trump_loves_putin.jpg
Donald Trump & Vladimir Putin diilustrasikan sedang berciuman dalam sebuah 'mural' di Lithuania (foto: Petras Malukas/AFP/Getty Images)
Politik · 5 menit baca

Donald Trump, Rusia, dan "Golden Showers"
Beberapa Catatan Dokumen Rahasia Intelijen Inggris

Selain pidato perpisahan yang sangat emosional dari Presiden Barack Obama, hal yang menjadi perbincangan paling heboh di media Amerika beberapa jam terakhir ini adalah mengenai sebuah dosir dokumen rahasia yang diduga milik seorang bekas agen intelijen Inggris. Dokumen tersebut berisi laporan intelijen Juni 2016 - Desember 2016  terkait hubungan Rusia dan Presiden-terpilih AS, Donald Trump.

Dokumen (unverified) setebal 35 halaman tersebut (silakan lihat disini), memaparkan bahwa Rusia memiliki sejumlah informasi yang bisa dipakai untuk mengancam Trump. Mulai dari bantuan intelijen Kremlin kepada Trump, kepentingan bisnis Trump di Rusia, hingga dugaan skandal seks yang dilakukan Trump.

Hari ini (10/1/2017 waktu Amerika), outlet berita Buzzfeed melaporkan bahwa anggota intelijen Rusia berencana untuk mengancam Trump, dengan pengetahuan dan bukti-bukti konkrit yang mereka miliki tentangnya. Salah satunya mengenai aktivitas seksual "aneh" yang dilakukan oleh Trump bersama para prostitusi di Moskow dalam bentuk aktivitas "Golden Showers".

Buzzfeed memang belum bisa memverifikasi kebenaran dokumen tersebut namun mereka juga tidak bisa langsung menafikannya. Sebab pada saat yang sama, tim investigasi CNN justru melaporkan bahwa dua halaman ringkasan dari dokumen itu sebenarnya telah diberikan kepada Presiden Obama dan Trump sendiri dalam intelligence briefing mereka minggu lalu.

Dokumen tersebut memaparkan empat garis besar informasi yang bisa dipakai oleh intelijen Rusia dalam mengancam Trump nantinya. Pertama mengenai aktivitas Kremlin yang selama paling tidak lima tahun terakhir, telah membantu Trump yang sejalan dengan Vladimir Putin yang memang ingin menghancurkan peradaban barat.

Pada Bulan Juni 2016 lalu, paling tidak ada empat sumber informasi intelijen berbeda dari Kementrian Luar Negeri dan Badan Intelijen Rusia yang mengkonfirmasikan bahwa Rusia memang selama ini tidak hanya ikut campur dalam pilpres AS yang lalu, tetapi juga secara spesifik membantu kemenangan Trump. Terutama untuk mewujudkan keinginan Putin yang tidak menyukai dominasi AS sejak Perang Dunia ke-2.

Putin ingin kembali ke era dimana globalisme internasional bukanlah landasan policy-making, tetapi lebih kepada kepentingan dan kekuatan masing-masing negara, seperti pada abad ke-19. Dan jika dilihat, keinginan ini sangat sejalan dengan prinsip America First yang digagas Trump sebagai model foreign policy yang akan ia lakukan nanti.

Kedua adalah mengenai Trump dan inner circle-nya yang memang selama ini telah menerima informasi intelijen langsung dari Kremlin, termasuk mengenai lawan-lawan politik Trump dari Partai Republik dan Demokrat, khususnya mengenai Hillary Clinton. Bahkan salah seorang yang dekat dengan Trump mengkonfirmasi kepada sumber intel ini bahwa data intelijen dari Kremlin "sudah sangat membantu" mereka.

Bahkan menurut dokumen ini, bantuan Kremlin kepada Trump juga diberikan dalam urusan bisnisnya. Misalnya tawaran untuk mengembangkan bisnis properti Trump untuk keperluan World Cup 2018 di Rusia yang akan datang. Namun untuk alasan yang belum diketahui, Trump belum menerima tawaran bisnis tersebut.

