boneka-danbo-3.jpg
http://ribuan-cara.blogspot.co.id/
Cerpen · 10 menit baca

Hemodialisa


Ini cerita keluargaku, yang mungkin bisa saja akan dialami juga oleh keluargamu. Aku menyebut keluargaku dengan istilah keluarga charger-an. Sebab jika kami tidak discharge maka kami akan low-bat dan kemudian mati, bedanya kami akan mati untuk selamanya. Jangan berpikir bahwa aku adalah laptop, handphone atau alay elektronik lainnya.

Tapi aku dan keluargaku memang membutuhkan mesin-mesin untuk bisa memperpanjang kehidupan kami. Tapi tidak jarang juga selama kami discharge justru membuat tubuh kami semakin lemah dan kemudian mati total. Kamilah orang-orang yang bisa mati dengan mudah namun bisa saja berumur panjang. Tuhan memang Maha Kuasa atas semua umatnya, sehingga benar bahwa umur kita tidak ada yang tahu.

Apakah kau sudah tahu kenapa aku menyebut keluargaku dengan istilah charger-an? Mungkin kau sudah menebak-nebak dari tadi, bisa jadi tebakanmu benar, bisa jadi juga aku yang salah, bahwa kau tidak menebak. Aku dan keluargaku menjalani terapi hemodialisa. Yup, kau benar hemodialisa adalah terapi pengganti ginjal.

Terapi pengganti ginjal ada yang disebut dengan CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) dan ada yang menggunakan mesin hemodialisa. Sebelumnya kami menyebutnya dengan cuci darah. Kenapa darah keluargaku harus dicuci? Apakah kotor? Yah tentu saja karena darah kami kotor, tapi tidak sekotor hati para koruptor yang merampas hak rakyat. Darah kami kotor karena ginjal kami sudah rusak.

Seperti yang kita tahu bahwa ginjal merupakan penyaring dan membersihkan darah. Ginjal seperti saringan halus dalam tubuh, namun saringan itu perlahan bocor tanpa kami sadari sehingga darah kami tidak disaring dan tetap kotor karena sampah-sampah itu menumpuk. Sampah-sampah yang sering dokter atau perawat sebut ureum dan kreatinin.

Baiklah, aku tidak akan berpanjang-panjang membahas masalah kerusakan ginjal dan terapi penggantinya, karena aku hanya ingin menceritakan kisah keluargaku yang kini menjadi keluarga charger-an.

Ayahku adalah kepala keluarga layaknya keluarga lain sekaligus pemimpin kami juga sehingga kami sekeluarga menjadi keluarga charger-an. Tentu saja aku tidak menyalahkan hal ini kepadanya. Ayahku seorang pekerja keras, sama seperti ayah-ayah lainnya. Pergi pagi pulang petang, tidak jarang Ayahku pulang malam.

Seperti Ayah lainnya ayahku juga perokok aktif, dan pecinta kopi. Aku sangat mengagumi Ayahku karena dia akan melakukan apa saja selama itu halal untuk menghidupi keluarga kami dan agar aku bisa sekolah setinggi-tingginya.

Ayahku pekerja kantoran, seperti pekerja lainnya dengan lingkungan ruangan yang memiliki AC dan intensitas mobilisasi yang rendah. Ayahku juga sangat jarang berolahraga, hanya sesekali dengan rekan-rekan kerja jika ada pertandingan fulsal, atau jika aku paksa untuk berlari di taman kota saat ada acara ­car free-day, itu pun karena kami berharap dapat lucky draw. Sekali pun tidak pernah, begitulah jika kita terlalu berharap.

Pernah suatu ketika Ayahku sedang melakukan perjalanan kerja ke Penang. Ibuku berpesan agar dia sempatkan check up kesehatan di sana. Demi wanita yang sangat dia cintai Ayahku pun melakukan check-up, padahal di Indonesia hal seperti itu juga bisa dilakukan.

Seperti tersambar petir, ternyata ayahku divonis harus segera melakukan cuci darah atau hemodialisa. Jika tidak umur dia tidak akan sampai sebulan lagi. Betapa gilanya dokter-dokter dan pemeriksaan di Penang ini. Ayahku spontan emosional dan marah-marah, tidak percaya dengan hasil pemeriksaan yang sedang dia terima.

Setiba di Indonesia, Ayahku tidak langsung menceritakan kabar buruk itu kepada kami, sebab dia takut membuat kami khawatir. Meskipun Ibuku langsung bertanya hasil pemeriksaan dari sana, namun ayah menjawabnya baik-baik saja tanpa memberikan hasil pemeriksaannya.

