Ketik untuk memulai pencarian

Jika Doa dalam Facebook Dikabulkan

Jika Doa dalam Facebook Dikabulkan

Foto: http://gunemanku.blogspot.co.id/

Buku tabungan masih kau pandang lekat-lekat sambil bergumam jumlahnya, kau yang duduk di sudut ruangan sekretariat. Aku tidak bisa paham gumammu. Aku pun bukan orang yang suka menerka-nerka pikiran seseorang, apalagi pikiran orang yang ku cintai. Ku datangi kau di sudut ruangan, dan aku duduk tepat di sampingmu tapi tetap tanpa menyentuhmu. Kau tutup buku itu, dan kau pejamkan matamu.

“Apa kau ada masalah dengan keuangan?” aku mencoba mencari tahu.

Kau hanya menjawab dengan desisan, tepatnya seperti berbicara pada diri sendiri, “Uang ini masih belum cukup, aku harus mengumpulkan lebih banyak lagi”, kau pun bergegas pergi.

Aku mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang membuat hatimu gelisah, karena kau bukan orang yang mudah berbagi cerita di saat sulit. Biasanya setelah masalahmu selesai barulah kau akan cerita kepadaku.

Lalu aku akan berkata seakan kau tahu bahwa aku benar-benar tidak bisa di andalkan untuk menyelesaikan masalahmu. Tapi kau selalu menjawab bahwa kau tidak ingin membuat aku kesulitan dengan masalahmu, cukuplah aku memikirkan diriku sendiri tanpa perlu memikirkan masalahmu.

Aneh, kau sungguh aneh. 6 tahun kita berkecimpung di organisasi mahasiswa (tak perlu ku sebut namanya) yang 5 tahunnya kau selalu mencoba berkomunikasi denganku dengan membawa-bawa alasan kepentingan organisasi. Mungkin bahasa anak-anak gaul itu modus belaka, tapi kau juga bukan sedang berdusta, dan aku tidak mau ke-geer-an sendiri.

Maka aku berusaha seolah-olah bahwa urusan kita hanya sekadar kepentingan organisasi, tanpa ada unsur perasaan. Ada banyak motif yang membuat kau harus meneleponku, atau bertemu denganku karena harus mendiskusikan sesuatu.

Aku bukan perempuan yang suka memberi kode, tapi aku suka menguji seberapa besar eksistensiku pada hidupmu. Apakah kau akan lebih memilih aku atau organisasi ini. Aku atau teman-temanmu, dan aku atau agenda-agenda pertemuanmu dengan pejabat penting di kota ini.

Tapi tentu saja aku tidak mau menjadi perempuan yang posesif, karena kau harus lebih mengutamakan aku dari pada urusanmu yang lain. Aku lebih senang melihatmu aktif dengan seabrek urusan-urusanmu yang akan menjadikanmu lebih besar.

Saking sibuknya kau, bisa dalam 4 bulan kita sama sekali tidak bertemu, tidak ada pesan, dan seperti tidak ada yang merasa kehilangan. Meskipun sebenarnya aku diam-diam mencari kehadiranmu di setiap kegiatan dan ku dengarkan kabarmu dari percakapan beberapa orang rekan-rekan, dengan sikapku yang seakan tidak peduli padamu.

Aku tidak punya alasan untuk menghubungimu, aku hanya bisa menunggu. Sampai suatu waktu kau akan meneleponku karena pertanyaan yang kau bisa temukan jawabannya di google. Tapi poin pentingnya adalah aku sudah senang mendengar suaramu.

Pernah suatu kali kau minta izin padaku untuk pergi lama, setahun kau tinggalkan aku. Seolah seperti sepasang kekasih ku minta kau untuk tetap di sini, tapi kau bilang tidak bisa. Kau tidak akan bisa besar jika tidak merantau. Beberapa kali ku peringatkan bahwa suatu saat kau akan tertarik dengan wanita-wanita di kota yang baru, lalu kau lupa padaku, tapi kau jawab bahwa jika hanya mencari wanita tak perlu pergi jauh-jauh.

Entah mengapa jawabanmu seolah kau telah memilih aku. Lalu ku tanya sebenarnya hatimu untuk siapa, kau jawab, “kita tidak tahu hati ini untuk siapa sampai kita menikah nanti”, aku merasa kau sedang mempermainkan aku.

Aku pun sadar bukan siapa-siapamu hanya bisa mengizinkanmu, dan pernah sekali ku candakan, tentu saja candaan yang setengahnya adalah serius, bahwa aku rindu kehadiranmu. Tapi kau bilang, “jangan rindukan aku, dan jangan memikirkan aku”. Betapa angkuhnya dirimu, tapi aku bisa apa, aku hanya perlu menunggu, sampai kau benar telah kembali. Dan kau benar kembali meskipun aku masih tidak tahu kembali untuk siapa.

