Deradikalisasi N.jpg
Sumber : http://adamtirtakusuma.blogspot.co.id
Politik · 5 menit baca

Deradikalisasi Nusantara

Sambil lalu menyaksikan geliat kehidupan yang berlangsung dekat rumah, seorang loper koran tampak berjalan menjajakan dagangannya. Tidak lama kemudian sebundel koran Harian Kompas sudah tergenggam di tangan. Saatnya sarapan wawasan.

Secara garis besar, Kompas hari ini berbicara seputar terorisme dengan segala atributnya. Usai melahap tulisan keren berjudul Obsesi Tumpul Derdikalisasi pada rubrik Politik & Hukum, pandangan saya kerahkan ke halaman berikutnya, rubrik Opini. Sungguh beruntung saya manakala menjumpai sebuah opini berjudul Deradikalisasi Nusantara yang ditulis oleh Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj.

Sosok intelektual dan agamis yang satu ini memang terkenal paling gencar mengutuk segala tindakan kaum radikal. Terakhir yang saya dapati bahwa saat diwawancarai soal ledakan Thamrin, beliau atas nama besar PBNU mengutuk keras insiden tersebut. Tulisan ini saya rasa merupakan kepanjangan dari kutukan beliau atas paham radikal yang tengah merebak belakangan ini, yang tumbuh bak cendawan di musim hujan.

Dalam tulisannya, Kang Said (julukan Said Aqil Sirdaj) mengemukakan bahwa sikap dan tindakan radikal memang bukan barang baru. Ia tak pernah mati gaya. Ibarat dunia fashion akan terus melahirkan gaya yang baru yang bisa membuat orang mudah terpana (Harian Kompas, 20 Januari 2016, hal. 6).”

Ada daya upaya agar barang dagangan berupa radikalisme itu laku keras di pasaran. Segenap inovator radikalisme berusaha untuk membuat penampilan baru paham radikal tanpa harus mengubah ajaran yang sudah dibakukan (dogma).

Dengan kelihaian menebak laju realita, penggerak paham ini mampu mengendus permintaan pasar. Ditengah maraknya kekisruhan politik, keadaan ekonomi yang terpuruk, pelanggaran HAM merebak di segala penjuru, mereka seperti menyajikan angin segar yang menjanjikan. Khilafah, jihad, dan teror, adalah buntut dari angin segar yang mereka janjikan kepada khalayak itu.

Gagasan yang coba mereka panggungkan tampak diversivikatif meski hanya pada tataran permukaan. Melalui “kacamatakuda” nya (Kang Said dalam tulisannya menggunakan “Mata Elang,” penulis rasa terdapat kesamaan makna, yakni sebuah padangan konservatif), penganut paham radikal menganggap bahwa ajaran Islam telah banyak diselewengkan.

Mereka meracau bahwa semua tatanan modern yang diterapkan di negara-negara (seperti tatanan demokrasi di Indonesia) adalah sumber kekisruhan sosial dan agama. Oleh karena “hormon” literalisme yang berlebihan pada diri mereka, maka mereka anggap semua tafsir agama yang ditelurkan oleh selain kelompok mereka adalah sesat.

Kendati demikian, mereka angkat Abu Bakar al-Baghdadi sebagai Amirul Mukmin. Abu Bakar al-Baghdadi Sosok yang tidak memiliki sanad intelektual. Figur yang tidak jelas di tempat mana ia membuang sauh dan ditempat mana ia melempar jangkar.

Radikalisme tampil ke pentas dengan dua wajah. Pertama dengan wajah yang khusus menapaki jalur ‘pemurnian’ melalui klaim-klaim bid’ah-khurafat. Kedua dengan wajah militeristik, yang dalam hal ini dilakoni oleh ISIS, yang bertugas mengutuk segala tatanan modern yang mereka klaim sebagai “Thoghut”.

Kebutaan mereka akan kekayaan sebuah budaya memaksa mereka melakukan aksi brutalnya. Perkawinan antara budaya dan agama adalah “racun sianida” yang mereka jauhi, maka tak ayal, manakala mereka berhasil menguasai sebuah daerah, maka akan diberangus warisan budaya yang ada.

