40543.jpg
www.123rf.com
Ekonomi · 3 menit baca

Daya Beli dan Peluang Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu negara dalam suatu periode tertentu adalah Produk Domestik Bruto (PDB). Data PDB dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi, serta dapat pula digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.

Dari segi konsumsi, ada beberapa variabel yang berkontribusi besar pada pertumbuhan PDB, yakni Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT), Konsumsi Pemerintah, Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT), Pembentukan Modal Tetap Bruto, Inventori dan Ekspor-Impor.

Dalam data BPS, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2017 memang berjalan stagnan dari pertumbuhan triwulan sebelumnya, yakni 5,01 persen. Namun, dari segi konsumsi, terdapat peningkatan dari beberapa komponen konsumsi. Konsumsi rumah tangga meningkat dari 4,93 persen pada triwulan I-2017 menjadi 4,95 persen pada triwulan II-2017. Konsumsi LNPRT juga meningkat drastis dari 8,02 persen pada triwulan I-2017 menjadi 8,49% pada triwulan II-2017.

Peningkatan juga terjadi pada investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto), dari 4,78 persen pada triwulan I-2017 menjadi 5,35 persen pada triwulan II-2017. Hal ini merupakan prestasi terbesar dalam empat tahun terakhir yang dicapai pemerintah, yang dapat disebabkan oleh beberapa keberhasilan pemerintah dalam mengurangi hambatan investasi dan strategi pembangunan infrastruktur yang kian progresif.

Penurunan memang terjadi dalam beberapa sektor, seperti penurunan pertumbuhan ekspor barang dan jasa dari 8,21 persen pada triwulan I-2017 menjadi 5,76 persen pada triwulan II-2017. Namun, kinerjanya tidak seburuk tahun-tahun sebelumnya.

Hal ini sejalan dengan kondisi perekonomian global yang sedang mengalami perlambatan, seperti melambatnya perekonomian Tiongkok, serta belum pulihnya stagnasi ekonomi pada negara-negara inti orde ekonomi dunia seperti Eropa dan Amerika Serikat pasca krisis 2008. Semua faktor ini berpengaruh negatif terhadap permintaan dan harga komoditas, yang berpengaruh pada kinerja ekspor Indonesia.

Akan tetapi, daata BPS menunjukkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2017 mencatat surplus sebesar US$ 1,32 miliar. Hal ini dipicu oleh surplus sektor nonmigas US$ 2,55 miliar. Sedangkan neraca perdagangan di sektor migas defisit US$ 1,23 miliar. Secara kumulatif, perdagangan pada 2017 (Januari-Februari) mengalami surplus sebesar US$ 2,7 miliar.

Jika kita melihat keseluruhan kontribusi dari sektor konsumsi ini terhadap PDB, pertumbuhan ekonomi berjalan relatif aman dan kondisi daya beli tidak se-ekstrim yang dibayangkan banyak orang. Berdasarkan strukturnya, konsumsi rumah tangga masih penyumbang terbesar terhadap PDB, yakni sebesar 55,18 persen, disusul Pembentukan Modal Tetap Bruto 32,36 persen, Ekspor Barang dan Jasa sebesar 20,69 persen.

Sedangkan sektor yang lain seperti Konsumsi Pemerintah, Inventori, LNPRT masing-masing 9,77 persen, 2,88 persen dan 1,12 persen. Kita dapat melihat dua sektor penyumbang terbesar terhadap PDB nasional masih mencatatkan pertumbuhan positif.

Sektor perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan sepeda motor pada triwulan II-2017 juga masih mencatatkan pertumbuhan positif walau tak sebesar pada triwulan sebelumnya. Bahkan, Indonesia masih tetap memimpin penjualan otomotif di kawasan Asia Tenggara pada semester I 2017.

Data ASEAN Federation Automotive menunjukkan bahwa penjualan mobil Indonesia periode Januari-Juni tahun ini mencapai 533.570 unit, yang berarti naik 0,3 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan di tanah air juga terbesar dibanding dengan negara ASEAN lainnya, yakni mencapai 33 persen dari total 1,61 juta unit.

Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) juga mencatat bahwa total ekspor kendaraan roda dua pada Februari 2017 sebanyak 27.478 unit, naik tipis 1,52 persen dibandingkan dengan capaian bulan yang sama tahun sebelumnya, yakni 27.066 unit. Adapun secara kumulatif, total ekspor selama 2 bulan pertama tahun ini mencapai 55.884 unit, naik sebesar 3 persen dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 54.252 unit.

Bahkan, sektor perdagangan ritel perkembangannya tidak seburuk yang diwacanakan. Data Bloomberg menunjukkan bahwa penjualan sembilan emiten retail pada triwulan II 2017 masih sebesar 29,42 persen menjadi Rp 37,8 triliun dibanding triwulan sebelumnya. Tumbuhnya penjualan emiten ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat masih ada meskipun beberapa perusahaan mengalami penurunan pertumbuhan laba pada semester pertama.

PT Sumber Alfaria Trijaya (ALFA) sepanjang triwulan kedua 2017 berhasil mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 21,8 persen menjadi Rp 16,76 triliun dari triwulan sebelumnya. Mitra Adiperkasa (MAPI), penjualannya juga tumbuh 13,25 persen menjadi Rp 4,1 triliun dari sebelumnya.

Demikian pula Hero Supermarket (HERO), juga meraih kenaikan penjualan 22,67 persen menjadi Rp 3,8 triliun dari sebelumnya. Bahkan, penjualan Matahari Departemen Store (LPPF) dan Ramayana Lestari (RALS) melonjak lebih dari dua kali lipat dari triwulan sebelumnya.

Penjualan emiten retail pada triwulan kedua 2017 juga mencatat pertumbuhan 11,85 persen dibanding triwulan kedua tahun sebelumnya (YoY). Demikian pula sepanjang semester pertama tahun ini, penjualan perusahaan sektor retail juga tumbuh 9,6 persen menjadi Rp 67 triliun dibanding semester tahun sebelumnya.

Ditambah berdasarkan data Global Retail Development Index 2017, nilai penjualan ritel Indonesia mencapai US$ 350 miliar atau sekitar Rp 4,6 kuadriliun. Angka ini jauh di atas nilai penjualan ritel negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) lainnya.

Bahkan, Global Retail Development Index (GRDI) 2017 yang dirilis oleh lembaga konsultan A.T Kearney, pasar ritel Indonesia berada di posisi 8 dari 30 negara berkembang di seluruh dunia. Dalam laporannya menyatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu pangsa pasar paling atraktif di negara berkembang.

Perkembangan ini justru memberikan peluang terhadap pertumbuhan Indonesia untuk semakin meningkat. Dan perkembangan ini juga menunjukan tidak terjadi kemerosotan daya beli atau konsumsi masyarakat.