88668.jpg
Perempuan · 3 menit baca

Hantu Perawan Tua

Sore yang mendung masih dalam suasana lebaran Idul Fitri 1438H. Tak lama, hujan turun. Gemercik suara air turun terdengar keras jatuh di atas seng atap rumah kediaman ibu Muti. Sambil bersaing dengan suara air hujan, ia berucap pada anak pertamanya.

"Tiga bulan lagi usiamu 30. Belum pernah pulak bawa calon ke rumah. Punya pacar kau, nak?" tanyanya pada Dame.

"Punyalah, mau mamak jumpa?" jawabnya sambil terkekeh.

Dame memang menyadari bahwa menjadi 30 tahun di desa yang jauh dari keriuhan kota akan menyandang status sebagai ‘gades tuo’ atau perawan tua. Beruntung ia hanya sekali saja dalam satu tahun kembali ke desanya, ya… jika tiba saat hari raya Idul Fitri. Adik perempuan yang terpaut usia dua tahun saja dengannya kini telah memiliki 2 pasang anak berusia empat dan dua tahun, sementara adik bungsunya telah duduk di bangku kuliah semester 3.

Terlahir sebagai anak sulung, perempuan dari keluarga petani kopi dan padi dengan ritus keagamaan yang sangat kuat tentu saja bukan hal yang mudah bagi Dame. Ayahnya seorang ustaz kampung memiliki obsesi terhadap ke-4 anaknya untuk menempuh pendidikan hingga minimal sarjana.

Tentu saja bagi keluarga yang hanya pas untuk makan dan minum sehari-hari sekolah hingga sarjana adalah merupakan mimpi berat dan sulit. Namun, karena obsesi sebab ia tak boleh melanjutkan sekolah setamat Sekolah Menengah Pertama pada tahun 70-an, lalu ia bekerja keras agar anak-anaknya sekolah.

Dame lulus Sekolah Dasar di desa kecil tersebut pada akhir tahun 99 dan ia dikirim oleh ayahnya ke pesantren di pulau Jawa, tepatnya di provinsi Banten. Ia menamatkan pendidikan hingga Madrasah Aliyah setara Sekolah Menengah Atas di Pesantren. Seusai di pesantren, oleh Ayahnya ia diperbolehkan untuk berkuliah di salah satu kampus Islam negeri di Jakarta.

Perawan Tua

Sarjana, mapan, menikah dan memiliki anak adalah makna dari sukses bagi sebagian besar masyarakat kita di Indonesia. Boleh seseorang menjadi sarjana dan mapan, tapi kalau ia tak menikah dan tak melahirkan anak, tentu saja belum paripurna kesuksesan seseorang.

Makna atas sebuah kesuksesan yang ditanamkan oleh masyarakat kita hingga menjadi standar norma kemudian menjadi mimpi bagi setiap orang. Tak lapang bila kita berjumpa dengan teman yang masih lajang, memiliki karir yang baik, kita akan bertanya "kapan kawin?". Atau bila sudah mapan, karir baik, sudah menikah, maka pertanyaan lain akan muncul "belum punya anak?"

Standar norma yang diamini oleh hampir setiap individu dalam masyarakat inilah yang menganulir makna sukses. Standar ini juga yang semakin mengekalkan bahwa setiap perempuan harus berpasangan dengan laki-laki, pun sebaliknya, menikah lalu mempunyai anak. Apabila tidak, maka tentu saja kamu menyalahi norma.

Perempuan yang telah dewasa secara usia, berpacaran dengan seorang laki-laki, tapi memilih tak kawin saja sudah menyalahi norma dan disebut perawan tua, bagaimana pula dengan perempuan yang tak tertarik pada laki-laki memiliki pacar perempuan? Tentu saja ia akan sama-sama menyandang predikat sebagai perawan tua sepanjang usia.

Bagi sekelompok masyarakat, menjadi perawan tua adalah momok yang berat dan menakutkan. Seorang teman pernah bercerita kakak perempuannya terlihat mengalami persoalan psikis yang serius disebabkan oleh tekanan keluarga atas suara-suara yang selalu menyebutnya sebagai perawan tua. Ia menjadi pemurung dan merasa tak cukup sukses.

Tak hanya itu, agama juga seringkali mengambil peran dalam memberikan tekanan kepada setiap perempuan yang mungkin saja tidak memilih untuk kawin muda, atau bahkan tidak kawin atau juga ingin kawin tapi tak bisa karena tak memungkinkan.

Tak ayal kita temui banyak iklan yang mempromosikan untuk melaksanakan sunnah nabi dengan menyegerakan perkawinan. Sampai membuat situs khusus untuk perjodohan atas nama agama. Bahkan salah satu pasangan gubernur terpilih di DKI Jakarta menyebut dapat munggunakan fasilitas Negara demi membuat sebuah program sebagai media untuk mengakhiri masa lajang.

Itu sebabnya mengapa Perawan Tua menjelma menjadi hantu.

Dame tentu saja adalah salah satu perempuan yang tidak takut pada hantu tersebut. Menjadi perawan tua bukan persoalan serius baginya. Meski ia tahu itu akan menjadi persoalan bagi orangtua dan keluarganya.

"Carilah calon, nak, idak usah yang ganteng dan kaya, yang penting seiman dan seagama."

Sepenggal percakapan ibunya itu tentu sangat menganggu alam pikirnya. Dame ingin sekali memberitahu mamaknya bahwa ia memiliki seorang pacar yang baik hati, tak ganteng juga tak kaya, juga se-agama, tapi mungkinkah mamaknya memperbolehkan Dame untuk mengawini pacarnya? Tentu saja tidak, sebab yakinlah, sarat selanjutnya adalah harus berpenis, meski sarat ini tak pernah diucapkan oleh orangtua mana pun.

Menjadi perempuan dan memilih untuk tidak kawin tidaklah mudah apalagi perempuan yang tidak memiliki ketertarikan pada laki-laki, akan lebih berat pastinya. Banyak perempuan yang kemudian menyerah pada standar norma tapi tak sedikit juga perempuan yang bertahan atas pilihannya. Kata seorang filusuf perempuan yang terkenal, "perempuan juga memiliki hak atas tubuh, hidup, dan pilihannya."