go_game.jpg
commons.wikimedia.org
Saintek · 3 menit baca

Kebangkitan Kecerdasan Buatan dan Manusia Yang Masih Belum Sadar Juga


Banyak yang bilang 2016 bukan tahun yang baik dan tidak sabar meninggalkannya segera, namun ternyata tidak semua berpikir demikian. Pada Maret 2016 sebuah program bernama AlphaGo mengalahkan Lee Se Dol, pemain profesional go dari Korea Selatan dengan ranking dan-9, semacam Grand Master dalam go. AlphaGo ini adalah sebuah program kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) karya DeepMind perusahaan Inggris milik Google

Terus apa istimewanya? Bukankah Go lebih sederhana daripada catur? Sebetulnya IBM pada tahun 1997 sudah pernah mengalahkan Grand Master catur dunia Garry Kasparov, dengan program kecerdasan buatan yang mereka namakan Deep Blue. Ya, catur sudah sejak 19 tahun yang lalu dapat dimenangkan oleh komputer. Kita sudah lama sekali kalah oleh kecerdasan buatan dalam bermain catur.

Go dengan peraturan yang lebih sederhana ternyata menjadi tantangan yang lebih berat untuk pengembang kecerdasan buatan, karena semua batu mempunyai nilai yang sama dan menjadikan kemungkinan konfigurasi total dari permainan papan 19x19 grid ini 10107. Untuk memenangkan Go tidak hanya membutuhkan kemampuan analitik namun juga sangat mengandalkan intuisi, dan karena itulah sulit sekali untuk kecerdasan buatan mengalahkan manusia dalam permainan ini, sampai awal tahun 2016.

Deep Blue buatan IBM dirancang dengan algoritma khusus untuk permainan catur, namun AlphaGo mempunyai algoritma umum dengan kemampuan interpretasi pola permainan. Konsep kerja AlphaGo terilhami dari proses pembelajaran pada otak, yaitu koneksi antar neuron yang berlapis-lapis dikuatkan dengan pengalaman, dalam hal permainan ini adalah latihan. Awalnya AlphaGo mempelajari sekitar 30 juta posisi dari permainan profesional lalu “berlatih” melawan diri sendiri.

Dengan konsep yang serupa DeepMind membuat sebuah program yang dapat mempelajari 49 macam permainan arcade. Keren kan? Pada 2016 manusia menciptakan komputer dengan kemampuan belajar dan mengembangkan diri sendiri dan berhasil mengalahkan manusia terbaik dalam permainan yang menggunakan kemampuan abstrak bernama intuisi!

Eits, jangan buru-buru senang. Kemenangan ini memang menjadi batu loncatan teknologi, namun kecerdasan buatan yang lebih rumit jika dipikirkan lebih dalam mengandung ancaman bagi kemanusiaan. Elon Musk membandingkan pengembangan kecerdasan buatan dengan manusia yang membuat pentagram dan memanggil setan atau jin. Awalnya manusia selalu berpikir mereka bisa mengendalikan apa yang dipanggilnya dari alam lain tersebut, dan pada akhirnya manusialah yang dikendalikan. Ya... semacam “Skynet” dalam saga “Terminator”.

Tidak mengapa jika bagi sebagian anda penguasaan komputer terhadap umat manusia terdengar terlalu konyol. Tapi bagaimana dengan telemarketer robot yang sudah digunakan saat ini di Amerika? Bagaimana dengan penyedot debu pintar yang sudah bisa membersihkan lantai sendiri dengan sempurna yang bintang iklannya Dian Sastrowardoyo? Sedikit demi sedikit peran manusia tergantikan. Lama-lama tidak usah lagi kita punya asisten rumah tangga karena rumah dan perabotan kita semua sudah pintar dan bisa mengurus dirinya sendiri.

Ketika peran tergantikan, pekerjaan berkurang sedangkan harapan hidup manusia bertambah panjang dan dengan teknologi rekayasa genetika, stem sel, dan printer 3 dimensi bukan tidak mungkin organ rusak dapat digantikan. Apa artinya jadi manusia kalau begitu? Apakah hanya memanjangkan hidup dan beranak-pinak? Kalaupun begitu peran apa yang akan kita sisakan untuk keturunan manusia? Sampai batas mana seharusnya kepandaian buatan ini kita berikan peran dalam kehidupan di bumi?

Saat inilah seharusnya agama berperan sebagai alat refleksi diri, bukannya terlalu sibuk berkutat dalam memberikan cap kafir dan memerangi satu sama lain. Saat ini kajian agama harusnya mulai memberikan pencerahan tentang arti keberadaan manusia di muka bumi selain hanya menghabiskan dan mengonsumsi, karena beberapa dekade kedepan kita akan mendapat saingan yang mungkin lebih sedikit memerlukan sumber alam untuk beroperasi.

Disinilah seharusnya kajian-kajian filsafat ilmu, bioetika dan humaniora mulai dianggap serius oleh mahasiswa yang bersinggungan dengan biologi, bukan cuma mata kuliah sebagai syarat SKS. Bisa dimulai dengan pertanyaan sesederhana: apakah asisten rumah tangga anda sama harganya dimata anda dengan vacuum cleaner pintar dengan sensor super sensitif dan mampu membersihkan hingga kesudut-sudut sulit tanpa minta kenaikan gaji atau minta pulang kampung setiap lebaran? Jawaban ya atau tidak, kenapa?

Kemenangan AlphaGo atas Lee Se Dol ini seharusnya menjadi pengingat bahwa kita tidak bisa lagi menyombongkan diri sebagai makhluk paling cerdas di bumi. Yang masih menjadi harapan adalah sisi kemanusiaan dari manusia itu sendiri. Aspek emosi dan sentimen yang kemudian memberikan pengaruh pada tindakan, itulah yang hingga saat ini belum diketahui prosesnya di dalam otak hingga belum bisa ditiru: kasih sayang, pengampunan, belas kasihan.

Sejarah mencatat tahun 2016, entah baik atau buruk, sebagai tahun dimana manusia sudah berhasil membuat program yang bisa mencerdaskan diri sendiri.  Manusia dimasa depan sepertinya harus lebih banyak belajar, harus lebih rajin berlatih, harus lebih peka merasa, dan harus lebih bijaksana dalam memutuskan. Waduh, banyak sekali tuntutannya ya?

Selamat Tahun Baru! Semoga kita bisa lebih bijaksana ditahun-tahun yang akan datang.