66264bus.jpg.jpg
Cerpen · 11 menit baca

Bus Jembatan Impian

Alya gadis manis yang selalu bersemangat dalam segala aktivitasnya, di kenal dengan sebutan 'gadis senja' karena selalu pergi pagi dan pulang menjelang Maghrib. Hari ini adalah hari yang di nantikan oleh Alya. Pagi benar Alya terbangun, rupanya dia sudah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat, dan saat hari itu Alya sedang libur kuliah. Tas ransel dan perbekalannya siap dibawa. Tepat pukul 5 pagi dia sudah memakai sepatu kets nya. 

   "Mau ke mana, de?" tanya ibu.

   "Alya mau pergi jauh dulu ya bu, mungkin akan pulang telat, karena akan mengantarkan seseorang." jawab Alya. 

   "Oh begitu, ya sudah jangan terlalu larut ya de." pesan ibu.

   "Iyaa, siap bu." jawab Alya dengan mengedipkan satu matanya. 

Saat itu Alya keluar rumahnya dengan penuh semangat, untuk menemui seseorang lelaki, ya hari ini lelaki tersebut akan pergi jauh. Alya menantikan lelaki tersebut di tempat yang sudah mereka janjikan, tapi sepertinya rencananya tidak sesuai, lelaki tersebut sudah pergi lebih dulu ke terminal. Alya yang sedang bersemangat di buat kesal akan kejadian tersebut, namun apa di kata, Alya yang ingin berjumpa dengannya terakhir kali, ingin tetap mengantar lelaki tersebut sampai ke tempat terakhir dia bisa mengatar. Alya pun melanjutkan perjalanannya sendiri sampai ke terminal untuk bertemu lelaki tersebut. 

Setelah 20 menit berlalu, Alya tiba di terminal, kemudian ia langsung melihat keselilingnya untuk mencari orang yang dia akan temui. Mata nya terhenti ketika melihat seseorang sedang asyik mendengar lagu di headset yang menempel pada telinganya, sedang menyandar ke dinding sambil menendang batu kerikil di bawah kakinya. Dia tampak sudah bersiap untuk pergi jauh, terlihat dari topi yang ia pakai, yang ia gunakan hanya ketika hendak pergi jauh. 

Alya pun melangkah perlahan dan mendekat, tidak lama langkahnya berhenti karena melihat lelaki tersebut di hampiri seorang wanita tinggi semampai yang amat sangat cantik. Mereka berbicara seperti yang saling mengenal, namun Alya tak dapat melihat percakapannya karena wanita tersebut membelakangi Alya.

Alya pun menunggu sampai mereka selesai berbicara, dengan sedikit kesal karena menanti lelaki tersebut bicara sangat lama dengan wanita tersebut, Alya yang sudah mulai memainkan game di handphone-nya tanda Alya sudah mulai bosan. Tidak lama tanpa Alya sadari, lelaki yang akan di temui oleh Alya tersebut itu sudah berdiri tepat 1 meter di depannya sambil memandangi Alya dan tersenyum. Alya yang lebih pendek tingginya langsung mengangkat kepalanya menatap ke atas dan reflek memasukkan handphone-nya. 

   "Kemana saja? Ini sudah terlalu siang!" ucap lelaki tersebut. 

   "Maaf kak. Lagi pula kakak juga asyik banget ngobrol sama cewek itu" jawab Alya dengan muka cemberut. 

   "Iya, tidak apa-apa. Tadi itu hanya orang nanya alamat." ucap lelaki tersebut sambil tersenyum.

   "oohhh. Hmm Kak, Alya ingin ke toilet dulu sebentar, perjalanan kita kan sangat jauh." Ucap Alya.

   "Ya sudah, kakak juga mau beli minum, jangan terlalu lama ya!" ucap lelaki tersebut. 

Lelaki tersebut pergi lebih dulu mencari minum, kemudian Alya berkeliling mencari toilet umum. Sambil berjalan mencari toilet, Alya masih ingat betul pertama kali Alya mengenal lelaki yang ia panggil kakak tersebut. Dia mengenalnya ketika di bangku SMA, saat itu hari ekstrakulikuler, dimana satu hari tiap minggu di khususkan untuk mengikuti satu organisasi atau lebih, Alya yang hendak menuju sekolah nya dengan berjalan kaki karena tidak ada kendaraan yang melintas disana, dan di waktu yang bersamaan, lelaki yang bernama Hanan tersebut menghampiri Alya untuk mengajaknya pergi bersama. 

