Ketik untuk memulai pencarian

Kenapa Publik Menolak Rizieq Jadi Khalifah?

Kenapa Publik Menolak Rizieq Jadi Khalifah?

beritasatu.com

Di media sosial, beredar surat FPI yang mengajak masyarakat untuk mendukung Rizieq Shihab menjadi imam besar (khalifah) umat Islam Indonesia. Dalam surat  tersebut, terdapat pernyataan bahwa yang mengisi surat akan bersepakat mengangkat Rizieq sebagai khalifah dan berjanji setia atas perintah dan larangannya sesuai syari’at Islam.

Surat edaran FPI ini sungguh tindakan fatal, karena pertama, keinginan Rizieq menjadi khalifah adalah tindakan politis untuk mendapatkan legitimasi publik, khususnya umat Islam Indonesia. Kedua, Indonesia merupakan negara yang berasas Pancasila, setiap warga negara harus taat terhadap konstitusi negara. Tidak dibenarkan melakukan kontrak dan berbaiat terhadap seseorang dengan mengikuti semua perintahnya yang diklaim sesuai syari’at Islam.

Nabi bersabda : “Al Muslimun ‘inda syuruthihim”  (kaum muslim terikat dengan perjanjian yang telah mereka sepakati). Hadis ini kiranya cukup untuk menegaskan bahwa orang Islam yang menjadi warga negara Indonesia wajib mematuhi kesepakatan mereka terhadap Republik Indonesia, yaitu patuh terhadap konstitusi. Jika ada yang berbaiat dan terikat kontrak dengan seseorang yang mendukung Khilafah, maka ia sesungguhnya menjadi pengkhianat Islam itu sendiri.

Menolak

Follow Qureta Now!

Menurut Irwan masduki, pimpinan Pesantren Assalafiyah Mlangi Sleman, Pesantren di Yogyakarta menolak memberikan dukungan terhadap Rizieq menjadi Khalifah. Bahkan umat Islam Indonesia secara umum telah menolak rizieq menjadi khalifah karena beberapa alasan.

Pertama, Rizieq memiliki treck record sebagai seorang kriminal. Ia pernah dipenjara selama 1,5 tahun karena aksi penyerangan terhadap masa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan dan berkeyakinan (AKKBB) di Monas, Jakarta Pusat. Umat Islam Indonesia tidak mungkin mengakui seseorang sebagai imam besar jika pernah melakukan tindakan kriminal. Umat Islam Indonesia lebih mengakui kredibilitas keulaman seseorang yang bebas dari perilaku kejahatan.

Kedua, Rizieq kerap memimpin aksi tindakan kekerasan. Aksi yang pernah dilakukan Rizieq seperti penyerangan dan perusakan terhadap rumah ibadah (2005), perusakan kafe (2004), penyerangan terhadap aliran kepercayaan (2007), membakar rumah makan dan restoran (2011), dan masih banyak lagi tindakan kekerasan yang dipimpinnya. Umat Islam Indonesia lebih simpati terhadap ulama yang pro-perdamaian, berperilaku santun, dan demokratis daripada orang yang berperilaku buruk.

Ketiga, Rizieq tidak memenuhi kriteria sebagai seorang ulama. Ulama adalah seorang panutan yang mempunyai kedudukan tinggi setelah para Nabi dan Rasul. Ulama mencerminkan isi kandungan al-Quran dengan perilaku dan tutur kata yang baik. Rizieq kerap menyebarluaskan permusuhan dan kebencian dengan melontarkan pernyataan dengan kata-kata yang kotor, seperti “bego”, “harus dibunuh”, “disalib”, “dipotong tangannya” dll. Perkataan dan tindakan Rizieq tidak sedikitpun mencerminkan dirinya sebagai seorang ulama.

Keempat, Rizieq mendukung ISIS dan berdirinya negara dengan hukum Syariat Islam. Hal ini terbukti dengan mengacu kepada Visi-Misi FPI yang dipimpinnya yang sejak pertama kali berdiri mendukung penerapan Syariah Islam dan penegakan khilafah Islamiyah. Rizieq mengeluarkan maklumat yang menyatakan dukungannya terhadap kelompok ISIS. Padahal Indonesia adalah negara Pancasila, yang sejak pertama berdirinya tidak dibangun sebagai negara agama tertentu.

Islam Damai

Dari berbagai alasan ini maka wajar jika publik menolak Rizieq sebagai khalifah. Ia sama sekali tidak mencerminkan sebagai pemimpin yang toleran. Padahal sejak dulu, para kyai dan ulama Indonesia mengajarkan pentingnya pendidikan toleransi dan keberagaman. Islam mengajarkan nilai-nilai kesejukan, kedamaian, dan kasih sayang. Namun demikian, FPI yang dipimpin Rizieq menampilkan Islam dengan wajah yang keras, garang dan menakutkan.  

Apalagi Islam Indonesia dikenal sebagai Islam yang damai, toleran dan menjunjung tinggi hak-hak manusia. Islam menghargai keragaman dan mengakui adanya perbedaan-perbedaan dalam keyakinan beragama, terutama dalam ajaran yang bersifat parsial dan situasional. Islam tidak menghendaki semua perbedaan yang ada menjelma dalam sebuah konflik terbuka. Karena dakwah dalam Islam harus dengan cara yang lemah lembut, bertukar pikiran dari hati ke hati dan penuh toleransi (Mau’idzatul Hasanah).

Islam bukan agama yang memaksa, apalagi menimbulkan korban nyawa dan aksi kekerasan. Islam adalah agama yang menawarkan jalan terbaik dalam mengarungi kehidupan ini. Kekerasan yang dipimpin Rizieq selama bertahun-tahun telah menjadi kejahatan terburuk atas nama agama di Indonesia. Ini adalah kenyataan yang paradoks, karena agama mengajarkan nilai-nilai luhur, bukan kekacauan. Seorang Rizieq tidak akan pernah menjadi khalifah umat Islam.

Ibnu Said

Pembelajar kehidupan

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016