Ketik untuk memulai pencarian

Eksotika Kawasan Pedalaman Banten yang Semakin Diminati

Eksotika Kawasan Pedalaman Banten yang Semakin Diminati

Wisata Budaya

Banten adalah sebuah provinsi paling barat di Pulau Jawa, Indonesia. Berdasarkan keputusan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000, Provinsi Banten memilih untuk memisahkan diri dari Jawa Barat. Wilayah Provinsi Banten terdiri dari 4 Kabupaten/Kota. Pusat pemerintahannya berada di Kota Serang.

Provinsi Banten yang terletak di tiga jalur laut potensial (Selat Sunda, Samudera Hindia dan Laut Jawa), menjadikan sebagian wilayahnya dihiasi keindahan pantai di teras halamannya.

Banten adalah tempat yang  tepat untuk dijajaki wisatawan. Sekedar mengheningkan hati dan pikiran dari kepenatan Kota, wisatawan dapat memanjakan diri dengan aktifitas berenang, menyelam, selancar bahkan melihat gemilang terumbu karang di dasar lautan.

Mulai dari Pantai Tanjung lesung, di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, pantai Carita yang terletak di Kabupaten Pandeglang, Pantai Sawarna yang menghadap ke Samudera Hindia, sehingga menghasilkan ombak yang berarus besar layaknya pantai selatan.

Pantai ini pun cocok dan sangat layak untuk para traveling menguji nyali dengan olahraga selancar air. Tidak heran, jika di pantai ini banyak wisatawan asing yang menikmati besarnya ombak untuk berselancar air.

Tentu, Panorama Pantai dan alamnya adalah kemolekan yang menghiasi teras halaman Provinsi Banten. Jika teras halamanya sudah mengundang detak kagum pelancong Nusantara, apalagi isi kedalaman masyarakatnya.

Kurang afdol kiranya, jika melihat Banten sebatas pada teras halamannya. Apalagi, Provinsi yang usianya baru memasuki 16 tahun ini, selain dikenal sebagai pemilik kawasan wisata pantai dan wisata religi, juga memiliki beragam kawasan budaya yang masih murni untuk dikenal lebih dekat. Sekedar menikmati kesejukan alam dan budaya masyarakatnya, semua bisa didapat saat berkunjung di kedalaman kawasan Tanah Jawara ini.

Siapa yang tak kenal Suku Baduy? Sekelompok masyarakat adat dengan tradisi adat sangat kuat, yaitu Seba Baduy.

Masyarakat Adat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak adalah destinasi wisata budaya populer di kalangan turis. Waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam dari Kota Rangkasbitung. Di sini, traveler akan merasakan kehidupan masyarakat yang selaras dengan alam.

Penduduk Desa Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar memang menghindari kehidupan dunia modern. Mereka tidak boleh sekolah, bepergian naik kendaraan, dan menggunakan alat elektronik. Panorama alamnya juga sangat cantik.

Dari ciri berpakaian sudah memperlihatkan jati diri mereka yaitu dengan berpakaian khas yang terbuat dari tenunan dan tidak mengenal berbagai jenis desain baju. Di Baduy, lebih banyak menggunakan pakaian warna putih yang melambangkan kesucian. Orang-orang suku Baduy Dalam sangat menjaga alam salah satunya menjaga kebersihan, di mana saya tidak melihat sampah dibuang sembarangan baik di jalan atau di sungai sekitarnya.


Follow Qureta Now!

Selain menjaga alam, mereka juga tidak berternak binatang. Mereka percaya dengan cara tersebut akan menyakiti mahluk ciptaan Tuhan Segala Alam dan mereka lebih memilih bercocok tanam.

Ketika di kampung suku Baduy Dalam ada beberapa peraturan yang harus  ditaati. Yaitu tidak boleh mendengarkan musik dengan suara keras, tidak boleh bermain HP, dilarang membuang sampah sembarangan, dan jangan berkata-kata yang tidak sopan.

Jika kita berkunjung ke Baduy Luar, kita diizinkan untuk menginap semalam dan istirahat dengan menumpang di rumah warga. Selanjutnya saat pulang kita bisa melewati jembatan akar yang sudah berumur puluhan tahun. Selain masyarakat Baduy, di Kabupaten Lebak terdapat masyarakat adat lain yaitu Cisungsang pemilik acara adat Seren Taun.