Dari salah seorang rekan kerjanya ayah direkomendasikan untuk menemui seorang professor yang menekuni kerusakan ginjal dan telah memiliki klinik khusus hemodialisa. Ayahku yang tentu saja belum percaya pernyataan dokter dari penang itu langsung menemui professor tersebut. Itu semua dilakukan tanpa sepengetahuan kami. Tidak ada tanda-tanda dia sakit, dan dia juga merasa bahwa tubuhnya sehat sehingga dia berpikir gila jika dia harus menjalani cuci darah.

Ayahku juga menjalani serangkaian pemeriksaan fungsi ginjal di klinik professor tersebut. Saat konsultasi Ayahku memberikan hasil pemeriksaan sebelumnya. Hasilnya justru saat ini fungsi ginjal Ayahku semakin memburuk dan harus segera cuci darah. Padahal saat itu ayahku masih berumur 47 tahun.

Saat ayahku keluar dari ruangan konsultasi tiba-tiba ia pingsan. Ia tak mampu lagi berkilah, terpaksa menjalani cuci darah. Aku dan Ibuku langsung dihubungi pihak klinik, sebab untuk menjalani terapi Ayahku harus dilakukan operasi terlebih dahulu. Operasi pemasangan double lumen namanya.

Double lumen adalah selang yang dipasangkan ke tubuh kita melalui pembuluh darah besar. Biasanya selang tersebut diletakkan dileher atau bahu. Selang itulah yang nantinya akan terhubung dengan selang yang akan digunakan mesin hemodialisa untuk membersihakan darah. Namun selang itu hanya berlaku untuk 2 atau 3 bulan saja, ada juga jenis selang yang bisa bertahan sampai tahunan.

Double lumen ini sifatnya hanya sementara. Setelah nanti Ayahku dipasang akses vascular atau sering disebut cimino maka double lumen itu akan dilepas. Selanjutnya Ayahku akan cuci darah dengan akses vascular cimino tersebut. Tanpa pikir panjang aku dan ibuku segera menyetujui tindakan operasi tersebut, kami sangat terkejut melihat Ayahku yang tiba-tiba saja sudah tidak sadarkan diri.

Begitulah cerita tentang Ayahku yang memulai kehidupan kami dengan setiap 2 minggu sekali harus mengunjung klinik ini untuk bisa memperpanjang hidupanya. Setiap hari Rabu dan Sabtu aku atau ibuku atau kami berdua menemani ayahku. Pemimpin perusahaannya sudah memberikan izin untuk tidak masuk kerja setiap hari Rabu. Hari Sabtu kantor tutup, sehingga kami akan weekend di klinik ini.

Lalu siapa selanjutnya yang terkena apakah aku atau ibuku? Setelah 5 tahun menjalani hemodialisa, demi cinta Ibuku kepada ayah yang sangat dalam, ibuku mendonorkan sebelah ginjalnya untuk ayahku. Namun itu hanya berlangsung beberapa bulan. Ayahku kembali menjalani hemodialisa. Padahal biaya besar sudah keluar untuk melakukan operasi transplantasi ginjal itu.

Selang 2 tahun selanjutnya ayah dan ibuku bersama-sama menjalani hemodialisa. Ayahku sangat menyesal saat tahu ibuku divonis bahwa ginjalnya sudah tidak berfungsi. Jika saja ayahku tidak menerima ginjal ibuku bisa saja hal ini tidak terjadi. Ibuku selalu memaksa ayahku agar menerima ginjalnya, sama seperti saat dia muda dulu yang memaksa ayahku untuk menerima cintanya.

Ibuku menjalani hemodialisa di kilinik yang sama dengan ayahku. Saat itu usia ibuku sudah 50 tahun. Setiap senin dan kamis aku selalu mendampingi ibuku. Ayahku setelah pulang kerja akan menjemput kami di klinik ini. Klinik ini yang sebentar lagi akan menjadi rumah sakit spesialis ginjal karena setiap tahun pasiennya terus bertambah dan mesin-mesinnya terus diperbarui. Apalagi sejak jaminan kesehatan dari pemerintah sudah diberlakukan di klinik ini.

Klinik ini semakin berkembang pesat. 1 kali hemodialisa bisa terkena biaya 650ribu sampai dengan 1juta rupiah. Tentu tidak terlalu mahal jika kehidupan bisa menjadi panjang. Tapi itu untuk 1 kali, sementara kami harus menerima 2 kali terapi dalam 1 minggu.  Aku sangat bersyukur saat itu ayahku bekerja di perusahaan yang memberikan jaminan kesehatan. Begitu juga ibuku yang memiliki askes saat itu, yang sekarang berganti nama menjadi BPJS.

