startup-photos.jpg
pexel.com
Perempuan · 4 menit baca

Kebebasan, Pendidikan Perempuan dan Mengapa Radikalisme Sulit Menang


Saya bukan pakar pendidikan, juga bukan pakar perempuan. Saya cuma tau jadi perempuan yang kebetulan lahir di tanah air tercinta Indonesia, dimana sistem pendidikannya masih kurang disana-sini katanya. Kekurangan dalam sistem pendidikan memang masih banyak dan hendaknya kita perbaiki. Namun berapa diantara anda yang bangun pagi dan bersyukur bahwa negara kita tidak membatasi pendidikan berdasarkan jenis kelamin?

Indonesia pernah mengalami masa-masa kelam. Pendidikan terutama untuk perempuan adalah hal yang diperjuangkan di tanah air, seperti yang di lakukan ibu Dewi Sartika dengan sekolah Kautamaan Istri-nya. Saat ini, walaupun masih ada kesenjangan dan masih belum tercapai pemerataan sepenuhnya, namun kita sudah bisa menemukan perempuan-perempuan tangguh yang berkecimpung  di berbagai bidang menjadi pionir, pemimpin dan pengambil keputusan.

Tahun 2012 saya menerima Surat Tanda Registrasi dari Ikatan Dokter Indonesia pada usia 24 tahun. Di tahun yang sama, Malala Yousafzai, yang saat itu berumur 14 tahun, ditembak di bis sekolahnya. Kami sama-sama perempuan, sama-sama menganut agama Islam, nasib kami berbeda jauh karena berbeda tempat lahir. Saya jauh lebih beruntung karena sampai menjadi dokter tidak ada satupun pistol yang diacungkan ke kepala saya maupun teman-teman saya yang lain.

Saya merasa tidak pantas untuk membenci sesuatu tanpa tau apa yang saya hadapi. Maka saya mencari tau beberapa hal yang harus saya mengerti dahulu.

Memangnya bagaimana pandangan kelompok-kelompok yang mengganggap diri sebagai pejuang kebangkitan kekhalifahan terhadap pendidikan? Ternyata Taliban, IS (Islamic State), dan Boko Haram semuanya jelas menunjukan anti dengan pendidikan gaya barat. Pendidikan model barat yang dikesampingkan disini termasuk ilmu pengetahuan dan matematika modern. Jangan tanyakan apa yang terjadi dengan seni dan musik, mata pelajaran “setan” itu tidak akan diberikan celah.

Bagaimana hak-hak perempuan yang mereka berikan dibawah kekuasaan mereka? Saat dicari jawabannya hasilnya menyedihkan. IS misalnya telah menerbitkan aturan resmi untuk perempuan wajib selalu tinggal dirumah, boleh dinikahkan pada usia 9 tahun, dan boleh mengenyam pendidikan hingga usia 15 tahun.

Oleh Taliban, di Afghanistan perempuan tidak boleh diperiksa oleh dokter laki-laki, namun rezim tersebut juga membatasi pendidikan perempuan sehingga pendidikan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi tenaga medis yang layak tidak mereka dapatkan. Coba pikirkan, berarti minim sekali pelayanan perawatan medis yang layak bagi perempuan.

Kelompok-kelompok radikal tersebut lupa dengan ketangguhan Khadijah dengan kerajaan bisnisnya (Ya, Rasulullah S.A.W. MEMILIH untuk menikahi seorang wanita karir), dan mereka mengabaikan bagaimana kritisnya pertanyaan-pertanyaan Aisyah kepada Rasulullah, kepandaiannya membaca dan mengingat menjadikan beliau lebih dari sebagian besar sahabat dalam ilmu. Padahal mungkin jika ada sekolah resmi saat itu, Aisyah bisa saja menjadi guru besar.

Saya jadi tidak percaya pada mereka yang mengusung panji Rasulullah tapi melarang anak-anak perempuan bersekolah setinggi yang mereka bisa. Karena Rasullulah tidak mengajarkan untuk mengambil hak perempuan untuk belajar, justru kaum sebelum Rasulullah yang membunuh anak-anak perempuan mereka karena dianggap tidak bisa memberi kehormatan pada keluarga, terutama rakyat jelata, karena cuma berguna untuk di jual jadi budak atau terpaksa jadi pelacur.

