ilustrasi_1.jpg
Sumber: riau24.com
Hiburan · 5 menit baca

Demonstrasi “Ember” dan Gelagat Kaum Ekstremis


Hal yang kiranya perlu diketengahkan sejak awal yakni, jangan sampai gagal fokus pada lingkungan sekitar, hanya gara-gara tergendam keriuhan informasi menjelang karnaval ”menghukum penista agama” di Ibukota esok. Itu lebih penting guna menjadi atensi bersama.

Pasalnya, saat berbagai kalangan tampaknya dipaksa hanyut dalam siaran agenda tersebut, satu pertanyaan yang nyelempit di kening: bagaimana dengan gelagat (terduga) pengikut teroris? Kawanan ekstremis yang siap berjingkat-jingkat dalam penyamaran demi menebar teror, berpindah tempat ngumpet, ataupun rencana lainnya.

Terlebih sempat diberitakan jamaah teroris yang terdesak, sedang eksodus dan sebagian disinyalir akan masuk ke tanah air. Kabarnya pula terduga teroris dibekuk di Magetan belum lama ini. Selain kelompok itu, kudu juga diperhatikan jaringan kriminal yang kemecer berangan-angan momentum yang tepat. Bukan tidak mungkin keduanya akan memanfaatkan situasi, kala fokus segenap aparat tersita untuk pengamanan unjuk rasa ke depan. Ini yang kerap terlewatkan.

Sebagaimana diketahui woro-woro demonstrasi 4 November (Ember) meluber di ruang publik khususnya lewat medsos, lalu mendapat sorotan media dua pekan terakhir. Penggalangan opini publik yang beredar menjelang gelarannya serasa dunia akan kiamat. Benak jadi bertanya-tanya, so what gitu lho?

Dengan memasang label ”Aksi Bela Agama II” dan tagline ”Ayo Penjarakan Ahok” sebagai lanjutan demonstrasi serupa 14 Oktober sebelumnya. Seakan fardhu ain hukumnya bagi masyarakat (muslim) turut mencurahkan animo serta bergabung di dalamnya. Bahkan, mencuat seruan agar perusahaan, kantor dan sekolah meliburkan pekerja, siswa dan mahasiswa untuk ambil bagian dalam aksi.

Ada pula yang menyerupakan Demo Ember nanti dengan peristiwa (demo) 1998 dulu. Tengok saja, mantan aktivisnya yang menjabat anggota DPR kini, sampai akan ikut serta. Semencekam itukah? Biasanya kegaduhan apapun isunya di tingkat atas, tidak selalu linear dengan sikap lapisan grassroot di bawah secara empiris. Masyarakat sering tetap asyik menikmati rutinitas keseharian, walau golongan elit gaduh entah apa yang digaduhkan sesungguhnya.

Ibarat sebuah pementasan yang gebyarnya dibikin sedemikian heboh, tetapi penonton tak kunjung ngeh mengikuti alur cerita maupun eksyen dari para pelakon yang berjumpalitan di stage yang wah. Tidak mustahil warga Jakarta pun bertanya-tanya, piye maksudnya? Apalagi, kemudian bermunculan orang-orang yang turut berebut menaiki pentas.

Rakyat sejatinya justru terlihat semakin mendewasa, ketimbang bergelintir figur publik yang sering kentara susah meneladankan sikap negarawan, sekurangnya sosok panutan sejati di bidangnya. Parahnya lagi, masih saja bergelayut ilusi bahwa rakyat selalu teramat lugu, sehingga gampang terpedaya sebagai tameng pelampiasan ambisi personal maupun komunal.

Tanpa harus terjerat polemik kejadian yang melatarbelakangi sebelumnya lantaran pro-kontra, toh saya bukan warga Jakarta sehingga juga tidak perlu mencoblos dalam Pilgub mendatang, Demo Ember yang segera digelar kiranya menyisakan berbagai pertanyaan. Sedikitnya dua hal masih terasa mengganjal dalam benak, jika melongok kacamata aksi dan demonstran selama ini.

Pertama, basis argumentasi. Titik ini kerap dianggap penting, sekaligus akan membedakan antara sebuah demonstrasi sejalan tradisi demokrasi atau sekadar kerumunan peluapan emosi. Demo Ember mengemas sejumlah alasan sejauh ini. Mulai dari bernada aksi bela agama (jilid II), lantas aksi bela agama dan negara. Terdengar pula semacam orientasi demi kedaulatan hukum. Belum lagi, seruan penjarakan Om Ahok, hukum penista agama dan seterusnya.

Dari sini, argumentasinya terkesan belum paten sepenuhnya bahkan terasa ambigu. Semisal dalih Aksi Bela Agama mengandaikan wujud protes bermula tudingan atas pernyataan Om Ahok terkait al-Maidah 51 yang masih debatable, hingga suara publik maupun kalangan –tempat meminta tabayyun bukan sebatas tausiyah atau fatwa– masih terbelah.