Ringkasan salah satu dokumen rahasia intelijen yang dirilis Buzzfeed News hari ini (documentcloud.org)

Ketiga adalah mengenai sex act yang dilakukan Trump bersama para pekerja seks komersial, sebagai jebakan yang sudah direncanakan dan dimonitor oleh Dinas Keamanan Federal Rusia, FSB. Dokumen ini menyebutkan bahwa Trump menyewa jasa pekerja seks komersial untuk melakukan aktivitas Golden Showers di hadapannya.

Sex act tersebut dilakukan di sebuah presidential suite, Hotel Ritz Carlton, di Moskow, tempat dimana Presiden Obama dan Ibu Negara Michelle Obama pernah menginap. Hotel tersebut diketahui berada dalam pengawasan FSB dengan beberapa mikrofon dan kamera tersembunyi ditempatkan di tempat-tempat yang mereka inginkan.

Kejadian itu dikonfirmasikan oleh sumber intel kelima yang mengaku bahwa sex act tersebut terjadi pada tahun 2013. Dan sumber intel keenam—seorang perempuan, pegawai hotel pada saat Trump berkunjung—mengaku membenarkan informasi tersebut.

Dan dalam kesempatan berbeda, sumber intel dari Kremlin pun mengakui kebenaran informasi ini. Bahkan dokumen ini menyebutkan bahwa top intelligence officer Kremlin itu mengakui Trump memang telah memberikan banyak material yang memalukan yang bisa dijadikan sebagai alat ancaman oleh mereka nantinya.

Terakhir adalah mengenai kumpulan data intelijen yang sudah dikumpulkan oleh intel Rusia atas Hillary Clinton terutama selama kunjungannya ke Moskow ketika masih menjabat sebagai Menlu. Dokumen tersebut di-handle langsung oleh seorang jurubicara Kremlin bernama, Peskov, yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden Putin.

Keempat item di atas hanyalah satu batch laporan intelijen Bulan Juni 2016 yang ada dalam dokumen yang dirilis oleh Buzzfeed, dari total 16 laporan intelijen hingga Bulan Desember 2016 lalu. Beberapa laporan lainnya menunjukan aktivitas detail dari Kremlin yang memang telah membantu Trump dalam pilpres AS, termasuk cyber war yang dilakukan Rusia, hingga pemanfaatan wikileaks sebagai partner in crime mereka.

Anyway, terkait sex act yang diduga dilakukan Trump tersebut, jika anda kurang familiar, istilah Golden Shower adalah sebuah sex act yang dilakukan seseorang dengan mengencingi pasangannya dan biasanya si partner seks akan menikmati rangsangan seksual dari tindakan itu.

Dan dokumen intelijen ini melaporkan bahwa Rusia mempunyai dokumentasi langsung aktivitas seks itu—yang dilakukan Trump di Moskow—yang sudah direncanakan dan dimonitor oleh intelijen Rusia sendiri. And by any measure, that is a new low for the President-elect of the United States.

See, saya sudah pernah menuliskan sebelumnya bahwa terpilihnya Trump sebagai Presiden Amerika Serikat adalah sebuah kemunduran peradaban barat terparah yang pernah ada. Dan itu adalah hal yang memang selama ini selalu diinginkan oleh sang diktator Rusia, Vladimir Putin (silahkan baca analisisnya disini).

Kehadiran dosir dokumen intelijen ini—terlepas dari verifikasi kebenarannya—seharusnya bisa membuka mata kelompok-kelompok konservatif dan far-right, bahwa Trump tidak mempunyai legitimasi yang kuat sebagai presiden nanti. Ia kalah dalam popular votes dan kini sudah semakin jelas bahwa ia mendapat bantuan dari adversary utama Amerika di dunia, yakni Rusia, yang kini justru akan balik mengancam Trump.

Namun wajar jika orang bersikap skeptis dengan kebenaran isi dokumen rahasia yang dirilis Buzzfeed ini, terutama untuk kasus "Golden Showers" yang dilakukan Trump bersama para prostitusi di Moskow. Akan tetapi membayangkan "kebiasaan" yang dilakukan Trump yang terekam dalam video Access Hollywood yang terkenal itu, membuat tidak sulit untuk menerima jika Trump diasosiasikan dengan aktivitas-aktivitas seksual "aneh" seperti ini.

And some people on twitter actually made really funny jokes about this "golden showers" bombshell. But for me, one thing that's not really a joke, is that Trump WILL actually soon "pee" on America's face—and the entire world's for that matter. God help us all.