84012.jpg
Tribunnews.com
Politik · 4 menit baca

Gejala Firaunisme dalam Demokrasi Kita


Demokrasi memang bukan sistem yang sempurna. Meski begitu, demokrasi adalah pilihan sistem politik yang terbaik bagi suatu masyarakat karena sifatnya yang memberikan setiap individu untuk berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan. Jika dilaksanakan dengan baik, maka demokrasi akan menghindarkan suatu masyarakat untuk jatuh dalam ekstremitas yang bersifat partisan atau ideologis. Walau setiap orang boleh menjadi partisan atau idealis, dalam demokrasi semua akan dipaksa untuk pragmatis karena keputusan diambil bersama-sama oleh seluruh pihak dan bukan oleh satu pihak saja.

Demokrasi merupakan suatu sistem politik yang hebat karena dapat memberikan kemungkinan untuk setiap kelompok ideologis berkuasa. Semakin bebas suatu demokrasi, maka akan semakin terbuka kemungkinan tersebut. Ironisnya, semakin bebas pula suatu demokrasi, maka akan terbuka pula kemungkinan bagi kelompok anti-demokrasi untuk menunggangi sistem yang ada dan membunuh demokrasi dari dalam. Kasus-kasus tersebut sudah banyak tercatat dalam sejarah dimana kelompok-kelompok anti-demokrasi menggunakan demokrasi sebagai jalan untuk mencapai kekuasaan, sebut saja kasus Machtergreifung (kebangkitan Nazi di Jerman) pada 1933 atau terpilihnya Ferdinand Marcos sebagai Presiden Filipina pada 1965.

Indonesia yang saat ini telah berhasil menerapkan demokrasi di antara negara-negara Asia Tenggara lain tengah menghadapi waktu-waktu penuh cobaannya. Cobaan terhadap demokrasi muncul dalam bentuk usaha-usaha permusuhan dan perpecahan oleh beberapa kelompok anti-demokrasi. 

Tindakan-tindakan pengkafiran oleh beberapa pendukung kelompok keagamaan ekstrim seperti FPI dan pembesarnya terhadap mereka yang mendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat menunjukkan sisi tergelap dari demokrasi kita. Mereka bahkan menuduh kafir atau lemah imannya bagi orang-orang yang tidak sepakat dengan cara-cara tersebut sekalipun tidak mendukung pasangan tersebut.

Fenomena mendadak "kafir" tersebut pada dasarnya bukan semata-mata didasari oleh persoalan penafsiran keagamaan, namun semata-mata karena persoalan politik dan kekuasaan. Luar biasa bagi kita untuk dapat melihat beberapa pembesar kelompok-kelompok itu meyakinkan pendukungnya jika penafsiran mereka adalah kebenaran yang mutlak dan hakiki. Bagi mereka, untuk seorang individual dapat menafsirkan agama dengan caranya sendiri terkait politik adalah berbahaya. Semua yang berbeda dan tidak sependapat walau sesama Muslim dianggap penghina Tuhan dan usaha-usaha isolasi secara sosial mereka lakukan terhadap kelompok tersebut.

Cukup menarik bagi kelompok-kelompok yang menganggap diri mereka sebagai "pembela: Tuhan dan agama tersebut untuk menerapkan kebenaran yang mutlak di dalam kata-kata dan perbuatan mereka. Hal ini cukup lucu karena secara filsafat semua kebenaran yang ada dalam kehidupan ini adalah kebenaran yang subyektif dan berbeda pada tiap individu.
Sangat mustahil bagi manusia untuk  memiliki kebenaran yang obyektif karena secara hakikat manusia hanyalah ciptaan saja. Meyakini bahwa diri kita atau kelompok kita memiliki kebenaran yang mutlak berarti sama saja menasbihkan diri kita sebagai Tuhan.

Perilaku menjadikan diri sendiri sebagai Tuhan dan menerapkan asas kebenaran mutlak terhadap keyakinan yang dimilikinya serupa dengan perbuatan Raja Namrud di Mesopotamia atau Firaun di Mesir. Dalam sejarah Islam, kita melihat jika banyak sekali penguasa yang menggunakan dan menafsirkan agama untuk kepentingannya berkuasa. Akhir ceritanya selalu sama, yakni azab Tuhan turun terhadap penguasa tersebut. 

Tuhan tidak menyukai jika makhluknya memiliki ego yang besar sehingga menjadi sombong dan merasa dirinya adalah manifestasi dari kebenaran. Bahkan Rasulullah SAW sendiri tidak menggunakan agama untuk berkuasa dan tidak pula membenci kaum agama lain sekali pun secara agama beliau telah menerima kebenaran yang mutlak dari Ilahi.

Kini Islam telah dirasuki oleh roh-roh Firaun yang menggunakan agama dalam politik demi tujuan kekuasaan. Firaunisme menjadi suatu hantu bagi demokrasi kita yang telah menjangkiti beberapa pembesar di negeri ini. Sangat menyedihkan lagi mengingat Firaunisme tersebut telah menurun kepada rakyat-rakyat biasa yang tidak mengerti politik. Rakyat biasa yang takut terhadap azab Ilahi dimanfaatkan ketakutannya oleh firaun-firaun politik yang menyatakan dirinya adalah wakil Tuhan di dunia. 

Dengan memakai nama Tuhan, firaun-firaun politik tersebut menciptakan dikotomi sesat dalam pikiran masyarakat kita: "Muslim" itu baik dan "kafir" itu jahat. Dikotomi itu sangat sederhana sehingga bahkan bagi para firaun politik Muslim yang korup itu lebih baik daripada kafir yang jujur.

Gejala Firaunisme di Indonesia tentu saja mencelakakan dua hal sekaligus: Islam dan demokrasi. Walau menyatakan dirinya sebagai pembela, firaun-firaun ini ironisnya menjadi perusak nilai-nilai Islam yang sebenarnya. Nilai-nilai sosial Islam, seperti ukhuwah dan toleransi, yang dibangun Rasulullah SAW ketika beliau hidup dirusak habis-habisan. Muslim yang tidak sepaham secara pandangan dan pilihan politik dituduh kafir yang sudah tentu menghancurkan ukhuwah Islamiyah. 

Mereka yang tidak seagama dipandang sebagai ancaman baik secara nyata atau laten. Jika para firaun ini pada hakikatnya merusak nilai-nilai sosial Islam hanya untuk kepentingan politik, kemudian apa yang sebenarnya mereka bela? Mereka tidak pantas menyatakan dirinya sebagai pembela karena hakikatnya mereka adalah musuh dalam selimut bagi agama Islam yang hendak merusak keindahan dan kehormatan ajaran Rasulullah SAW.

Firaunisme membutakan mata hati rakyat dan melumpuhkan kemampuan rakyat untuk berpikir jernih dan mempertimbangkan pilihannya secara jernih. Firaun-firaun ini tentu sangat tidak mendidik rakyat dan membalikkan usaha-usaha pendiri bangsa ini menguatkan pendidikan politik rakyat. Jika rakyat terus dibutakan oleh firaun ini, maka demokrasi kita akan jadi tidak bermakna karena rakyat yang adalah penguasa dalam sistem ini justru dikekang akal dan hatinya untuk menentukan sendiri masa depannya. Kita tidak bisa meremehkan gejala ini untuk terus timbul dan perlawanan yang sebenar-benarnya harus dilakukan oleh semua pihak, bukan terhadap peran agama dalam politik, namun terhadap firaun-firaun yang meracuni hati rakyat tersebut.