21374.jpg
https://i1.wp.com/www.muftinews.com/
Budaya · 3 menit baca

Ketika Dajjal Bersemayam di Kota

Ada yang menarik ketika tema-tema dajjal memuncak naik di kalangan muslim kota. Yang membut menarik itu adalah ketika umat muslim di desa tak pernah dan mungkin sangat jarang membahas tentang tema-tema seperti dajjal, hari akhir, dan sebagainya. Kali ini, penulis akan berusaha menjelaskan bagaimana tema-tema seperti itu justru lebih banyak diangkat di kota dari pada di desa.

Pada saat kita di kota, umat muslim aliran pelajar selalu mendapati kajian-kajian seperti dajjal, dan hari akhir, sedangkan di desa sangat jarang kita temui. Ini disebabkan karena di kota, kita lebih cenderung merasakan konflik yang sangat keras dari media-media.

Misalnya saja, kemarin waktu saat HTI dibubarkan atau bahkan kasus-kasus yang sebelumnya seperti kasus penista agama, di daerah sekitaran Makassar, kita akan menemui kajian umum di masjid-masjid tentang hal ini. Contoh judul: dajjal adalah musuh yang nyata.

Memang tak dapat dipungkiri, di kota mempunyai kehidupan yang keras dibandingkan di desa. Pekerjaan yang tiada habisnya diramaikan lagi kasus-kasus yang serupa ini. Belum lagi yang dihadapi oleh para mahasiswa yang notabenenya anggota-anggota organisasi islam pasti akan mengkaji ini dan dibumbui oleh tugas-tugas dari dosen yang kadang bikin pushing.

Dajjal yang menyerupai monster dan iblis yang bermata satu pasti akan laris dan menyatukan kita agar kita sadar kondisi nyata dari kehidupan kota yang serba serbi butuh kesadaran sosial agar kita bisa kuat menghadapinya.

Tapi itu tak lain merupakan cerminan dari kekerasan simbolik dari kehidupan di kota. Bayangkan saja sumber-sumber media yang berasal dari pusat negeri kita tercinta ini, Jakarta. Pasti media-media sosial serupa itu tak jauh dari pembahasan tentang dajjal, hari akhir. Itu disebabkan karena sumbernya berasal dari ibukota Indonesia.

Ada seorang peneliti yang berfokus pada tema-tema serupa ini. Itu tak lain merupakan seorang Emile Durkheim, seorang sosiolog asal prancis. Emile Durkheim sempat keheranan ketika melihat dari surveinya sendiri bahwa kebanyakan orang yang melakukan bunuh diri tak lain dari orang-orang yang tak beragama.

Walaupun mereka seorang yang terpelajar, tapi mengapa mereka melakukan bunuh diri? Kasus-kasus kota misalnya pada saat suatu negara mengalami inflasi ekonomi tingkat bunuh diri pun meningkat. Sedangkan dalam umat Yahudi, justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Respons umat Yahudi lebih merujuk kepada tahap yang paling radikal. Alasannya, mereka belajar bukan berdasarkan keinginannya saja tapi juga sebuah tuntunan agama. Jadi pada saat suatu negeri mengalami konflik-konflik yang panas, justru kaum beragama lebih bisa menetralisir diri mereka sendiri dibandingkan yang tak memiliki agama.

Apakah dajjal itu memang ada? Kita masih belum tahu pastinya. Yang jelas, dajjal hidup di kota karena kita butuh secara psikologis. Dan konon katanya, dajjal di negeri-negeri barat sudah disembah seperti apa yang dilakukan salah satu penyanyi internasional, Lady Gaga dalam banyak video lagu yang dia buat. Itu sangat tergambarkan bagaimana seorang penyembah setan sudah bermunculan.

Namun, pengetahuan kita tentang hal itu justru ‘ada’ ketika kita hidup di kota dibandingkan di desa. Disayangkan, tapi itu memang terjadi. Itu berarti kehidupan di kota lebih terkesan politis dan menggambar bagaimana keadaan dunia dari pada saat kita hidup di desa.

Di desa sendiri yang jauh dari kehidupan kota lebih mudah dalam mentoleransi sebuah budaya yang sangat lain dari apa yang dibawakan sebuah agama. Bahkan, salah satu dari seorang antropolog dunia, Clifford Geertz, melihat bahwa apa yang terjadi di desa itu merupakan sebuah perpaduan antara budaya yang ada di desa dan apa yang dibawakan sebuah agama, sebuah Sinkretisme.

Apa yang terjadi di desa lebih merujuk pada sebuah proses kulturasi dibandingkan apa yang terjad di kota yang lebih merujuk pada sebuah proses radikalisme. Namun, yang terjadi di desa tidak membuang apa yang telah lama bersemayam dan menjadi sebuah ideology tersendiri.

Yang paling nampak, misalnya di sebuah mantan desa (yang sekarang menjadi bagian dari kota), orang-orang yang tinggal di suatu rumah baru merayakan hidup awal mereka dengan membawa semacam sesajen di dekat sumur atau di pepohonan. Padahal mereka sendiri sudah menganut agama Islam.

Mereka percaya dengan menyajikan semacam makanan-makanan tradisional di tempat yang dipercayai bahwa ada penghuninya, mereka bakalan tak diganggu dan disambut dengan baik.

Itu merupakan sesuatu yang sangat ironis. Di agama Islam sendiri, kita dilarang untuk melakukan hal yang demikian. Justru yang dianjurkan adalah dengan melakukan Adzan pada rumah baru tersebut. Tapi toh, itu mereka adalah bekas orang-orang desa.

Sebagai penutup, mungkin kita bisa melihat bagaimana perbedaan gerakan-gerakan agama baik itu dari kota maupun di desa melalui tulisan ini. Tapi penulis berharap, baik itu sebuah radikalisasi atau pun kulturasi, tak sebaiknya kita memaksakan kehendak kita kepada orang lain walaupun itu berbau politis. Itu disebabkan agama merupakan sebuah kebaikan.