Radikalisme dan ekstremisme akan mengembalikan masyarakat ke kultur tersebut. Kultur yang memandang perempuan dengan kenistaan sehingga dianggap tidak punya hak memilih dan berkarya, tidak perlu punya tempat dalam pengambilan keputusan di masyarakat karena lebih baik mengurus anak dan dapur saja. Terlebih lagi ketika sakit dan sekarat, perempuan juga tidak layak mendapatkan perawatan dan pelayanan yang sama.

Saya paling sedih melihat perempuan Indonesia pendukung ekstremisme yang menganut paham semacam ini. Saya punya banyak pertanyaan untuk kelompok perempuan tersebut: Kok bisa? Apakah mereka lupa bagaimana sulitnya melahirkan atau rasanya sakit berat? Bagaimana bila kelompok mereka berkuasa lalu mencabut seluruh hak pendidikan untuk perempuan? Bagaimana bila tidak ada dokter perempuan yang boleh berpraktek sedangkan dokter laki-laki tidak boleh menangani?

Sebetulnya sebagai manusia yang kebagian jatah lahir di timur kita ini sudah dimodali dengan banyak rasa malu, tidak usah disuruh saja banyak ibu-ibu yang lebih memilih dokter perempuan ketimbang dokter laki-laki. Bukankah ibu ingin dokter yang memeriksa ibu sama pandainya dan sama dengan dokter laki-laki? Dan bukankah itu tidak akan ibu dapatkan bila pendidikan untuk perempuan tidak sama dengan laki-laki?

Harus disadari bahwa di Indonesia ada kelompok radikal yang bergerilya ingin memaksakan pahamnya sendiri di tanah air, dan ini semakin jelas dari hari ke hari. Yang meresahkan, semakin banyak orang yang tergoda dengan berbagai manifesto ultra-konservatif  dan berita palsu (hoax) pupuk intoleransi yang beredar di media sosial. Jujur saya takut, karena sebetulnya bukan orang jeniuspun akan dapat melihat kemana mereka ingin mengarahkan bangsa ini.

Tapi saya salah, seharusnya saya tidak perlu takut radikalisme dan ektremisme akan berkuasa.

Saat ini Indonesia sudah semakin terbiasa dengan jumlah perempuan yang menekuni profesi dan duduk di jabatan penting: dokter spesialis, kepala puskesmas, direktur rumah sakit, menteri, anggota parlemen, pengacara, kepala sekolah, presiden dan banyak sekali yang lain. Penerimaan masyarakat semakin membaik, terlebih saya ragu bangsa ini akan terima bila mereka tiba-tiba lenyap dari peradaban karena sama sekali tidak boleh keluar rumah tanpa muhrim.

Bangsa Indonesia sudah terbiasa merayakan kebebasan pendidikan perempuan kita setiap hari tanpa harus menunggu hari pendidikan nasional dengan menyekolahkan anak-anak perempuan kita sekuat tenaga, aktivis perempuan membagikan ilmu dan membina perempuan lain yang kurang beruntung, dan polisi serta perawat perempuan yang senantiasa melayani masyarakat. Masa masyarakat mau semua ini menghilang?

Pendidikan perempuan adalah suatu pencapaian yang menyejahterakan. Baiknya kebebasan pendidikan ini berlaku semakin meluas ke pelosok negeri. Jangan terjebak pada situasi yang membuat kita harus mundur beberapa abad kebelakang. Karena saat dibiarkan kelompok dengan paham yang mengurung ruang gerak perempuan berkuasa, kita bahkan akan kehilangan banyak bidan, guru, dan kader penggerak komunitas.

Begitulah, saya masih bisa yakin bahwa radikalisme tidak akan menang di tanah ini, selama semakin luas bangsa Indonesia merayakan kebebasan pendidikan perempuan dan peran perempuan berpendidikan setiap hari.