89259Oportunis.jpg.jpg
Ilustrasi: yohanesfernandez93.blogspot.co.id
Agama · 4 menit baca

Demokrasi dan Diabolisme Oportunis; Konflik Antara Politik dan Agama

“Kita mungkin tidak menghormati Setan, karena itu tidak masuk akal. Akan tetapi, setidaknya kita bisa menghargai bakatnya.”

- Mark Twain -

Fonem atau kalimat prosa yang dilontarkan oleh Mark Twain -seorang akademisi dan novelis asal Amerika- merupakan suatu konklusi dari pengalamannya ketika menulis dan menelusuri beberapa bacaan rak-rak buku. Dengan artian, bahwa seburuk-buruknya sesuatu masih memiliki hal yang bisa dihargai oleh orang lain.

Pemahaman ini, tidak selalu salah perspektif dalam mengartikan suatu kejadian. Sebab hal sekecil apapun, masih terdapat mutiara hikmah yang bisa diambil oleh manusia.

Dalam agama Islam contohnya, setiap kejadian yang terjadi di dalam Al-Qur'an –baik menyangkut hal baik maupun buruk- menjadi suatu pelajaran yang bisa dipetik dalam menjali kehidupan sesuai dengan tuntutan agama Islam.

Semisal, disebutkan dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 34, "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. Iblis dalam cerita tersebut termasuk dari hamba Allah yang membengkang perintah-Nya, untuk sujud pada Nabi Adam.

Hal yang bisa dipetik dari cerita itu, bahwa meski Iblis memiliki kecerdasan yang luar biasa yang diberikan oleh Allah, ia tetap mendapat kemungkaran-Nya. Sebab, ia merasa tinggi hati dan sombong dengan dirinya.

Lebih lanjut, pernyataan Mark Twin, memberikan motif bahwa dibalik kejadian Iblis yang usir oleh Tuhannya dari Surga, adalah kecerdasan intelektual Iblis yang keblinger dengan memperdaya Nabi Adam untuk memakan buah yang terlarang. Di satu sisi, kita tidak ragu akan kecerdasan IQ (intelligence quotient) Iblis dari pada makluk lainnya. Akan tetapi, secerdas itu malah menjadi malapetaka baginya.

Inilah salah satu gambaran yang melatar belakangi muncul benih-benih Iblis dalam diri manusia. Mereka terkadang cenderung suka berlebih-lebihan (israf), sombong (takabur), merasa tinggi hati (taraffu’), dengki (hasud), menipu (kadz) dan lain sebagainya.

Sikap yang dilakukan oleh Iblis, bisa kita lihat dengan mata telanjang dikehidupan nyata saat ini. Meski secara fisik berpostur manusia, benih-benih pemikiran Iblis, masih akan selalu menyeliputi hawa nafsu anak Adam. Sesuai janji Iblis kepada keturuan Adam (QS. Al-A’raf [7]: 16). Cara pandang (fremework) ala Iblis ini lebih dikenal dengan “Diabolisme”.   

Di zaman era modern saat ini, Indonesia yang menerapkan sistem demokrasi masih berada diujung kemerdekaan. Bagaimana tidak? meski secara teks, bung Karno memproklamasikan kemerdekaan dihadapan rakyat Indonesia pada 17 Agustus 1945, nyatanya rakyat masih tidak bisa terbebas dari tangan-tangan asing atau tangan-tangan penguasa yang hanya mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.

Bukan hanya pada masa-masa kemerdekaan, sampai detik sekarangpun orang-orang oportunis dengan mengambil keuntungan hasil pribumi dan keuntungan pribadinya, masih saja berkeliaran dalam tubuh Indonesia.

Selain itu, Pancasila yang menjadi dasar NKRI, oleh mereka tak jarang dijadikan senjata ampuh multi-tafsir­ sesuai kepentingan dirinya atau kelompoknya. Mereka menciptakan gagasan atau opini guna merubah paradigma baru dalam kehidupan masyarakat.

Seperti fenomena akhir-akhir ini yang menggemparkan bangsa Indonesia. Ada kelompok kiri yang mengaku umat yang toleran. Dan ada kelompok kanan yang mengaku umat yang agamis. Kedunya sama-sama mengaku cinta tanah air, seakan kata ‘nasionalisme’ hanya milik salah satu dari mereka.

