19377.jpg
Agama · 4 menit baca

Kesalahan Orang Baik dalam Berbuat Baik


Menurut agama, orang baik yaitu orang yang menjalankan perintah Tuhan-Nya dan menjauhi larangan Tuhan-nya. Definisi orang baik secara sosial adalah orang yang mampu menaati norma-norma yang berada pada masyarakat sekaligus tidak melanggar adat-istiadat dan aturan yang berlaku.

Sebagai seorang insan yang sehat hati dan akalnya, pastilah ingin menjadi orang yang baik yang berguna bagi agama dan masyarakatnya. Itu adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Walau tidak jarang diantara kita yang pada praktiknya tidak demikian. Ada yang ternyata dia menjalani cita-citanya menjadi orang baik tanpa halangan berat, namun ada juga mereka yang ingin menjadi baik namun ia terdesak untuk tidak berbuat baik demi kebaikan kecil yang personal. 

Saya ambil contoh seorang pencuri yang tidak dikatakan baik berdasarkan definisi baik secara agama maupun sosial, sebenarnya dia punya kebaikan yang sulit dipahami oleh kebanyakan orang, mereka berbuat baik dengan sesama kelompok pencuri lainnya atau ia berbuat demikian demi menghidupi keluarga. Kita tahu walaupun yang dilakukan pencuri itu salah, tapi poin yang ingin saya sampaikan adalah setiap insan punya kebaikan. Dalam artian, seorang terlahir dalam kecenderungan berbuat baik.

Kemudian dalam islam dikenal sebuah ajaran amar ma’ruf nahi mungkar. Yaitu sebuah nasihat yang mengisyaratkan kita agar “ memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran “. Perlu kita ketahui, ajaran “ amar ma’ruf nahi mungkar “ saya kira tidak hanya dalam konteks ajaran islam, maksudnya saya mengimani bahwa ajaran ini adalah ajaran yang akan diterima oleh siapapun tidak memadang ras, suku atau agama. 

Jadi kita anggap saja bahwa orang yang menginjakkan kaki dibumi ini, pasti akan setuju dengan adanya ajaran tersebut. Tapi pertanyaannya, mengapa konsep ini tidak berlaku sepenuhnya? Nyatanya banyak sekali orang-orang yang mengajak kepada kebaikan tidak diterima dan mereka yang mencegah kemungkaran tidak mendapatkan hasil. Jikalau saya boleh berpendapat mari kita tarik asal masalahnya dan mengapa sesuatu hal ajakan kebaikan malah tidak diterima dengan baik.

Menurut saya tentu tak ada yang salah dalam ajaran ‘Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Namun menanggapi permasalahan tadi, kita lihat apakah orang yang berbuat baik itu sudah berbuat baik pada dirinya. Kebanyakan orang sekarang ini mudah sekali mengajak kebaikan orang lain sebelum mengajak kebaikan pada dirinya sendiri.

Mereka dahulukan mengajak kebaikan orang lain sedangkan lupa akan dirinya masih belum bisa dikategorikan kedalam orang baik. Yaitu orang yang baik secara definisi agama maupun sosial. Bahkan dewasa ini ada juga yang mengajak kebaikan agama sebelum ia berbuat baik secara definisi sosial atau sebaliknya.

Sebenarnya definisi baik dalam agama berbanding lurus dengan definisi baik dalam sosial atau apapun. Karena didalam agama terdapat ajaran-ajaran yang mengatur hablum minallah (hubungan hamba dengan Tuhan) atau hablum minan-nas ( hubungan hamba dengan hamba). Kesalahan  fase inilah yaitu ingin buru-buru “mengajak orang lain dalam kebaikan sedangkan lupa akan dirinya“ yang membuat masyarakat komunal atau berpendidikan khususnya justru mempertanyakan kembali ajakannya tersebut. 

Lucunya lagi mereka yang ingin mengajak kebaikan, tapi dengan cara yang salah justru membuat dirinya dalam posisi salah. Mungkin bukan salah, lebih tepatnya “Kurang benar”. Mengajak dalam kebaikan bukanlah hal mudah, namun tidak sesulit yang dibayangkan. Yang perlu kalian ingat adalah lewatilah fase berbuat baik kepada diri sendiri baru ajaklah orang lain dalam berbuat baik.

Masalah selanjutnya yang terjadi adalah “ mencegah kemungkaran “. Mencegah adalah perilaku melarang dan patutnya perilaku yang dilarang tersebut tidak dilakukan oleh pelarang. Oleh Karena itu pekerjaan melarang sepatutnya dilakukan oleh orang yang berbuat baik. Bagaimana mungkin seorang pencuri melarang temannya mencuri sedangkan yang melarang sendiri melakukan hal tersebut. Tak masuk akal bagi orang yang dilarang. 

Namun tidak mesti seorang yang baik pun bisa berhasil dalam melarang pencuri. Walaupun kita ketahui dalam konteks “ Nahi mungkar “ yang kita lakukan hanyalah melarang, urusan yang dilarang tetap melakukanya atau tidak, kita pasrahkan kepada Tuhan. Namun tetap saja, adanya suatu ajaran “ amar ma’ruf nahi mungkar”, tujuannya adalah tersampaikannya insan yang saling mengajak kebaikan saudaranya ketika lupa, dan mengingatkan saudaranya ketika khilaf. Dan tujuan tersebut tak akan berhasil tanpa amar ma’ruf nahi mungkar yang diterima oleh masyarakat.

Fase selanjutnya inilah yang cukup rumit yaitu agar ajakan kita bisa diterima. Memang ajakan agar diterima, itu tidak bisa kita patenkan dengan satu cara. Misalnya dengan cara yang baik, santun, dan lain-lain. Nyatanya masih ada segolongan orang yang mengajak dengan cara berteriak keras, membentak, bahkan memprovokatori dengan ucapan yang tak pantas pun bisa diterima, walaupun hanya oleh sebagian kelompok mereka, tapi nyatanya diterima. Walaupun secara nurani yang sehat hal tersebut sangat tidak bisa diterima. Bagaimana mungkin mengajak dalam kebaikan menggunakan cara yang tidak baik. Sungguh sangat tidak masuk akal untuk diterima oleh hati yang baik. Oleh karena itu Allah SWT berfirman yang artinya

“Serulah ( manusia ) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk. “

Didalam Al-qur’an sendiri sudah dikatakan agar kita mengajak kejalan Allah dengan hikmah yaitu dengan cara baik. Bahkan jikalau dalam berdebat kita diharuskan membantahnya dengan cara yang baik dan beradab. Jelas kiranya bagaimana bisa dakwah kita kemungkinan besar diterima. Lalu jika sudah melaksanakan hal tadi urusan hasil kita serahkan pada Tuhan. 

Oleh Karena itu firman diatas mengatakan bahwasanya “ Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk”. Kita sebagai hamba ciptan-Nya yang harus kita perbuat hanyalah ber-ikhtiar menebarkan kebaikan sesama manusia, namun juga dengan cara yang baik pula.