Ketik untuk memulai pencarian

Daerah Terbelakang yang Sulit Berkembang

Daerah Terbelakang yang Sulit Berkembang

irzan-trisna.blogspot.co.id

hari-hari ini bangsa  yang lahir dari penderitaan panjang akibat kolonialisme dan penjajahan mulai memiliki itikad baik untuk memberi sinyal bagi daerah terbelakang untuk ikut berkembang.

Dukungan tersebut tidak saja serta-merta karena adanya kebijakan desentralisasi kekuasaan melalui otonomi daerah, tetapi juga berbagai macam kebijakan dengan genjatan program-program yang menitik beratkan perhatian pembangunan pada daerah tertinggal dan pelosok. Meski semua itu kerap melahirkan realita yang berbeda dan jauh dari angan-angan kita.

pada masa Orde Baru, daerah terbelakang dan pelosok masih belum mendapat perhatian serius dan cenderung dilupakan. Meski sesungguhnya pemerintah Orde Baru kala itu memerhatikan "desa" lantaran keinginannya akan swasembada beras dapat teralisasi, sehingga proses pembangunan desa atau daerah terbelakang tidak serta merta fokus pada pembangunan daerah dan sumber daya manusianya akan tetapi hasil tanahnya.

Pada awalnya kami tidak percaya melihat ketakjuban sebuah pulau dekat daerah Serang Banten tempat Nyai Atut yang telah menjadikan Banten sebagai kerajaan kecilnya. Atut adalah orang beruntung yang memanfaatkan hasil adanya otonomi daerah dan berbagai dukungan kebijakan pemerintah khususnya dibidang pembangunan daerah tertinggal dan pelosok untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kesejahteraan keluarga dan sanak saudaranya, bukan untuk rakyatnya!

Pada pembukaan program pengabdian masyarakat yang tergabung dalam ILP2MI (ikatan lembaga penalaran dan penelitian Mahasiswa Indonesia) yang hampir di naungi oleh semua kampus di Indonesia dari berbagai perwakilannya, kami tidak sempat melihat sambutan dari Gubernur Banten.

Lantaran sang Gubernur sedang berwisata ke kantor KPK untuk memenuhi panggilan kehormatan tersebut. Meski demikian kami tetap merasa hangat akan hadirnya dukungan dari para pembantu Rektor dari universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan segenap jajaran pemerintah daerahnya.

Karena saya belum pernah menyambangi pulau panjang,  sehingga terbesit dalam benak saya bahwa pulau tersebut pasti indah. Saya pun selalu mawas diri agar kedatangan saya kesitu adalah benar-benar untuk mengabdi dan berkecimpung dalam pelbagai masalah daerah tersebut dan itu pun saya tambatkan selalu dalam doa-doa saya

Sepanjang kami menyusuri jalan Cilegon Banten untuk mencapai pelabuhan tak terbayangkan oleh kami, lantaran pinggang kami terasa pegal oleh ganasnya jalan berlubang. Padahal tempo hari kami melihat sang Gubernur Atut di siarkan oleh berbagai kabar dari Koran-koran memiliki berbagai macam jenis kendaraan elit dan  bisa wisata sekaligus berbelanja keluar Negeri dengan jumlah milyaran rupiah.

Sesampainya kami di Pulau Panjang, karena situasi pada saat itu larut malam, kami belum bisa melihat di sekitar kanan dan kiri pulau tersebut karena semua masih gelap. Setelah itu kami langsung saja istirahat.


Follow Qureta Now!

Pagi cerah begitu indah, mata hari menyapa begitu ramah untuk mengajak kami melihat bibir pantai. Ternyata bibir pantai tidak berpasir seperti pantai-pantai lain, bibir pantai hanya dipenuhi terumbu karang yang rusak dan mengering, sapaan pagi lain, kitapun melihat adanya bukit pasir seperti candi runtuh akibat ganasnya kerukan kapal-kapal tongkang pengangkut pasir. Pantai ini pun tak memiliki snorkeling, yang ada hanya jeritan dari para warga dusun.

Sebenarnya kami merasa miris, karena disaat yang bersamaan pemerintah kita sedang gencar-gencarnya memajukan kepariwisataan daerah untuk mengenalkan kekayaan alam Indonsia yang banyak orang bilang eksotis. Apa mereka para pemangku kebijakan tidak melihat daerah ini? Lalu sebenarnya daerah ini dengan keadaannya akan dikembangkan kemana?