Menghuni kawasan pedalaman di kaki gunung Halimun, Masayarakat Adat Cisungsang dikelilingi empat desa adat lainnya, yaitu desa Cicarucub, Bayah, Citorek, dan Cipta Gelar.

Masyarakat Cisungsang berkedudukan di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Asal muasal Masayarakat adat Cisungsang, berasal dari nama salah satu sungai yang mengalir dari telaga Sangga Buana. Telaga ini mengaliri sembilan sungai, yakni sungai Cimadur, Ciater, Cikidang, Ciberang, Cidurian, Cicatih, Cisemeut, dan Cisungsang.

Sistem Pemerintahan Negara, sistem kesepuhan/hukum adat, dan sistem agama/Islam adalah tiga sistem pemerintahan yang dianut Masyarakat Adat Cisungsang. Seorang kepala adat memimpin Masyarakat adat Cisungsang, yang penunjukannya melalui proses wangsit atau karuhun, dengan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-harinya.

Selain masih mempertahankan nilai-nilai tradisi, Masyarakat Adat Cisungsang memiliki pula daya tarik keindahan alam dan latar belakang panorama gunung Halimun yang sejuk dan asri. Sebagaian masyarakatnya, bekerja sebagai petani dan pedagang, walaupun ada beberapa yang menjadi buruh di kota-kota besar

Ritual Seren Tuan diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan pasca-panen padi. Ritual ini adalah akhir sekaligus awal kegiatan sosial masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang.

Disebut akhir karena pada ritual Seren Taun seluruh masyarakat adat memberikan laporan aktivitasnya selama setahun. Disebut awal, karena pada ritual ini Kepala Adat yang dipimpin Abah Usep Suyatma Sr memberikan wejangan-wejangan dan bekal untuk aktivitas setahun ke depan.

Permukiman Cisungsang sudah terakiri listrik, sedangkan untuk bertani masyarakat menggunakan alat-alat modern. Masyarakat di sana menggunakan perangkat elektronik seperti TV, radio, tape recorder dan telepon.

Meski begitu, masyarakat adat Cisungsang tidak meninggalkan budaya asli leluhur seperti bentuk rumah tradisi yaitu rumah kayu berbentuk panggung dengan alat memasak tungku (hawu) yang di atasnya dilengkapi tempat penyimpanan alat-alat dapur yang disebut Paraseuneu

Dalam menentukan waktu pelaksanaan ritual, Kepala Adat mengundang para penasihat, perangkat Kasepuhan, dan para réndangan (perwakilan masyarakat adat), tokoh agama, tokoh pemuda, pemerintah desa, kecamatan, kepolisian untuk menyampaikan rangkaian kegiatan dimaksud.

Pada Seren Taun 2016 mengambil tema “Mi Eling Ciri Wanci Ti Karuhun” (Mengingat merupakan ciri waktu dari Karuhun), dilaksanakan selama 7 hari 7 malam, berlokasi di Imah Gede, yaitu tempat kediaman Kepala Adat, diisi dengan berbagai kegiatan dan ritual adat. Ritual Adat Seren Taun juga merupakan puncak siklus dari tradisi masyarakat Kasepuhan Cisungsang dalam proses pengolahan, menanam, memelihara, menyimpan, dan menghargai padi.

Itulah dua desa adat di Banten selain Baduy yang bisa Anda kunjungi. Kalau mau kunjungi semuanya, langsung saja datangi Kabupaten Lebak. Baduy, Cisungsang, dan Citorek yang ada di kabupaten yang sama.

Jika dari Jakarta menuju Lebak hanya membutuhkan waktu 6 jam saja. Atau, sekitar 200 Km dari Kota Serang. Istimewanya, Lebak juga sudah mempersiapkan beragam wisata alamnya yang asik. Kondisi jalan menuju Masyarakat Cisungsang pun cukup baik dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat

Wisata alamnya, seperti pantai Ciantir Sawarna yang meruapkan tempat wisata terpopuler di Lebak. Selain itu, ada juga Pantai Tanjung Layar, Pantai Karang Bokor, Kebun Teh Cikuya yang punya panorama seperti Puncak – Bogor, Curug Munding, Pantai Bagedur, Curug Ciporolak, Curug Kumpay, serta Gua Lalay.

Menarik bukan? Ayo, tunggu apalagi, segera sempatkan waktu berkunjung ke Kabupaten Lebak, dan rasakan sensasinya.

Muhammad Iqbal

Kader HMI Unsera & Jamaah Pakupatan

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016