Aku lalu berusaha mencari tahu masalah yang sedang kau hadapi, ku lihat kau berbincang-bincang dengan rekan-rekanmu membahas proposal. Ah, pasti mengenai dana kegiatan. Lalu kau keluar ruangan dan menelepon kesana kemari aku tidak jelas mendengar suaramu.

Lalu ku coba membaca proposal, tertulis aksi dana, tapi langsung ditarik oleh si Hilma, dan pergi berlari keluar karena Rinto sudah menunggu di atas motor. Mungkin mereka sudah menemukan donatur untuk kegiatan. Tapi kenapa aku tidak tahu kegiatan apa yang akan mereka buat, padahal baru 2 hari saja aku tidak main-main ke sekretariat.

Semua orang telah pergi membawa proposal, dan hanya ada kau yang masih asyik menelepon ntah siapa. Aku masih penasaran dan ku coba melihat data yang ada di Komputer tua, benar-benar tua karena ini komputer pemberian pengurus-pengurus terdahulu, komputer dengan tingkatan Pentium.

Aku tidak terlalu paham barang-barang elektronik, yang ku tahu komputer ini sangat berjasa disaat kami masih belum memiliki laptop dan sudah berapa banyak surat-surat dan proposal yang dibuat dengan komputer ini.

Baru saja aku duduk di kursi, dan menatap layar, layar langsung hitam. Ah, sial, ternyata ada pemadaman listrik. Aku pun beranjak keluar menghirup udara sore, sekaligus cuci mata untuk menatapmu dalam-dalam, karena ku tahu kau sangat tidak suka untuk ku pandang. Aku baru saja duduk dibalai-balai pohon nangka, kau sudah masuk.

Aku masih ingin menikmati tiupan angin sore ini yang sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Betapa romantisnya suasana seperti ini jika saja sekretariat inibukan sekretariat tapi rumah kita berdua, ya rumah aku dank au yang masih sibuk dengan urusanmu.

Sering aku berkhayal sore-sore seperti ini kita jalan-jalan berdua lalu akan terkena hujan, dan kita berteduh sampai hujan reda, tapi pasti itu tidak akan terjadi. Karena kau selalu membawa mantel, dan jika sudah tahu akan hujan kau tidak akan pernah mengajakku jalan-jalan. Tak pernah sekali pun kita berdua di bawah hujan, seperti drama-drama korea yang romantis itu. Benar saja hujan turun, dan aku bergegas masuk ke dalam.

Aku pikir ini tidak benar, jika kita hanya berdua, senja sudah menghampiri, listrik padam, dan hujan deras di luar. Meskipun aku merindukanmu tapi aku tetap takut jika kita hanya berdua saja. Dalam keremangan ruangan ku dengar isak tangismu. Ternyata kau baru saja selesai mendirikan sholat maghrib. Tanpa suara ku coba mendengarkan doa-doamu, adakah kau sebut namaku.


Follow Qureta Now!

“Sembuhkan, dia ya Allah, aku mohon sembuhkan dia”. Di depan pintu yang setengah terbuka ku dengarkan rintihanmu, sembuhkan? Siapa yang sakit? Aku mencoba mengingat-ingat. Mungkin saja Ayahnya, karena ku tahu Ibunya sudah tiada 3 tahun yang silam.“

Dia wanita yang kusayangi, dan belum sempat ku sampaikan rasa sayangku padanya”. Aku semakin berpikir keras, ternyata dia yang dimaksud adalah wanita, apakah adiknya? Karena aku tahu dia memiliki seorang adik perempuan. “Ya Allah, Ya Rahman, berikan aku waktu untuk bisa menghalalkannya, dan melengkapi agamaku, ku mohon sembuhkan dia.”

Dadaku serasa sesak, siapakah wanita itu yang membuat dia berdoa begitu perihnya. Siapakah wanita yang sakit itu, wanita yang akan dia halalkan. Apakah selama ini dia menjalin hubungan dengan perempuan lain tapi aku tidak tahu. Atau apakah dia diam-diam menyukai seseorang selama setahun dia pergi kemarin.

Kakiku rasanya lemas mendengarkan doa-doanya, karena ku tahu itu bukan aku. Betapa ternyata selama ini cintaku hanya sepihak, perasaan tulusku tidak terbalas.

Benar sudah bahwa aku hanya ke-geer-an saja, dan berpikir bahwa dia yang selalu ada untukku itu sebagai tanda bahwa aku ada dihatinya. Bisa jadi bahwa dia juga selalu ada untuk wanita-wanita lain. Aku melangkah mundur menjauhi kamar, dan air mataku menetes.

“Liana, kemarilah”. Langkah kakiku terhenti. “aku tahu sejak tadi kau berada disekitarku, masuklah kesini”. Aku memasuki kamar yang pintunya setengah terbuka itu, dan duduk di sisi kasur tanpa kerangka tempat tidur. Dari tempat duduk ini aku bisa melihat dengan jelas wajah arif yang sedang tersedu menangis dalam doanya. Meskipun cahaya temaram, tapi aku masih bisa melihat cukup jelas.

