index_18.jpg
singaputi.blogspot.com
Agama · 2 menit baca

Jangan Jadi Muslim Gampangan!

Ajaran Islam menyerukan para pemeluknya berbuat baik kepada sesama dan semesta. Tidak ada kontradiksi antara agama dan kehidupan. Justru kontradiksi jika agama ditafsirkan semena-mena untuk kepentingan golongan semata.

Para pemeluk agama menjalani hidup untuk taat kepada ajaran Tuhan. Ketaatan tersebut terealisasi dalam sikap sehari-hari. Namun karena beragam cara mereka dalam memahami agama menjadikan beragam pula representasi agama.

Orang Muslim diperintahkan taat kepada Allah dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya. Dari konteks pemahaman demikian jelas Allah memerintahkan orang Islam berbuat kebaikan bukan sebaliknya. Orang Islam diperintahkan menebarkan perdamaian bukan sebaliknya.

Akhir-akhir ini orang Islam jadi gampang tersinggung. Berbeda sedikit dengan kelompok lain jadi gampang marah. Ada terobosan baru di dunia sains gampang mengatakan bid’ah. Ada kelompok lain sedang beribadah gampang sekali mengatakan itu sesat.

Fenomena Muslim gampangan ini gampang kita temui di sekitar kita. Memang lucu. Ada yang tampak sangat taat beragama, dilihat dari cara berpakaian sepertinya mengikuti sunnah Nabi. Tapi melihat orang pakai sarung dan peci, gampang sekali mengatakan itu bid’ah, sesat, kurafat, ahli neraka, tidak ada di zaman Nabi.

Ada orang kumpul-kumpul sedang tahlilan, baca yasin, dibilang sesat, kafir. Gampang sekali sepertinya mengatakan demikian. Apa salahnya orang berkumpul membaca kalimat tauhid, membaca ayat-ayat al-Qur’an, jangan jadi muslim gampang marah, Nabi saja tidak demikian. Orang-orang yang berkumpul bagi-bagi hasil korupsi itu lo yang sesat, baca kalimat tauhid kok sesat.

Lebih ironis lagi, ada yang taatnya minta ampun, jidatnya gosong hingga tulang tapi gampang sekali emosi. Ada orang pakai motor itu bid’ah, tidak ada di zaman Nabi. Ada muadzin di musola sedang adzan dengan pengeras suara, dibilang itu sesat. Sedang memuji-muji nama Allah setelah adzan itu bid’ah, kalau memuji nama koruptor gimana? Bid’ah?.

Jangan jadi muslim gampangan. Ada metode baru menafsirkan al-Qur’an, hermeneutika, itu sesat milik orang barat. Katanya taat pengikut setia Nabi. Ada gubernur non-muslim yang adil, ramai-ramai menyesatkan. Kok gampang sekali melabeli sesat, bid’ah, kafir dan sejenisnya.

Hidup cuma sekali tapi gampang sekali melabeli. Muslim gampangan justru membahayakan diri sendiri. Sedikit-sedikit salah, sesat, bid’ah dan tidak ada di zaman Nabi. Kalau memang begitu silahkan hidup seperti di zaman Nabi. Jangan gunakan produk dunia modern-kekinian.

Jangan pakai kendaraan bemotor, pakai saja unta. Jangan gunakan sarung dan peci, pakai saja gamis ala zaman Nabi. Tinggalkan alat kumunikasi. Jangan pakai listrik karena itu bid’ah ditemukan orang non muslim.

Gampang sekali mengatakan sesat. Kita hidup yang terlampau jarak ribuan tahun dari masa Nabi. Tidak bisa kita menjalani hidup seperti Nabi. Harus dipertimbangkan pola hidup masyarakat, kebudayaan, tradisi, dan juga letak geografis.

Justru Nabi bangga kepada umat kekinian karena Islam terus berkembang. Mau jadi apa seluruh dunia jika semua orang Islam harus hidup seperti Nabi. Akan jadi peradaban seperti apa dunia ini. Nabi mewajibkan umatnya untuk belajar. Bukan hanya meniru.

Konsekuensi perintah Nabi kepada umatnya untuk belajar adalah perubahan dan peradaban. Ilmu pengetahuan berkembang dari masa ke masa. Teknologi semakin canggih yang kian memudahkan peran agama dalam kehidupan manusia.

Mari merubah cara berpikir kita yang masih gampangan, gampang marah, gampang menyesatkan, gampang mengkafirkan dan gampang membid’ahkan. Muslim harus berpikiran terbuka, berpikir multidisiplin bukan lagi monodisiplin.

Modernitas, perubahan, dan peradaban bukan ancaman, itulah zaman. Memang harus berbeda dari zaman Nabi atau zaman siapapun. Justru muslim harus bangga Nabi mengajarkan keteladanan berpikiran terbuka, tidak gampangan.

Saya yakin jika Nabi Muhammad masih hidup sampai sekarang, pasti ia lebih modern dan lebih maju dari peradaban ini.