yang patut.

Dikisahkan oleh Rudi Valinka, atau yang lebih dikenal di jajaran netizen Twitter dengan akun @kurawa, Ahok memberi sejuta inspirasi yang tak banyak orang bisa berikan. Tak hanya dari sisi pribadi Ahok saja, lingkungannya juga ikut serta memberi inspirasi, baik untuk Ahok sendiri, maupun kita-kita yang ingin menariknya sebagai satu pelajaran berharga.

Melalui buku mungil berjudul “A Man Called #AHOK, Sepenggal Kisah Perjuangan & Ketulusan”, @kurawa menceritakan perjalanannya ke Belitung Timur, tempat di mana Ahok lahir, tumbuh dan dibesarkan.

Diakui @kurawa, perjalanannya ke Belitung Timur semata hanya ingin melihat dan membuktikan bahwa sikap dan kedirian Ahok, selama menjadi pejabat publik, bukan hal yang diada-adakan, rekayasa, atau pencitraan semata. Dan ternyata benar, sikap dan kedirian Ahok benar-benar orisinil dari sono-nya.

Terlepas dari banyaknya anggapan bahwa publikasi @kurawa tak lebih sebagai ajang pengkampanyean Ahok—anggapan ini wajar mengingat @kurawa adalah aktivis ‘Teman Ahok’, tetapi fakta yang ia temukan di lapangan mustahil bisa kita sangkal. Setidaknya redaksi yang diwartakan @kurawa sifatnya cukup objektif.

“Gue kunjungi satu per satu orang-orang yang pernah dekat dengan Ahok dan keluarganya. Gue temui juga musuh maupun bekas musuhnya. Ini yang seru,” tulis @kurawa (hlm. 16).

Ya, @kurawa sendiri menjamin bahwa warta yang disuguhkan kepada pembaca kumpulan #Sinetwit Ahok-nya adalah objektif. Itu terlihat bagaimana @kurawa memberi ruang yang juga besar kepada haters Ahok untuk ikut memberi respon.

“It’s a fact,” tegas @kurawa dalam pengantarnya.

Kalau pun ada data, fakta maupun narasumber yang diwartakan yang itu dirasa masih sesuai, si penulis sendiri memberi ruang untuk mengkonfirmasi ulang.

Untuk memastikan apakah seorang Ahok cuma pencitraan selama jadi pejabat publik, terutama sejak dirinya eksis sebagai pucuk pimpinan di DKI Jakarta, mau tak mau kita harus melihatnya jauh ke belakang. Bagaimana masa kecil Ahok, bagaimana lingkungan membentuk sikap dan kediriannya, semua ini menjadi awal @kurawa memulai #Sinetwit-nya hingga menjadi bacaan publik secara luas.

Peran Sang Bapak

“Pada saat gue menginjak tanah Belitung Timur, jika bertanya soal #AHOK, maka orang Belitung selalu menyebut kebaikan dan kiprah bapaknya.” (hlm. 19).

Sebagai seorang bapak, Tjung Kim Nam terbilang sukses menjadi pusat inspirasi bagi anak-anaknya, terutama bagi Ahok sendiri. Gemarnya Ahok mendermakan waktu dan materi kepada mereka yang membutuhkan (rakyat kecil), tak lain bersumber dari kisah-kisah heroik bapaknya yang juga tak kalah gemarnya menolong orang-orang susah di tanah kelahirannya.

Dikisahkan, Kim Nam tipikal orang yang tidak tegaan dengan siapa pun, terutama terhadap mereka yang datang meminta pertolongannya. Hampir segala hal ia upayakan hanya untuk membantu, mulai dari urusan sekolah, berobat, hingga soal perut atau makan.

“Kim Nam ini rela membantu orang walaupun dia nggak punya duit sama sekali, yakni dengan cara meminjam lagi ke orang lain. Ini luar biasa.” (hlm. 21).

Demi membantu yang susah, ceknya pun rela Kim Nam gadaikan meski dengan bunga yang tidak kecil. Dan kegemarannya ini sempat membuat kungkung popoh (kakek nenek) Ahok stres. Kim Nam bantu orang tanpa peduli kantong sendiri.

Meski kelakuan tanpa pamrih ini juga membuat sang istri Buniarti Ningsih (ibu alias uma Ahok) kerap menangis, Kim Nam hanya bisa berujar: “Rezeki sudah Tuhan atur.” (hlm. 22).

Selain sikap dermawan, darah politik juga mengalir deras ke dalam diri anak-anaknya, termasuk Ahok. Seperti diketahui, sang bapak, meski tak mau terlibat dalam kepengurusan, diangkat sebagai sesepuh Partai Golkar Belitung.

“Setiap ada acara apa pun pasti dia (Kim Nam) diundang. Karena Golkar yakin dia itu public darling.” (hlm. 22).

Pelajaran berharga lainnya yang Ahok warisi dari bapaknya, yakni konsep transparansi. Oleh karena Kim Nom membolehkan anak-anaknya untuk mendengar pembicaraan saat dirinya menerima tamu, mulai dari yang pinjam duit, minta bantuan, sampai urusan dipalak oleh oknum aparat hukum, yang terakhir inilah yang sampai kini membekas dalam diri seorang Ahok.