Saya lihat disekeliling banyak terdapat anak-anak yang ingin bersekolah, juga warga-warga yang ingin menikmati akses kesehatan secara mudah, mesin pengelolaan air agar tidak asin, dan listrik yang baik, tidak perlu mewah dan megah.

Pak nanang (bukan nama asli) merupakan pejabat dusun sekelas RT yang berkeluh tanpa wadah. bertahan hidup di pulau ini kurang lebihnya adalah perjuangan. Tuturnya”.

Dokter disini pun tak ada, hanya bidan dan itu pun sekedar pengabdian setelah mereka mengabdi untuk sebuah gelar atau kepangkatan kepegawaian Negeri, yaa mereka anggap tugas selesai. Tambahnya” jadi kalau pun ada orang melahirkan dimalam hari, ya kita bantu dengan cara seadanya dan yang kita bisa. Tutur pak nanang lirih.”

Mungkin para dokter di kota sekarang sedang sibuk mencari penjual dan pembeli ginjal pak. Tuturku sedikit menghibur pak nanang” tertawa lepaslah pak nanang, mungkin kini perilaku dzalim orang hebat mampu menjadi guyonan, tak lebih sekedar alat penghibur.

Memang pulau tersebut tidak memiliki akses penunjang yang baik demi menunjang penghidupan yang layak. Dan satu hal yang saya ingat dari doa pak nanang, yakni semoga kedepan ada pemimpin yang baik untuk mengetahui keberadaan mereka. saya pun berharap semoga doa pak nanang terwujud.

Sebetulnya masalah tersebut mungkin saja tidak terjadi pada kawasan Pulau Panjang, akan tetapi toh masih banyak daerah lain bernasib sama, entah mengapa sebagai bangsa dan Negara Indonesia yang telah di bangun dengan berbagai macam polemik yang berkepanjangan, dari mulai pertarungan ideologi sampai pada pertarungan hati para pemimpin masa lampau, kini hanya menyisakan pertarungan keuntungan berkepanjangan.

Menjadi aktor politik kini haruslah kaya secara ekonomi, tak perlu berkelit dengan segudang gagasan, ada pun gagasan tak lebih sekedar sebagai slogan tak bernafas dan tak bernyawa.

Lebih pahit lagi pandangan masyarakat kini menganggap “pekerjaan” sebagai seorang pejabat pastilah kaya, tentunya hal ini pula yang menjadi kekhawatiran dari Abdulah Hamahuwa seorang mantan komisioner KPK pertama melihat pandangan masyarakat saat ini yang kurang mampu menjadi pengawas secara partisan bagi pejabat setempat.

keadaan edan sekarang pemimpin kehilangan roh dan sifat sebagai seorang pemimpin seperti diungkap oleh Aristoteles yakni dengan dasar kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan tentu seorang pemimpin memiliki rasa kemanusiaan, karena rasa kemanusiaan itulah seorang pemimpin diajak dan diajarkan tentang sikap humanis (kepedulian) agar peduli terhadap sesama pada manusia dan semesta.

Tentunya dengan melihat Pulau Panjang dari kacamata seorang pemimpin dengan penuh kebijaksanaan tentu alam akan dilihat sebagai keindahan yang harus dijaga dan manusia sebagai saudara yang harus dilindungi dan dihormati atas semua haknya atas nama sesama.

Tentunya sikap sesama akan mengajarkan kita pada kehidupan harmonis, tak saling berebut keuntungan apa lagi memanfaatkan peluang dalam sebuah penderitaan. Bahwa keuntungan untuk semua bukan justeru sebaliknya semua keuntungan untuk kita. dari gambaran kawasan Pulau Panjang kita setidaknya dapat memetakan bahwa pembangunan daerah tertinggal tidak lebih sekedar sebuah Ilusi.

Oleh karenannya degradasi moralitas para pemimpin sebagai sebuah keniscayaan zaman saat ini menjadi doa bagi kita untuk bangkit dan sadar. Semoga.

Rizky Pujianto

Mahasiswa sosiologi universitas negeri jakarta, murid amatiran pegiat literasi Solo asuhan Bandung Mawardi, dan sedang bergiat dalam ruang Pustaka Kaji sebuah lembaga literasi kampus Universitas Negeri jakarta.

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016