39550.jpg
dailymail.co.uk
Olahraga · 4 menit baca

Guardiola dan Hakekat Puasa

Musim 2016-2017 sudah selesai untuk Pep Guardiola. Selesai dalam arti sudah tidak tersedia lagi gelar juara yang bisa direbut olehnya. Satu-satunya target yang ingin dicapai saat ini hanya membawa City lolos ke Liga Champions tahun depan. Target yang realistis, sederhana dan tidak muluk-muluk.

Pep menjelaskan kepada media; City sendiri yang akan menentukan kelayakan mereka untuk lolos ke Liga Champions atau tidak. Wajar karena penampilan City yang masih kurang konsisten musim ini. Sempat meraih 6 (enam) kemenangan beruntun di awal musim, laju impresif City dihentikan oleh pasukan Mauricio Pochettino di White Hart Lane. Di ajang kompetisi lainnya, City tak mampu berbuat banyak. Dengan demikian Guardiola mengukir rekor baru dalam catatan kepelatihannya, ‘nir-gelar’ dalam satu musim.

Hal ini memang sedikit mengherankan untuk sosok Pep. Memulai karier kepelatihan senior di Barcelona, tak sekalipun Guardiola tidak mendapatkan gelar juara dalam satu musim. Tanpa memperoleh gelar liga champions sekalipun di Bayern Munchen, hal itu tak mengecilkan jasanya dengan meraih gelar juara Bundesliga tiga musim berturut-turut.

Banyak pihak yang mengolok-olok hasil nir-gelar ini, baik dari kubu anti-guardiola ataupun tetangga sebelah. Saya katakan pada salah satu teman saya, tak ada salahnya Guardiola nir-gelar musim ini. Karena itu sama saja artinya dengan berpuasa. Perumpamaan yang pas mengingat beberapa hari lagi umat muslim akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan di mana kepada seorang muslim diwajibkan untuk berpuasa selama 1 (satu) bulan penuh.

Menurut saya, “nir-gelarnya Guardiola itu ibarat berpuasa gelar. Ada banyak hal yang bisa didapatkan dari berpuasa”. Dan memang betul. Puasa berarti menahan diri dari segala apa yang dilarang, yakni makan, minum dan lain-lain.

Melalui puasa seseorang akan dilatih kesabarannya dan mengendalikan hawa nafsunya. Selain itu dengan berpuasa seseorang akan bertambah kepekaan dan kepedulian sosial. Hal ini terjadi karena kita bisa merasakan seperti apa ‘penderitaan’ kaum yang kekurangan pada saat mereka kelaparan. Sehingga dengan demikian empati kita bertambah.

Bagaimana dengan konteks puasa gelar? Guardiola meraih semua jenis trophy di awal perjalanannya di Barcelona. Menurut saya justru puasa gelar ini bagus untuknya. Dengan puasa gelar diharapkan Guardiola bisa semakin ‘lapar’ di musim depan. Melalui puasa ini Guardiola juga bisa melakukan kilas balik atas rangkaian waktu yang telah ia lalui bersama City.

Perenungan dan evaluasi yang dalam mengenai segala hal, baik kemenangan, hasil seri atau kekalahan. Bukan berarti hal ini tidak dilakukan Pep sebelumnya. Hanya saja, dengan kondisi kelaparan biasanya timbul pemikiran-pemikiran baru, hal-hal yang sebelumnya tidak terbayangkan bisa muncul dengan baik. Dengan catatan, lapar yang dibawa ke arah yang positif.

Guardiola bisa mengevaluasi bagaimana seorang John Stones belum bekerja maksimal sesuai dengan ekspektasinya. Termasuk juga mengevaluasi bagaimana kinerja Claudio Bravo yang dianggap banyak orang tidak sepadan dengan pengorbanan Joe Hart yang merapat ke Torino Italia. Atau bagaimana ia mengantisipasi lini pertahanan yang sudah berumur. Semua pasti akan dievaluasi.

Dus taktik dan gaya permainan yang diusung City. Dalam penjelasannya kepada media, Guardiola menegaskan bahwa ia tidak akan mengubah gaya permainan City musim depan. Ia tetap akan mengutamakan filosofi ball possession yang ia dapatkan dari ajaran Johan Cruyff.

Ahmad Khadafi dalam tulisannya - Conte yang Kotor dan Guardiola yang Agung - mengatakan bahwa kelemahan seorang Guardiola adalah ia cenderung kaku dalam beradaptasi di Inggris. Pep lebih suka untuk mempertahankan filosofi permainannya dan tidak sudi untuk ‘bermain kotor’, rela melakukan apa saja guna meraih kemenangan. Khadafi membandingkan Guardiola dengan Antonio Conte yang lebih pragmatis dan dianggap lebih ‘memanusiakan’ pemainnya.

Saya kurang sepakat dengan hal ini. Perfeksionisnya Guardiola memang demanding – menuntut. Menurut Guardiola tidak masalah dengan hasil akhir kekalahan asalkan pemainnya sudah mengeluarkan 100% kemampuannya. Saya mengartikan perfeksionis Guardiola itu dalam rangka untuk mengoptimalkan kapasitas para pemainnya.

Tentu saja ia harus mengambil tindakan saat ada pemain yang tidak semaksimal mungkin dalam permainannya. Soal manusiawi, tak jarang juga Pep mengapresiasi siapapun yang sudah memberikan performa terbaik. Ia merangkulnya, berbicara dan bersenda gurau dengan mereka.

Dalam biografi Pep – Another Way of Winning, Guillem Balague mengutip ucapan Guardiola kala sesi latihan pre-season di Skotlandia tahun 2008 berikut.

“I only ask this of you. I won’t tell you off if you misplace a pass, or miss a header that costs us a goal, as long as I know you are giving 100 per cent. I could forgive you any mistake, but I won’t forgive you if you don’t give your heart and soul to Barcelona.

I am not asking results of you, just performance.”

Saya pikir kondisi nir-gelar kali ini  akan memberikan hakekat berpuasa pada sosok Guardiola. Pep akan kembali dengan warna baru, semangat baru di musim depan berbekal hasil puasanya, puncak kontemplasinya dalam kondisi perut lapar.  Tentu dengan harapan bahwa Guardiola tetap akan mempertahankan filosofi sepakbola menyerang-nya. Filosofi sama yang juga diusung oleh Cesar Luis Menotti.

Sepakbola yang dimainkan dengan keindahan itu adalah seni. Kebanyakan orang akan ramai bersorak kala menonton aksi gulat dalam WWC. Tapi sedikit orang yang bisa berdecak kagum saat menonton pameran lukisan Van Gogh atau Rembrandt. Cuma Tyler Durden dalam Fight Club yang bisa menyajikan adu jotos berpadu dengan seni.