61878.jpg
Environmental Art by Chris Drury - http://pureadvantage.org/
Lingkungan · 4 menit baca

Deforestasi dalam Narasi Primo Levi

Tipis ozon berlubang
Debu kosmik hujan asam
Matahari tiada tirai
Bakal bunga tak mekar

Daun-daun berlubang
Tak berputar energi
Wajah bumi menangis
Sedang kita tak mengerti

Sungguh tragis ekspresi resah band Efek Rumah Kaca dalam lagu mereka, Efek Rumah Kaca. Isu bumi yang rusak dewasa ini memang sanggup membuat dada berdebar dan tangan berkeringat. Tahun 2010, Dewan Nasional Perubahan Iklim merilis sebuah laporan. Laporan itu menyatakan bahwa 85 persen emisi gas rumah kaca dihasilkan dari aktivitas penggunaan lahan, dengan 37 persen akibat deforestasi dan 27 persen dari kebakaran gambut.

Sejak tahun 1970-an, Indonesia merupakan salah satu produsen utama untuk komoditi kayu, kertas dan industri kelapa sawit. Ekspansi sektor bisnis kehutanan ini menyebabkan deforestasi secara masif terus terjadi. Indonesia kehilangan lebih dari setengah tutupan lahan gambut.

Sebetulnya, Indonesia sungguh beruntung. Mongabay Indonesia menyebutkan bahwa lahan gambut di Indonesia memiliki nilai penting bagi dunia, sebab menyimpan setidaknya 57 miliar ton karbon. Surga karbon lahan gambut Indonesia hanya mampu ditandingi oleh hutan hujan di Amazon yang menyimpan 86 miliar ton karbon.

Karbon Sebagai Entitas 

Tentu kita semua sepakat bahwa karbon sangat penting bagi kehidupan di Bumi. Karbon ditemukan di dalam tubuh semua organisme hidup—dari segelas susu, hingga pensil. Primo Levi—seorang ahli kimia, penulis, dan korban selamat holocaust Yahudi—sepakat tentang betapa penting karbon bagi semesta. Dalam buku The Periodic Table, Primo Levi berusaha menelanjangi karbon berdasarkan sudut pandang seorang eksistensialis.

Secara puitik, Levi menggambarkan bagaimana karbon berada dalam segelas susu yang diminum oleh manusia. Susu masuk ke dalam tubuh. Karbon yang berada dalam susu meresap ke dalam otak Levi yang sedang menulis. Otak Levi kemudian membimbingnya untuk menulis di atas kertas.

Gambaran Levi itu menggambarkan pentingnya karbon dalam proses kehidupan. Karbon menjadi senyawa yang mempengaruhi kesadaran manusia. Ia meresap ke jaringan tubuh dan otak manusia dalam proses berpikir dan berkesadaran. Lewat hal itu, Levi mempertegas universalitas karbon yang berada bagi umat manusia.

Sebab oleh keberadaannya yang penting, karbon adalah elemen yang menyatakan segala sesuatu pada setiap orang. Ia menyatakan dirinya secara subtil dalam seluruh kehidupan manusia. Karbon hidup dan dibekukan dalam sebuah kehadiran abadi.

Karbon berelaborasi dengan kehidupan sehari-hari. Ia selalu mengalami perubahan kimawi dalam lingkaran hidup. Bisa dibilang, ia mengandung ketidakmurniaan karena memang selalu berelaborasi dengan banyak eleman lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Saking elaboratifnya karbon, maka ia sulit diurai menjadi murni.

Sifat subtil karbon hadir karena ia telah bersenggama dengan elemen-elemen lain dalam kehidupan manusia. Ia mudah berkombinasi dan mengalami evolusi dalam sekian ribu tahun sejarah kehidupan manusia.

Karbon menurut Levi merupakan pemaknaan yang perwujudannya hanya bisa dipahami melalui waktu dan pengalaman manusia. Karbon adalah sebuah indecipherable character dari perkembangan kehidupan umat manusia. Karakter itu hanya dapat dipahami setelah kita mengalami—entah sebagai sebuah kesuksesan, kegagalan, kemenangan, atau kekalahan.

