Ketik untuk memulai pencarian

Herrenmoral dan Herdenmoral: Budak dan Tuan

Herrenmoral dan Herdenmoral: Budak dan Tuan

Floksdayak

Dalam buku Jenseits vom Gutten und Bosen, Nietzsche mengatakan, bahwa ada dua macam moralitas manusia. Keduanya dibagikan ke dalam dua hal: moralitas tuan (Herrenmoral) dan moralitas budak (Herdenmoral).

Moralitas tuan dan budak menghempas serta menjungkirbalikkan kemapanan moralitas politik bangsa. Bangsa yang pada identiknya baik, kini dilaburi oleh sebuah pertontonan apik moralitas tuan dan budak. Maka suatu nilai kebaikan itu sendiri disingkirkan dari relasi moralitas tuan dan budak.

Moralitas bangsa yang menganaktirikan keadilan dan kebenaran sedang mengagungkan moralitas tuan dan budak yang Nietzsche kemukakan. Pendapat beliau mendapat sebuah tanggapan positif jika dikonfrontasikan pada sebuah bibir realitas yang berbicara dalam hidup manusia.

Adanya sebuah ketegangan antara suatu kebaikan hakiki dan kebaikan berdasarkan konsensus sosial, asali. Moralitas tuan menyata terutama dalam sebuah birokrasi. Tidak ada musuh sejati, yang ada hanyalah sebuah persahabatan dalam suatu kepentingan tertentu.

Pemutlakan kebenaran pada sebuah otoritas. Karena kalau tidak yang terjadi hanyalah sebuah kesimpangan arah. Perbuatan ABS (Asal Bapak Senang) mendepak hidup manusia pada sebuah penghormatan seseorang karena status quo.

Keagungannya tat kala ia sedang memegang sebuah jabatan pada sebuah instansi atau lembaga pemerintahan.

Kebenaran dan keadilan dijungkirbalikkan makna. Kebaikan itu bukan karena sesuatu dianggap baik oleh orang atau tokoh tertentu, tetapi lebih dari itu, kebaikan adalah kebaikan itu sendiri. Demikian pun keburukan dalam dirinya terkandung keburukan. Keburukan akan menghancurkan wajah kemanusiaan kita. Kita dihadapkan pada situasi di mana manusia harus sungguh dihormati keberadaannya.

Keberadaannya tolak ukur pada sebuah kebaikan. Nilai kebaikan harus dikejar sedemikian rupa karena memang kebaikan itu sendiri adalah hakikatnya baik. Tidak pernah baik itu hakikatnya buruk. Sebaliknya buruk adalah buruk, tidak bisa dibalikkan demi sebuah kebenaran.

Follow Qureta Now!

Keburukan bukan karena ada sebuah penilaian eksternal bahwa sesuatu itu buruk, tetapi di dalam tubuh keburukan sendiri ada keburukan dasar. Maka sebuah moralitas tuan itu berkutat soal kebaikan dan kejahatan.

Perjuangan nilai kebaikan atau keadilan tidak berdasarkan sebuah pola relasi tuan dan budak. Adanya sebuah aktus kesadaran, kebaikan itu harus diperjuangkan demi sebuah kemapanan hidup bonum commune (kebaikan bersama).

Tidak mereduksi sebuah kebenaran atas sebuah relasi tuan dan budak.
Relasi moralitas tuan dan budak mendeskripsikan adanya sebuah tingkat atau stratifikasi dalam hidup manusia. Stratifikasi tersebut melahirkan sebuah kesenjangan moral dalam diri manusia. Eksistensi manusia dilihat berdasarkan kemapanan dan tidak mapannya sebuah kehidupan. Pendiskreditan ‘budak’ oleh ‘tuan’ mengindikasikan sebuah kesenjangan dan jembatan yang lebar untuk menghubungkan keduanya.

Hal itu justru sedang diaplikasikan dalam sebuah ranah hidup bersama. Manusia ada yang diperas demi ke-egoa-an sang tuan. Normal sekali, sang hamba atau budak diperlakukan layak seorang budak oleh tuan.

Ulasan di atas, mengetuk kesadaran kita pada sebuah pertanyaan eksistensial dan fundamental, bagaimana dengan moralitas politik bangsa Indonesia? Adakah sebuah praktik yang mengagungkan dan mempertonton moralitas tuan dan budak. Sejauh pengalaman berkaca, tanah air kita sedang mempertontonkan hal itu. Banyak fakta mempertegas hal demikian.

Pemerintah sudah mengagungkan jabatan mereka sebagai seorang pemimpin tanpa memperhatikan jeritan golongan kecil. Tuan tidak boleh dikritik, karena kritikan itu sakit dan pedis. Tuan tidak melihat lebih dalam orang yang mengeritik lebih sakit dan menderita ketika kritikan tidak didengarkan.

Representasi penindasan terhadap kehidupan sesama manusia menukik kesadaran refelektif, mau dibawa ke mana negeri ini ke depan.

Kalau demikian, orang sedang merebut sebuah kekuatan. Orang yang kuat bisa menakluk orang yang lemah. “Tidak berusaha membuat manusia ‘lebih baik’, tidak berusaha mengajarkan moralitas dalam bentuk apa pun kepada manusia, seolah-olah ada sebuah moralitas mutlak atau ada jenis manusia tertentu yang ideal, melainkan kita perlu menciptakan kondisi-kondisi yang hanya bisa dijalani oleh manusia-manusia yang lebih kuat di mana agar mereka dapat menjalaninya.

Sehingga mereka mendapatkan sebuah moralitas dengan sendirinya, yang membuat mereka lebih kuat. (Kehendak Berkuasa 981) .

Jadi, kita bisa melihat bahwa orang yang kuat bisa menghancurkan orang yang lemah. Kondisi politik pun demikian. Siapa yang kuat, ia akan bisa menghancurkan orang yang lemah. Maka tidak jarang, orang rela menghancurkan teman sendiri demi kekuasaan perutnya. Itulah permainan cantik politik.

Rakyat kecil boleh bertanya, mau makan apa hari ini? Sedangkan orang yang salah menggunakan otoritas kepemimpinan bertanya, mau makan siapa lagi hari ini? Perbedaan kedua pertanyaan ini mematikan nilai moral dalam kehidupan manusia.

Kepeduliaan terhadap sesama manusia tidak lagi menjadi cerminan kehidupan. Kehidupan hancur tat kala egoisme merasuk hati yang suci. Hati yang suci menjadi kotor dan kebal dengan segala kebobrokan moral.

Bangsa kita, serentak bertanya, siapa lagi yang bisa dijadikan sebagai harapan bagi pembangunan misi kemanusiaan. Misi kemanusiaan menjadi semacam dunia impian. Karena kehadirannya jarang mendapat tempat dalam ranah perpolitikan di tanah air. Manusia kini hanya tampil sebagai sosok yang mematikan bagi sesama. Dentuman mematikan itu menjadi sebuah tantangan bagi perkembangan moral bangsa.

Damianus Febrianto Edo

Nyatakan Dalam Pena. Mahasiswa Komunikasi, Jurnalistik IISIP, Jakarta. Twitter: @edo_febriedo, Facebook: Febri Edo

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016