Hal ini, tentu menjadi faktor terjadinya konflik dan terpecah belahnya bangsa. Kaum toleran seakan diwakili oleh kaum feodal dan pemerintah. Sedangkan kaum agamis seakan diwakili oleh para kiai dan santri. Perpecahan dan konflik itu merambat pada ranah politik yang mengatas namakan agama untuk mencari kekuasaan. Akibatnya tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar agama dan mana yang bukan.

Tanpa sadar, dinamika dan problem tersebut mengakibatkan beberapa konflik kedua kelompok tersebut dalam membela kelompoknya sendiri. Dan menjadi wadah yang empuk bagi para oportunis dalam mengambil kesempatan untuk keuntungan dirinya sendiri.

Melalui pintu kesempatan dari kedua kelompok tersebut, tujuan yang semula baik menjadi tidak baik. Yang semula sesuai dengan tujuan bersama menjadi tujuan satu kelompok tertentu. Yang semula ingin mensejahterahkan rakyak menjadi menyengsarakan rakyat. Maka tak heran kalau yang dulunya Malaikat (angel) sekarang menjelma menjadi Iblis (devil), yang dulunya manusiawi sekarang menjadi binatang.

Sedikit menelusuri watak-watak atau pemikiran (thought) para oportunis yang secara tidak langsung merugikan bangsa dan dapat memecah belah bangsa. Pemikiran ala Iblis –seperti yang disebut di atas- tidak jauh berbeda dengan para oportunis dalam mengambil kesempatan demi keuntungan bagi dirinya.

Ada beberapa kesamaan keduanya dalam segi watak dan pemikirannya, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an. Pertama, meskipun ia tahu, paham dan mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Ia selalu membangkan, membantah dan tidak tidak akan mau menerima kebenaran (QS. Al-An’am [6]:121).

Maka tak heran, sifat-sifat ala Iblis seperti ini akan selalu mencari argumen yang sesuai dengan keinginannya. Menggunakan berbagai cara untuk bisa mendapatkan hasil yang menguntungkan dirinya. Dan akan mencari pembenaran –bukan kebenaran- untuk mempertahankan opininya yang dianggap benar.

Jadi, buka karna ia bodoh atau pendidikannya yang minim. Akan tetapi, mereka memang tidak mau menerima kebenaran dan tunduk pada apa yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Kedua,  bersikap sombong, angkuh dan arogan. Orang yang bersifat sombong akan menganggap selain dirinya bodoh atau rendah. Orang yang angkuh akan melihat selain dirinya selalu salah. Sedangkan orang yang arogan akan beranggapan bahwa orang lain harus dimusnakan. Sebab selain dirinya hanyalah penghalang dan pengganggu dalam mencapai tujuannya.

Akibatnya, orang-orang yang menyalahi tujuannya dianggapnya dogmatis, leteralis, fundamentalis, konservatif, nasionalis, dan lain sebagainya. Mereka akan menganggap kebenaran hanya miliknya. Yang lain, hanyalah jalan kesesatan. Hal ini sudah diperingati dalam Al-Qur'an Surat Al-‘A’raf [7]:146 bahwa Allah akan memalingkan orang-orang yang sombong.

Terkait dengan sifat-sifat ala Iblis dalam tubuh oportunis, maka mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mencapai tujuan, yang tidak lain pasti akan menguntungkan dirinya sendiri atau kelompoknya, dengan menyelinap kedalam ke tubuh kelompok-kelompok tertentu.

Melalui demokrasi yang menjadi sistem negara, ia jadikan sebagai temeng untuk mempertahankan dirinya. Dan Pancasila yang menjadi ideologi negara, ia jadikan senjata untuk melawan musuh-musuh yang dianggap menyalahi keinginannya. Serta jabatan yang seharusnya menjadi amanah, sebagai bekal pahala di Akhirat, ia jadikan baju politik yang dihiasi oleh iming-iming uang agar masyarakat terpikat dan tertarik padanya. 


#LombaEsaiKonflik