Dari beberapa pasien aku dengar bahwa sebelum ada jaminan kesehatan mereka bahkan sudah menjual aset-aset miliknya. Ruko dan sebidang tanah sudah habis djual untuk bisa menyambung hidup. Meskipun sampai saat ini masih ada juga 2 atau 3 pasien yang menjalani hemodialisa tanpa jaminan kesehatan alias bayar pribadi.

Belakangan aku tahu bahwa mereka adalah pengusaha yang kaya raya, dan alasan mereka untuk tetap menjadi pasien pribadi adalah untuk menikmati hasil pencaharian selama masa sehatnya. Dalam benakku, cara orang menikmati hidup memang berbeda-beda.

Begitulah cerita tentang kedua orang tuaku yang memulai hidupnya menjadi manusia charger-an. Lalu bagaimana dengan aku?

Sebelumnya aku pernah bercerita bahwa aku sering memaksa ayahku untuk ikut berolahraga denganku. Aku sangat menyukai olahraga, apalagi futsal. Sejak di sekolah aku sering mengikuti pertandingan futsal. Sampai pada saat aku selesai latihan futsal di sore hari.

Keesokan paginya saat aku bangun tidur ku lihat wajah, tangan dan kakiku tiba-tiba bengkak. Aku seperti ikan fugu, kalau dalam cerita Spongebob akulah si nyonya Puff yang tiba-tiba menggelembung ketika marah. Tapi kali ini aku sedang tidak marah. Aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi. Jika tubuhku ditekan maka akan membentuk cekungan dan membutuhkan beberapa detik agar kembali seperti semula.

Ibuku yang melihat tubuhku membengkak sangat kaget. Aku masih ingat kalau hari itu adalah hari Rabu, jadwal Ayah cuci darah. Pagi itu juga Ayahku langsung mempersiapkan mobil dan membawaku ke klinik tempat di mana dia menjalani cuci darah, padahal jadwal Ayah cuci darah nanti siang. “

Profesor itu berada di kliniknya setiap pagi dan malam hari, semoga saja pagi ini Prof sedang berada di sana dan bisa langsung konsultasi tentang tubuhmu,” katanya. Aku yang merasa mual dan ingin muntah menuruti saja. Tubuhku terasa begitu berat, dan kepalaku semakin pusing.

Hari itu juga aku divonis mengalami AKI, dalam pikiranku aku sedikit tenang, karena ini bukan berarti aku langsung cuci darah. Namun seiring berjalannya waktu tidak lama lagi aku akan bergabung bersama orang tuaku. AKI (Acute Kydney Injury) adalah kematian sebagian organ ginjal, atau bahasa lainnya sering disebut GGA (Gagal Ginjal Akut).

Aku tahu kenapa tubuhku tiba-tiba bengkak, karena kotoran-kotoran yang terbuang bersama air seni tertahan di dalam tubuhku. Profesor mengatakan sampah-sampah itu dengan istilah kreatinin. Aku tidak menyadari bahwa beberapa minggu ini aku jarang buang air kecil atau kalau pun aku buang air kecil hanya sedikit.

“Kenapa ginjal saya rusak prof? Padahal saya sering dan rutin olahraga. Tidak seperti kasus yang terjadi pada Ayah dan Ibuku.” Aku bertanya pada profesor karena aku sangat penasaran kenapa ini bisa terjadi padaku.

“Selama ini apa Rinal sering minum minuman alkohol, minuman isotonik atau minuman berasa lainnya?”

“Kalau alkohol tentu saja tidak Prof. Tapi setiap kali selesai olahraga aku hampir selalu minum minuman isotonik. Jika sedang tidak olahraga juga, karena minuman itu cepat menyegarkan dahaga, Prof, sehingga aku tidak harus banyak minum air putih.” Aku sangat percaya diri bahwa yang kulakukan selama ini sudah benar dan bisa menjaga kesehatanku.

“Justru minuman kemasan seperti itu yang memperberat kerja ginjal, ditambah lagi kamu rutin olahraga. Seharusnya kamu perbanyak minum air putih. Saat ini belum waktunya kamu melakukan hemodialisa, tapi kamu harus menjaga makanan yang tidak boleh asin dan minum juga harus dibatasi. Itu pun jika Rinal tidak ingin seperti Ayah dan Ibu.”

Ibuku yang sedari tadi menemani, menangis di sampingku, dan Ayahku tidak mampu berkata-kata. Seperti tinggal menunggu waktu saja aku akan bergabung bersama kedua orang tuaku.

