Ketik untuk memulai pencarian

Kenangan Terakhir di Wakatobi

Kenangan Terakhir di Wakatobi

Ungkapan Rindu kepada Tanah Kelahiran Sang Bunda

menikmati senja di halaman belakang rumah di Wakatobi (dok. pribadi, 2014)

Angin Darat berhembus menggelitik pundak saya. Seolah ingin membisikan bahwa malam sebentar lagi akan menyapa semesta. Dan surya akan segera tenggelam di ufuk barat, di kaki langit, di sebuah titik di seberang lautan yang terhampar megah di hadapan saya. Saat itu, seolah tidak ada cukup kata yang mampu menggambarkan kekaguman yang membuncah di dalam dada saya. Sungguh indah tanah ini!

Bersendiri di bawah alam, saya duduk menantang samudra. Bau laut saat itu terasa lebih jelas dari detak jantung saya. Kesegarannya merangsang penciuman. Begitu tajam. Begitu kuat. Entah mengapa seolah hampir memabukkan—in a good way. Bahkan aromanya jauh lebih nyata dibandingkan beragam alkohol yang biasa saya teguk di Blue Grass.

Tidak ada hingar bingar kendaraan, tidak ada keributan musik R&B yang seringkali diputar tetangga saya di Jakarta, ataupun suara bising mesin-mesin kapitalis lainnya. Yang ada hanyalah saya dan lamunan saya, yang bersenggama dalam kedamaian yang sungguh tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Melahirkan kenikmatan psikis yang begitu nyata, yang sering disenandungkan oleh para ahli jiwa.

Entah karena sudah hampir satu dekade saya terbiasa dengan kebisingan ibukota yang menggila, kenikmatan itu seolah melampaui orgasme terhebat yang pernah saya rasakan. It’s like a glimpse of fresh air that saved me from drowning. Begitulah malam terakhir saya, pada musim lebaran dua tahun yang lalu, di tanah kelahiran ibu saya, Wakatobi.


Pemandangan Laut dan Pantai Halaman Belakang Rumah Keluarga (dok. pribadi, 2014)

Di saat beberapa rekan saya yang warga asing sudah cukup familiar dengan eksistensi Wakatobi, masih banyak warga Indonesia sendiri yang bahkan tidak mengetahui apa-apa tentang keberadaan gugusan kepulauan yang indah itu.

Wakatobi adalah singkatan dari Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko—yakni empat pulau kecil di wilayah selatan propinsi Sulawesi Tenggara, yang dimekarkan sebagai kabupaten 13 tahun silam.

Terakhir kali saya menggunakan kapal laut dari kota kelahiran saya, Kendari, menuju Wanci (sebutan masyarakat Sultra untuk daerah Wangi-Wangi), saya harus menghabiskan malam di lautan selama lebih dari delapan jam. Kini dengan maskapai penerbangan yang ada, saya sudah bisa menjenguk kakek-nenek saya di sana hanya dalam waktu 45 menit dari Kendari.


(dok. pribadi, 2014)

Tidak hanya bisa menikmati momen kebersamaan bersama keluarga di sana, saya juga bisa menikmati pemandangan pantai dengan pasir putih langsung dari halaman belakang rumah kakek-nenek saya.

Sometimes I CAN’T BELIVE IT myself, bahwa saya tidak perlu jauh-jauh ke Montauk, atau Phuket, atau bahkan ke Kuta untuk menikmati wisata pantai yang indah. Halaman belakang rumah tempat ibu saya dilahirkan pun adalah tempatnya!

Ironisnya, bahkan ketika saya sendiri mempunyai garis keturunan langsung dari daerah ini, saya masih cukup jarang mengunjungi Wakatobi. Ketika berkunjung pun hanya terbatas pada dua daerah yakni, Wanci dan Kaledupa.

Bahkan sebagian besar daerah yang saya kunjungi hanyalah di kawasan tempat tinggal keluarga dekat saya di Desa Waha, di Kecamatan Wangi-Wangi yang merupakan ibu kota Kabupaten Wakatobi.

Pantai Waha


Pantai Waha (dok. pribadi, 2010)

Foto pantai di atas adalah Pantai Desa Waha yang terletak hanya beberapa langkah kaki dari halaman belakang rumah kakek-nenek saya di Wakatobi. Letaknya kurang lebih tujuh kilometer dari area pelabuhan di pusat kota. Butuh waktu kurang dari satu jam dengan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk ke lokasi pantai ini.

Pada kunjungan terakhir saya, pantai ini benar-benar menjadi area yang sangat sempurna untuk refreshing. Sebagai bagian dari komunitas profesional di Jakarta yang setiap harinya disibukan oleh rutinitas pekerjaan yang cukup padat, menjauh dari keramaian dan menenangkan diri di alam terbuka seperti di Pantai Waha ini, adalah hal yang benar-benar harus saya lakukan paling tidak sekali dalam setahun.

Beberapa bulan lalu ketika masih berada di New York, saya mengunjungi kawasan pantai terkenal di Montauk. Pantainya bagus memang, terawat, dan banyak kawasan hunian murah dan bar lokal yang menarik pengunjung. Akan tetapi kalau cuma soal pantai, pasir putih, dan lautan, maka Pantai Waha yang membentang melintasi halaman belakang rumah keluarga saya di Wakatobi pun sungguh tidak kalah indahnya.


Follow Qureta Now!


Bermain Pasir Putih Di Halaman Belakang Rumah (dok. pribadi, 2010)

Saya bahkan bisa bermain sepuasnya di bawah terik mentari bersama sepupu saya. Menenggelamkan diri di bawah pasir putih yang berkilau seperti emas diterpa matahari.

