55659.jpg
Foto: republika.co.id
Perempuan · 4 menit baca

Kartini dan Perjuangannya

Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya. Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya.

Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang. Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diizinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya di mana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli, Max Havelaar, dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.

Hasrat dan semangat Kartini menjadi inspirasi yang memotivasi kaum perempuan bahwa mereka bukan warga kelas dua, dan sebagaimana kaum laki-laki, perempuan berhak mendapatkan kesetaraan atas pemikiran dan tindakannya. Banyak perempuan yang merasakan opresi itu, namun hanya segelintir yang berani bersuara dan menggugatnya, dikarenakan ketidakpahaman maupun rasa takut.

Bila kemudian Kartini memilih untuk mengubur impiannya dan menuruti tradisi, maka itu adalah pilihannya. Pilihan yang dianggap sebagian orang ironis, menimbulkan sinisme, dan dianggap suatu ketidakpantasan baginya menyandang gelar pahlawan emansipasi. Pilihan itu memang bukan konsistensinya, pilihan itu tidak menunjukkan kegarangannya, tetapi pilihan itu mampu ditoleransi dan dimaknai olehnya maka itu adalah eksistensinya.

Proses yang dijalaninya untuk melepaskan belenggu sistem dan praktik gender telah lebih dari cukup menjadi bukti sebagai kontribusi atas wacana kesetaraan gender, berikut sistem dan praktik pada masa itu, sehingga mampu menjadi pelajaran berharga pada periode selanjutnya.

Masalah Kepahlawanan Raden Ajen Kartini

Seseorang tidak perlu harus maju ke medan perang untuk bisa disebut pahlawan. Dan Kartini tidak pernah melakukannya, tidak pernah pula meminta dianugerahi gelar pahlawan, ia bahkan tidak pernah mengira ada momen-momen dalam hidupnya yang menjadikannya kelak sebagai pahlawan.

Teruntuk mereka yang merasa 21 April bukan hari spesialnya, dan Kartini tidak dapat menjadi pahlawannya, paling tidak setiap perempuan harus mampu merasa dan menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri, coz hero lies in you. Presiden sukarno pada waktu itu mencoba mencari sosok perempuan yang bisa dijadikan ikon, tetapi dari kalangan wanita Jawa.

Nah, permasalahannya ternyata tidak cukup banyak wanita-wanita Jawa yang tercatat di dalam sejarah memilki peran besar seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Dewi Sartika dan pahlawan-pahlawan lain. Sementara figur yang paling banyak diusulkan waktu itu adalah Coet Nyak Dhien.

Figur Coet Nyak Dhien dianggap sangat cocok sebagai figur yang dapat menggambarkan kalau perempuan mempunyai kemampuan yang sama dengan kaum laki-laki. bahkan catatan Belanda mengenai Cut Nyak Dhien menggambarkan bagaimana sosok Cut Nyak Dhien adalah seorang pemimpin yang kharismatik, yang memilki kecakapan dan kecerdasan sebagai pemimpin.

Bagi kaum perempuan yang menolak kepahlawanan Kartini, mungkin saja karena menurut mereka Kartini adalah lambang kelemahan ketimbang lambang emansipasi. Ya, akhirnya kembali kepada perspectif kita terhadap kepahlawanan. Kalau ternyata figur seperti Kartini merupakan gambaran ideal mengenai kepahlawanan peran perempuan di masyarakat, ya silakan. Yang terpenting di sini adalah sisi edukasi bagi setiap perempuan untuk mau memperjuangkan hak-haknya.

RUU poligami dan pernikahan siri yang sekarang sedang hangat-hangatnya, perda-perda syariat di banyak daerah yang pada akhirnya lebih banyak merugikan kaum perempuan (berapa banyak kaum perempuan di beberapa daerah yang menerapkan Perda seperti ini yang harus bermalam di tahan polisi karena keluar malam tanpa muhrimnya dan banyak lagi yang lainnya) dan banyak lagi hal-hal yang membutuhkan kemauan kaum perempuan untuk bersuara dan bersikap (amflife).

Keteladan Kartini bisa meningkatkan adrelanin para kaum wanita untuk berjuang kepada bangsa ini, kita bukan lagi dipikat oleh gender atau kemampuan. Kita sama sebagai manusia. Kita menyadari bahwa peran perempuan sangat diperlukan untuk peningkatan harkat dan martabat bangsa. Jadi, perlu perlindungan dan penjagaan kepada para perempuan.

Kita harus jauhkan penindasan dan penganiaan kepada para kaum wanita mari kita jaga perempuan seperti menjaga anak mata kita, dan mari berjuang secara bersama-sama untuk kemajuan bangsa ini.