Mulai sejak itu aku tidak pernah lagi makan bakso, mie ayam, mie sop, dan makanan nikmat lainnya, karena garam-garam itu hanya akan memperberat kerja ginjalku. Makan makanan yang mengandung protein pun aku dibatasi, sehingga Ibu menjadi ahli gizi yang sangat handal untuk menjaga kesehatan keluarga kami.

Mengenai minuman, jangan tanya betapa menderitanya aku karena minuman. Jumlah air yang masuk ke tubuhku harus kuhitung dengan tepat. Jika tidak, tubuhku akan membengkak.

Jika dalam 24 jam air seni yang kukeluarkan sebanyak 250 ml, maka jumlah itu akan ditambahkan 500 ml, sehingga dalam sehari aku hanya boleh minum 750ml. Itu pun harus dihitung dengan kuah-kuah yang aku makan, seperti kuah sup atau kuah sayur. Bersyukurlah bagi orang-orang yang masih bisa minum air putih dan menikmati makanan yang beragam rasa.

Tak ayal. setelah 3 tahun mengikuti diet ginjal sehat aku pun bergabung dengan orang tuaku dan menjalani hemodialisa. Jadwal hemodialisa yang kujalani setiap Selasa dan Jumat. Sehingga keluarga kami setiap harinya akan mengunjungi klinik ini.

Sebenarnya bisa saja jika jadwalku bersamaan dengan jadwal Ayah dan Ibuku, tapi kami memilih sendiri-sendiri, karena bisa saja saat hemodialisa, tubuh kami tidak bertahan dengan baik dan terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit.

Bisa dibayangkan betapa paniknya Ibuku jika jadwalku dan ayah bersamaan. Begitu aku yang ngedrop, maka ayah yang saat itu sedang hemodialisa juga akan terganggu psikisnya dan berpeluang besar untuk ngedrop. Maka ibuku akan sendirian menghadapi kebingungan dan kesedihan yang berlapis.

Aku tetap bersyukur meskipun aku dan keluargaku menderita penyakit gagal ginjal. Setidaknya penyakit ini tidak membuat keluarga besar malu seperti penyakit kejiwaan yang meskipun pada dasarnya kami tetap harus menjalani perawatan seumur hidup.

Aku juga harus berjuang menyelesaikan tugas akhir perkuliahanku, dan belum lagi mencari pekerjaan bagi aku yang harus rutin menjalani terapi ini. Belum lagi mengenai jodoh, anak gadis mana yang mau dengan lelaki seperti aku atau jika pun dia mau maka bisa dipastikan keluarganya akan menolak aku mentah-mentah.

Bagaimana pun hidup tetap harus disyukuri, meski beberapa kali candaaan menyakitkan aku terima, seperti: aku yang akan segera mati sehingga tidak perlu belajar dan bermain lagi, cukup perbanyak ibadah. Justru orang yang mengolok-olok itu yang terlebih dulu menghadap Tuhan. Betapa mulut memang harus dijaga, karena bisa-bisa akan ada karma atau justru yang salah berucap akan masuk penjara karena dituntut atas perbuatan tidak menyenangkan.

Penyakit gagal ginjal tidak mengenal usia. Bukan berarti mereka yang sudah berusia 40 sampai 50 tahun yang beresiko. Aku sebagai satu buktinya, saat terkena gagal ginjal akut usiaku masih 18 tahun. Kemudian di usia 21 tahun aku sudah menjalani hemodialisa.

Penyakit yang memang tidak akan diremehkan orang karena tidak ada dogma tertentu seperti halnya gangguan jiwa. Tidak pandang bulu melihat suku apa, kebangsaan apa, pendidikan seperti apa. Ahli kesehatan, para pendidik, pejabat pemerintah kelas tinggi sekali pun juga mangkal disini. Betapa penyakit memang tidak pilah pilih.

Namun bukan berarti tidak dapat dicegah. Meskipun mereka yang sudah mengidap diabetes, asam urat dan hipertensi memiliki resiko tinggi mengalami gagal ginjal. Hal ini karena mereka terus menerus mengkonsumsi obat-obatan atau jamu-jamuan. Inilah penyebab kerja ginjal menjadi berat, mudah lelah dan berakhir mengalami kegagalan.

Setidaknya seperti itulah yang dapat aku pahami dari hasil konsultasi dan bincang-bincang dengan pasien-pasien yang berpengalaman. Jangan main-main dengan air minum putih. Penting untuk diingat bahwa minum air putih minimal 8 gelas sehari bukan hanya slogan tapi wajib diaktivitaskan. Jika anda dan keluarga anda tidak ingin seperti saya dan keluarga saya.