Munculnya argumentasi Aksi Bela Agama dan Negara sebagai anasir –walau kemasan besarnya– Aksi Bela Agama disertai Jilid II, kiranya menguatkan kesan tersebut. Padahal, sudah rahasia umum bagaimana pemahaman maupun sikap kelompok yang menginisiasi atau apalah Demo Ember mengenai relasi agama dan negara. Yakni, menolak pemisahan agama dan negara karena berkesimpulan hal itu sekuler.

Adakah dinamika yang berkembang di balik layar? Sekali lagi, saya tidak hendak berpolemik, melainkan semata meresapi sendiri perkembangan. Dengan begitu jangan pernah samakan pula Demo Ember dan Demonstrasi Mahasiswa 1998 lampau, karena dalam banyak hal substansinya jauh berlainan! Semisal satu hal saja, konsistensi basis argumentasi.

Lebih-lebih argumentasi Demi Kedaulatan Hukum dengan Ayo Penjarakan Ahok, Hukum Penista Agama dan semacamnya pun layak dipertanyakan muatannya. Sebab, terbesit bias derivatnya berupa sangkaan pengistimewaan terhadap petahana cagub DKI dan tekanan untuk lekas memproses hukum atas dirinya. Bukankah dengan menyegerakannya justu menyiratkan pengistimewaan yang sama?

Apa upaya demikian tidak bisa dibilang pemaksaan yang jelas kontras dengan esensi kesamaan di hadapan hukum itu sendiri? Bagaimana dengan berbagai laporan maupun kasus-kasus lain yang lebih dulu menjadi tugas penegak hukum, dan bukan mustahil tak kalah krusial untuk diproses secepatnya? Apalagi, bertambah desakan pada kepolisian untuk menetapkan Om Ahok sebagai tersangka.

Bandul terpaut masalah penistaan, penodaan, atau pelecehan agama hendaknya dicermati seksama dan arif. Regulasi menangani dugaan perkara itu tertuang antara lain dalam UU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan agama yang isinya amat ringkas dan membutuhkan penafsiran apa adanya.

Jika dicermati dari labelnya saja, sebenarnya bukan hanya dugaan penodaan terhadap agama, tetapi meliputi pula (indikasi bahkan dugaan) penyalahgunaan agama untuk kepentingan tertentu. Karena itu, bisa dimafhumi saat kasus Gatot Brajamusti dan Taat Pribadi misalnya, berkembang pada ranah dugaan pelanggaran aturan demikian. Sedangkan pemakaian jargon-jargon agama dalam politik praktis, semisal ajang Pilkada monggo pahami sendiri berdasar spirit Undang-Undang itu.

Selain UU tersebut (Pasal 4), memasukkan ketentuan baru ke dalam KUHP pasal 156a selanjutnya. Hanya saja, penanganannya juga melibatkan forum Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat dan Keagamaan (Bakor Pakem). Sejumlah pihak yang dilibatkan Kementerian Agama, Kejaksaan, Badan Intelijen Negara serta tokoh masyarakat bersangkutan. Tanpa melalui prosedur dan pembahasan demikian, pasal itu gagal efektif, bahkan bisa dibilang impoten.

Kedua, basis massa. Awalnya sempat mengemuka klaim bahwa Demo Ember diikuti sekian massa muslim, bahkan disebutkan sejuta umat. Namun, dalam perkembangan kemudian muncul pula ajakan bernada rayuan –agar NU dan Muhammadiyah bergabung– yang mengesankan sebaliknya.

NU dan Muhammadiyah sebagai barometer aspirasi kalangan muslim saja, memilih jalan berbeda sehingga Demo Ember terbilang belum representatif, justru bila parameter yang dikehendaki adalah kuantitas. Belum lagi, jika dipergoki njekethek kebanyakan pendemo berasal dari luar Jakarta di lapangan. Sementara, lamat-lamat beredar informasi bahwa satu per satu tokoh muslim berikut komunitas muslim menyuarakan penolakan rencana aksi itu pada kesempatan terkini.

Pada gilirannya, dari kacamata aksi dan demonstran saja, Demo Ember mengguratkan kebingungan. Itu pun baru merunut dua unsur yang menjadi bagian demonstrasi sebenarnya. Bila bersandar pada agama, kita juga mestinya sudah mafhum tentang keputusan yang seharusnya dipilih ketika masih digelayuti bingung.

Para sedulur termasuk kemungkinan organisasi mahasiswa asal berbagai daerah luar Jakarta, akan tekor besar seandainya tergopoh-gopoh ikut berdemonstrasi nanti karena mengorbankan aspirasi demi memajukan kearifan lokal sendiri.

Saya pun ogah terjebak dengan Om Fadli Zon sekalipun memang ikut turun ke jalan, entah hal itu keseriusan seaspirasi atau olok-olok belaka, hanya Gusti Tuhan dan dirinya yang mengetahui kebenarannya. Lebih baik saya akan sering menengok sekeliling, agar jangan sampai dirasuki penyusup yang tidak bertanggungjawab, sambil menikmati festival "Unjuk Gigi" yang tinggal menghitung jam. Bagaimana dengan sampean?