Pada akhir tulisan, beliau memberikan saran bahwa langkah deradikalisasi yang jitu adalah dengan menerapkan sistem moderatisme ala pesantren dalam berpola pikir. Pesantren yang memiliki kredo, “al-muhafazhatu alal qodimi shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah,” patut dijadikan panutan seorang yang ingin melek budaya.

Kebajikan nusantara yang diterjemahkan sebagai kearifan lokal menyikapi budaya, tradisi gotong royong, sikap harmoni dan toleransi, merupakan obat penawar indonesia yang tengah dikungkungi oleh kegalauan akibat masuknya paham radikal. Adalah angin segar dalam arti yang sesungguhnya.

Apa yang beliau kemukakan begitu mendetail dan menyentuh perasaan. Satu hal yang langsung membuat saya bergidik yakni tatkala beliau mengulas potret kebiadaban salah seorang anggota ISIS yang tega menembak ibunya di depan khalayak lantaran ibunya melarang sang anak gabung ke ISIS.

Kang Said menjelaskan bahwa di nusantara telah sedikit tercium gelagat serupa. Meski tidak seekstrim ISIS timur tengah tersebut, ditemukan perpecahan dalam keluarga akibat perbedaan paham keagamaan. Seorang anak rela berpisah dengan orang tua dan suainya lantaran dianggap telah meyimpang dari jalan yang lurus.

Benar apa yang ditulis oleh Kang Said, dan hal tersebut terjadi pula di daerah tempat saya tinggal. Seorang perempuan beranak 3 yang tega berpisah dari suami dan orang tuanya guna melanjutkan kiprah “jihad”nya di Suriah. Kabar terakhir yang saya dengar bahwa kini ia tinggal di daerah Raqqah, Suriah. Untuk nama tidak perlu disebutkan demi kenyamanan bersama.

Orang tuanya kini memikirkan keadaan anaknya tersebut. Suaminya resah bercampur gelisah. Anak-anaknya pun bertanya, kemana mama, kemana mama. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, berbakti kepada orang tua, suami, dan mendidik anak dengan serius merupakan jihad yang besar dan merupakan jihad dalam arti yang sesungguhnya. Semoga kita mampu memetik pelajaran.

Dentuman radikalisme begitu menggemparkan dunia. Usai kejadian peneroran Paris, Prancis 13 November lalu, Maroko yang sejak kemerdekannya tahun 1956 tidak pernah dilanda konflik serius di antara komponen masyarakatnya kini juga terjangkit virus radikalisme.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Maroko (18/1) mengklaim telah menangkap warga Belgia asal Maroko yang terlibat dalam serangan Paris, November 2015. Otoritas keamanan Maroko mengungkapkan, sejak serangan bunuh diri di Casablanca 2004, dibongkar 140 sel teroris di negeri itu. Disebutkan, 2.000 warga Maroko bergabung dengan Negara Islam di Irak dan Suriah. Sebanyak 286 orang di antaranya tewas dan 220 orang lainnya pulan ke Maroko. Sisanya bertahan di Suriah (Harian Kompas, 20 Januari 2016, hal. 8).

Menyikapi peristiwa di atas kita harus senantiasa waspada. Selain harus ada penggalakan keamanan militer negara, pengubahan kurikulum keagamaan agar tidak ada pesan radikal yang masuk, harus pula ditegakkan pendidikan moral yang sehat dalam sebuah keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama manusia. Dengan bimbingan yang terarah serta penyuluhan rohani yang memadai insya Allah kendala-kendala mampu teratasi.

Dunia kini dipusingkan dengan ulah teroris. Pandangan internasional tertumbuk pada paham radikal yang kian menebar benih keresahan di segala penjuru. Umat butuh kedamaian. Manusia rindu dengan ketenteraman. Sampai kapan kita akan bertahan seperti ini? Lupakah kita dengan kasih sayang yang harusnya menjadi pegangan kehidupan kita di dunia ini? Silahkan renungkan.

Akhirul kalam, saya mengajak saudara untuk merenungkan dalam-dalam fenomena demi fenomena belakangan yang terjadi di skeitar kita. Pahami potong demi potong kilas kehidupan yang berlangsung di sekitar kita. Petik hikmah dan hindari sejauh mungkin dunia yang akan menghancurkan kita. Perdalam ilmu agama dan semoga anda menjadi manusia-manusia mulia!

Salam hangat dari saya,

Bintaro, 20 Januari 2015