Tepat di situlah kita bisa memahami karbon sebagai entitas. Di daerah pesisir Indonesia, karbon terkandung dalam gambut. Gambut yang berkarbon merupakan akumulasi pembusukan vegetasi selama ribuan tahun. Sebagian besar lahan gambut di Indonesia kini berbentuk hutan yang menjadi habitat tumbuhan dan satwa langka.

Genosida

Sungguh mengerikan kalau lahan gambut harus musnah. Dalam Jurnal Bumi, disebutkan secara cukup rinci mengenai kerusakan lahan gambut. Tindak pembabatan dan pengeringan lahan gambut menyebabkan turunnya permukaan gambut. Namun cara itu banyak dilakukan untuk mengeluarkan air yang terkandung dalam tanah gambut.

Efeknya, pohon-pohon yang terdapat di permukaan tanah tidak bisa tegak dengan kuat karena akarnya menyembul. Banyak pohon yang roboh di atas gambut yang tidak sehat. Pengeringan pada lahan gambut mempunyai karakteristik tidak dapat kembali (irreversible). Sekali air dikeluarkan, gambut akan kehilangan sebagian kemampuannya untuk menyimpan air.

Ketika musim kemarau tiba, mulut-mulut api dengan mudahnya melahap lahan kering. Proses kebakaran hutan gambut melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer dan memusnahkan keanekaragaman hayati hutan. Sementara di musim hujan, hutan tidak bisa menyerap air dengan baik hingga dapat menyebabkan bencana banjir.

Hal buruk yang terjadi pada gambut dan karbon adalah pembantaian—semacam genosida. Persis seperti Levi mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Yahudi. Ia pernah mengalami penahanan dan penyiksaan di kemah konsentrasi. Seperti karbon, ia juga seringkali dianggap sebagai kambing hitam dari bagian elemen-elemen kehidupan yang dianggap sebagai ancaman kehidupan manusia.

Dalam konteks gambut, misalnya, pelepasan karbon dianggap sebagai sebuah elemen yang menghancurkan. Namun di saat yang bersamaan, karbon adalah elemen yang penting keberadaannya dalam semesta.

Natur dan Kultur

Tulisan tentang karbon adalah bagaimana Levi menjelaskan tentang hubungan antara yang ‘natur’ dan yang ‘kultur’. Levi mendukung evolusi materialistik, yang terlihat kuat antara alam dan umat manusia. Jika ada satu elemen yang dapat menyatukan menghubungkan dua budaya, yaitu literatur dan sains, dan dapat menyatukan pikiran dan materialitas kita, itu adalah karbon.

Dengan kata lain, karbon dapat menyatakan segala sesuatu terhadap semua orang. Levi ingin tak sekadar mendeskripsikan karbon sebagai karbon, tetapi mengungkapkan juga mengenai otoritas karbon sebagai zat yang berguna bagi semesta alam.

Berdasarkan pengalaman Levi, setelah genosida di Auschwitz, narasi ditemukan lebih emansipatoris atau membebaskan dibandingkan dengan sains. Khalayak lebih tertarik pada sisi humanis di setiap pengalaman dibandingkan dengan temuan ilmiah. Tetapi, menurutnya, narasi pembebasan itu sering dipandang tidak penting.

Ketika saya mengulang dengar Efek Rumah Kaca, saya merasa menemukan narasi anti-pembebasan di dalamnya. Wajah bumi menangis, sedang kita tak mengerti. Saya hanya bisa berharap semoga pesimisme Cholil, dkk tidak sungguh-sungguh.

Tahun 2015, Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan mencapai 2,6 juta. Sebanyak 35 persennya berasal dari lahan gambut. Tahun 2016, akhirnya luas kebakaran menyusut. Sebuah kenyataan miris bahwa kita harus mengalami kehancuran dulu sebelum memahami betapa krusialnya lahan gambut.

Setelah rentetan pembantaian terhadap lahan gambut di Indonesia, semoga kita menemukan lebih banyak upaya emansipatoris dalam mendekati alam. Hal-hal besar dapat dimulai dari refleksi sederhana: manusia mendekati, memahami, dan menelanjangi karbon. Hingga pada akhirnya, karbon menjadi bagian dari hidup kita yang keberadaannya tak perlu diusik.***