Ya, hampir setiap hari dipalakin oleh oknum aparat hukum, seperti minta duit untuk ongkos transportasi. Karena memang, posisi sang bapak saat itu adalah pengusaha kaya di Belitung. Kelakuan oknum yang korup dan menindas inilah, sekali lagi, membekas dalam hati dan otak Ahok. Tak ayal jika Ahok tampil sebagai figur pemimpin yang anti-korupsi.

Mental Petarung yang Merakyat

Sedari kecil, kisah @kurawa, mental sang petarung dari seorang Ahok sudah tampak. Itu bermula ketika pamannya (Aliong), yang hanya berselisih usia 2 tahun lebih tua darinya, masuk sekolah.

Tak terima dengan kesempatan pamannya masuk sekolah, Ahok menangis dan memaksa untuk juga bisa ikut bersekolah. Alhasil, Ahok dan pamannya pun sekelas sekaligus menjadi teman bermain semasa kecil.

“Dari kecil #AHOK memang sudah nampak mental petarungnya. Jika dia ingin, maka harus bisa. Sekolah pun dijabanin walaupun masih belum cukup umur.” (hlm. 28).

Hingga soal persusuan pun Ahok dan pamannya harus bareng, yakni disusui oleh neneknya. Pengalaman ini menjadi kebanggan tersendiri bagi Ahok. Ia selalu bangga menyebut dirinya sebagai orang yang beruntung mendapat dua air susu ibu di saat kecil.

“Kalo lagi bercanda dia menyanyikan lagu: Pok ame-ame belalang kupu-kupu, siang tetek ibu kalo malem tetek nenek.” Gimana nggak sehat?” (hlm. 28).

Soal mental merakyatnya, itu terlihat ketika Ahok, lebih memilih masuk sekolah negeri ketimbang sekolah elite untuk karyawan PT Timah. Padahal, sebagai seorang anak orang kaya dan terpandang di desanya, Ahok bisa saja masuk ke sekolah elite tersebut.

Ahok kecil juga dikenal karena sifatnya yang sangat menghargai teman-teman sejawatnya. Dari keterangan yang didapat dari teman sekolahnya, yakni Pak Mus (teman sebangku Ahok dari TK hingga SD), Ahok tak pernah lupa walaupun dalam kondisi lagi “di atas”.

“Walaupun pendiam, menurut Pak Mus, #AHOK itu tidak pernah memilih-milih teman, tidak pernah berkelahi dengan teman, dan jika di-bully Ahok tidak membalas.” (hlm. 32).

Kemandirian serta kedisiplinan Ahok juga sudah terlihat di masa itu. Terlihat bagaimana ia disiplin dalam bersekolah, tak pernah bolos, absensinya penuh terus. Bahkan untuk berangkat ke sekolah sendiri, di saat yang lain di antara oleh orang tuanya, Ahok kecil justru sudah berani jalan sendiri.

Jiwa kepemimpinan Ahok pun demikian. Di samping gemar berbagi seperti bapaknya, Ahok juga berhasil menjadi ketua OSIS semasa SMP. Benih-benih inilah yang terus tumbuh sampai hari ini.

Menjaga Amanah

Seperti disebutkan di awal, perlawanan Ahok terhadap oknum pejabat korup bersumber dari pengalaman hidupnya sendiri.

Ingat, Ahok sering melihat dan mendengar langsung bagaimana bapaknya dipalakin oleh orang-orang korup ini. Dari sinilah Ahok banyak belajar bahwa dalam berpolitik (menjadi pejabat publik), lawan utama adalah korupsi.

Terlepas dari jiwa anti-korupsinya, sebagai pejabat publik, hal utama lainnya yang dijalankan Ahok adalah menjaga amanah dalam memimpin. Itu tampak ketika dirinya mulai menjabat sebagai Bupati Belitung Timur, yang juga diakui oleh seorang ustaz bernama Pak Agung.

“Dia mengatakan, di hati #AHOK tersimpan kelakuan sifat seorang islami walaupun Ahok bukan Islam, menolang tanpa pamrih, pemimpin warga yang teladan.” (hlm. 83).

Bukti amanahnya Ahok juga tampak ketika mengentaskan janji kampanyenya, yakni membuat pesantren gratis milik pemerintah, membangun masjid, dan menjalankan program naik haji dan umroh.

Berlanjut saat dirinya menjadi anggota dewan, wakil gubernur DKI mendampingi Jokowi, hingga menjadi gubernur menggantikan Jokowi, amanah sebagai pejabat publik itu terus tumbuh. Bahwa kerja untuk rakyat, bagi Ahok, itulah amanah utama yang harus dirinya jaga dan realisasikan, terutama sebagai pejabat alias pelayan rakyat.

Terakhir, sebagaimana pesan penulis A Man Called #AHOK, buku mungilnya ini diharapkan untuk disebar seluas-luasnya. Keluarga, kerabat hingga sahabat, semua harus membacanya agar mereka tahu bahwa masih ada harapan untuk orang Bersih, Transparan, dan Profesional (BTP) hidup di negeri tercinta Indonesia ini.