“Liana, apakah kau benar-benar ingin aku menyebut namamu dalam doaku?”

“Tentu saja aku ingin, aku ingin tahu hatimu untuk siapa. Hanya jika aku mengetahui namaku kau sebut dalam doamu maka aku bisa yakin bahwa hatimu hanya untukku”.

“Sungguh kau yakin, dan tidak akan menyesal jika ku sebut namamu?”.

“Arif, kau sudah tahu selama beberapa tahun ini aku menunggumu. Sudah ribuan kode ku berikan agar kau mendekati aku. Tapi tak satu pun bisa kau artikan. Bahkan sudah dengan terang-terangan ku tanyakan hatimu, tapi tak juga kau jawab”.

Arif hanya menunduk, dan ku lihat air mata menetes di pipinya. Ini untuk pertama kalinya aku melihat dia menangis.

“Liana, bagaimana jika aku tidak menyebut namamu dalam doaku? Tidak bisakah kau menunggu sedikit lagi”.

Aku memamalingkan wajah ke jendela luar kamar, alih-alih untuk mengurangi rasa kesal karena jawabannya. Sudah sekian lama aku menunggu, kenapa dia masih meminta aku menunggu.

“Liana, apa kau siap dengan konsekuensi apa yang terjadi jika ku sebut namamu dalam doaku?”

“Konsekuensi apa? Kenapa kau membuat semua ini menjadi begitu rumit?”.

Arif mengambil telepon genggamnya, dan membuka akun media sosial facebook miliknya, dan menyodorkannya kepadaku.

“Tuhan, jika sekali saja dia menyebut namaku dalam doanya, maka aku akan ikhlas untuk pergi dalam damai dari dunia ini”.

Aku tertawa membaca status yang ku posting 2 hari yang lalu. “Arif, kau tahu benar kalau ini memang untukmu, lalu kenapa kau masih tidak menyebut namaku?”.

“Apa kau benar-benar ingin mati setelah aku menyebut nama dalam doaku? Kenapa kau menjadi segila ini? Aku menyukaimu sebagai Liana yang cerdas, bukan yang emosional dan ingin mati karena aku. Meminta dan berdoa pada Tuhan”.

“Apa tidak kau lihat kalau statusku juga berdoa pada Tuhan?”.

“Yah, lalu bagaimana jika itu terjadi? Bukankah akan sia-sia jika aku telah menyebut namamu lalu kau akan pergi meninggalkan aku untuk selamanya”.

Aku tertawa dan bergeleng-geleng melihat kepolosannya, “Arif, please itu hanya facebook, hanya sosial media.Tuhan tidak main media sosial”. Aku hamper saja tertawa dengan cara berpikirnya “Jaga ucapanmu Liana, bukankah tidak ada sehelai daun gugur yang tak luput dari kuasa Tuhan, apalagi hanya facebook”. Aku berusaha untuk lebih serius, “Arif, aku ada di hadapanmu sekarang, kalua begitu tidak perlu kau sebut aku dalam doamu, katakan saja kalau hatimu benar untukku.”

Arif menunduk dan berusaha menahan tangisnya. Cukup lama untuk aku bisa terlepas dari kondisi yang canggung ini, antara rasa bersalah atau keinginanku untuk memastikan hatinya.

“Liana, kau sadarkah kau kalau saat ini kondisimu sedang dalam kritis di ruangan ICU karena kematian batang otak. Kenapa kau siksa aku begitu dalam, jika setelahku sebut namamu maka aku akan kehilangan teman terbaikku untuk selama-lamanya. Kau yang sekarang di hadapanku bukan lah kau seutuhnya, kau hanya bayanganmu yang berlari dari kenyataan. Sadarlah Liana”.

“Apa kau yakin Arif? Kalu begitu buktikan saja padaku jika benar Tuhan tidak main media sosial, sebutlah aku dalam doamu. Jika aku benar tentu aku akan sadar kembali. Jangan pernah sekali pun kau salahkan dirimu atas permintaanku. Aku akan menganggap itu ungkapan paling romantis dari pada kata-kata pujangga lain”.

Arif, kembali merapikan dirinya, dan berdoa. Dia berdoa dengan sangat lirih, hampir-hampir aku yang begitu dekat tidak mendengar ucapannya. Namun aku masih bisa mengerti gerakan bibirnya.

“Tuhan, Padamu Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, dan Maha Kuasa atas segala yang terjadi di muka bumi ini, berikanlah kesehatan kepada perempuan yang ku cintai. Liana”.

Suara telepon seluler begitu nyaring terdengar, dengan sigap Arif menjawab panggilan, dan dia terdiam lalu melihat ke arah Liana. Liana sudah tidak lagi ada di sampingnya, dan Liana sudah tidak akan pernah lagi berada disampingnya.

Nurhannifah Rizky Tampubolon

Menjadi manusia pembelajar adalah kewajiban untuk bisa memanusiakan manusia, Kader HMI, Alumni Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016