Dengan samudera biru yang membentang luas di belakang saya, segala beban pun seolah sirna seketika. Terbungkus dalam balutan kegembiraan dan kedamaian hati menikmati keindahan alam yang belum benar-benar terkotori oleh polusi peradaban. 

On a more personal note—that picture above—that was during the ramadhan break of my junior year in college. And in a way, Wakatobi helped me survive one of the darkest times of my life back then. So, if you need some place for a short getaway, alone or with some friends, to restart your mind and your soul or something, during the holidays seasons or even at the weekends—I highly recommend this place for you.


Ikan-ikan laut nampak jelas dari atas jembatan di samping rumah (dok. pribadi, 2014)

Anyway, saya sendiri bukan seorang food-junkie dan saya tidak benar-benar mempunyai makanan favorit tertentu. Namun bagi anda penggemar kuliner, jika anda ke Wakatobi maka anda pun bisa menikmati hidangan khas lokal sambil menikmati wisata pantainya. Salah satunya adalah kasoami, yakni makanan khas paling terkenal di Wakatobi.

Terbuat dari ubi kayu yang dimasak selama kurang lebih 30 menit, kasoami adalah hidangan pengganti nasi. Paling enak untuk disajikan bersama ikan bakar, ikan berkuah, dan hidangan seafood lainnya. Posturnya yang tidak terlalu keras tetapi tidak juga terlalu lembek, membuat kasoami bahkan sering juga dijadikan sebagai cemilan ringan.


Kasoami atau Kasuami (disbudpar Wakatobi)

Pantai Hoga

Foto di bawah ini adalah area pesisir Pulau Hoga yang sangat terkenal di kalangan wisatawan asing. Terakhir kali saya berkunjung ke pulau tersebut adalah pada tahun 2010. Alas, karena human error semua dokumentasi pribadi saya saat itu hilang dan tak tersisa. Padahal saya menghabiskan waktu seharian penuh mengelilingi area Pantai Hoga dengan sebuah speed boat yang dikemudikan oleh salah satu sepupu saya.


Salah satu area Pantai Hoga, Kecamatan Kaledupa (detik.com)

Saya ingat saat itu Pantai Hoga sedang ramai dikunjungi oleh wisatawan asal Perancis yang sedang melakukan semacam penelitian bawah laut. Ada beberapa kapal berbendera Perancis yang berlabuh tidak jauh dari area pantai ini. Dan saya bahkan saat itu sempat berjumpa dengan beberapa turis asing yang menginap di kawasan hunian disitu yang beroperasi dibawah naungan Operation Wallacea.

Bagi anda yang hobi snorkeling ataupun diving, maka tempat ini adalah yang paling tepat. Namun jika tidak sempat ke Kaledupa, maka beberapa blok dari rumah keluarga saya di Desa Waha pun terdapat pusat pelatihan snorkeling dan diving yang sering ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing.

Rumah Kita

Pantai Waha di Wakatobi benar-benar menjadi tempat yang paling tepat bagi saya untuk sejenak melupakan segala permasalahan yang ada di Jakarta. Saya sudah pernah ke Kuta, dua kali ke Phuket, dan berminggu-minggu di Montauk, namun tak satupun yang menandingi kepuasan batin yang saya rasakan ketika terakhir kali saya berada di pantai ini. Mungkin akan terdengar bias memang, but that's just the truth!


Sunset di Wakatobi, langsung dari halaman belakang rumah keluarga (dok. pribadi, 2014)

See, ketika God Bless mempopulerkan lirik, “lebih baik disini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah yang kuasa. Semuanya ada di sini” dalam lagu Rumah Kita, saya masih menjadi bagian dari mereka yang agak skeptis. Menganggap hal itu terlalu retoris, atau bahkan ada yang menganggap itu sangat garing. Sekarang tidak lagi. Dan pengalaman hiduplah yang membuat saya benar-benar mengerti apa yang God Bless maksud.

Karena—I don’t know about you guys—berdasarkan pengalaman saya, semakin sering menghabiskan waktu di luar negeri justru membuat saya semakin merindukan tanah air. Menikmati alam negeri orang lain justru membuat saya sadar bahwa masih ada banyak tempat-tempat indah di Indonesia sendiri yang belum benar-benar terjamah. Dan Wakatobi adalah salah satu tempat itu.

Ketika banyak orang memuja betapa indahnya pantai-pantai di Pulau Bali, atau betapa mengagumkannya Pangandaran dan yang sejenisnya, saya tetap tidak bisa melupakan keindahan pantai di tanah Wakatobi. Dan yang membuat segalanya begitu surreal adalah, saya tidak perlu jauh-jauh keliling dunia untuk menemukan keindahan itu.

Hanya beberapa langkah ke halaman belakang rumah kakek-nenek, saya sudah bisa menenggelamkan jiwa saya selama berjam-jam, menikmati pemandangan laut dan pantai yang terhampar luas di hadapan saya. Dan tempat itu adalah salah satu tempat yang benar-benar menyadarkan saya bahwa, saya hanyalah sebuah titik kecil dari alam semesta yang luar biasa besar ini. And I really miss that place you have no idea.

Saya rindu mendengarkan desir ombak di pantainya yang menjadi musik pengantar tidur pada malam hari. Saya merindukan aroma lautnya yang begitu khas, udaranya yang bersih, dan tanahnya yang subur.

Saya merindukan pantainya yang indah, lautnya yang biru, dan pasir putihnya yang berkilau seperti permata. But most of all, saya merindukan keluarga saya disana. And I just can't wait to see them again this year. Maybe sooner than I think.

Muhammad Sadam

EX "Salafi" fanatic turned hardcore Liberal Progressive, Political Operative & (all-time) Pop-Culture junkie | Twitter @Muh_Sadam (personal) & @TheAdamsCorner (business) | Based in: NYC - Singapore - Jakarta - Kendari

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016