Dulu, Hanan adalah orang luar sekolah yang melatih organisasi di sekolah Alya, sehingga Alya pun tidak asing melihat wajahnya. Siapa sangka, ternyata Hanan lelaki tampan yang kalem itu banyak di puja oleh teman-teman Alya di sekolah, sehingga ketika Alya menerima tawaran pergi bersama, banyak teman yang memperhatikan dan iri pada Alya. 

Bukan Alya namanya jika baru di tawari sekali menumpang lalu jatuh hati, Hanan yang sangat pendiam memang hanya mengantar Alya sampai ke parkiran, selebihnya Alya menuju ke perkumpulan organisasinya, dan Hanan melatih ke organisasi yang berbeda. Namun kejadian itu tidak hanya sekali, beberapa kali, hingga akhirnya Alya tidak canggung menanyai Hanan untuk ikut menumpang ke sekolahnya kala itu. 

Dan kini, mereka berdua sudah cukup dewasa, sudah bisa saling tahu bahwa keduanya saling suka, hanya saja Hanan yang bersikap lebih tertutup kadang membuat Alya selalu bertanya-tanya dan menyimpan kekhawatirannya seorang diri. Mereka berdua kini sudah saling dekat, dan hari ini adalah hari perpisahan Alya dengan Hanan, dimana Hanan akan melanjutkan pendidikan S2 nya di luar negeri. Lagi-lagi si perempuan ceria itu tidak mau membuat Hanan khawatir, sehingga masih bisa terlihat senyum di bibirnya. 

   "Gimana udah ke toilet nya?" yanya Hanan. 

   "Udah kok kak." jawab Alya. 

   "Yaudah, kita naik bus nya sekarang ya, soalnya takut macet di jalan." ajak Hanan.

   "Memang, kakak sudah tahu mana bus nya?" tanya Alya.

   "Itu, yang warna merah." ucap Hanan sambil menunjuk salah satu bus di dekat pintu keluar terminal. 

Mereka pun segera berlari karena bus yang akan di naiki segera berangkat. Pertama Hanan yang mengetuk pintu bus agar di buka kan, kemudian Hanan masuk, dan Alya menyusul. Saat itu kursi yang kosong adalah kursi paling depan sebelah supir. Mereka pun duduk di dekat supir, Alya yang duduk di dekat jendela saat itu hanya menatap ke luar.

    "Gimana Al, seru ngejar bus?" tanya Hanan meledek, melihat Alya yang masih terengah-engah bernapas.

    "Iya, ini baru pertama kali kak, Alya naik bus seperti ini." jawab Alya sambil tersenyum.

    "Aaah, kamu ini memalukan." ucap Hana.

    "Hssss, seru juga ya." ucap Alya sambil menatap keluar jendela.

    "Ngapain ngeliat terus keluar? emang ada yang seru?" tanya Hanan agar perjalanan tidak membosankan.

    "Hmm, cuma suka aja liat pemandangannya, oh iya kakak naik pesawat jam berapa? tadi sudah makan belum di rumah?" tanya Alya.

    "Kakak naik pesawat jam 5 sore, tapi jam 3 harus sudah stay di bandara, tadi kakak belum sempat sarapan Al, kalo Alya?."jawab Hanan.

    "Sekarang masih jam 8 kok kak, mudah-mudahan saja tidak macet ya. Oh iya Alya sudah sarapan dan bawa ini unutk kakak." ucap Alya sambil membuka tas nya.

    "Iya, tapi perjalanan kita untuk ke pusat kota kan menempuh 4 jam de." jawab Hanan.

    "Iya semoga saja terkejar, nih kak cobain, buatan aku loh." ucap Alya sembari membukakan sandwich yang masih terbungkus plastik.

    "Kelihatannya enak, tapi gak mau..." jawab Hanan.

    "Sampe detik kakak mau pergi, kakak bakal terus cuek kaya gini?" ucap Alya sambil terlihat wajah kecewanya.

    "Hmm, iya iya... kakak makan, sini, kakak sudah lapar, apa sulitnya paksa kakak untuk makan." ucap Hanan.

Mendengar hal tersebut Alya langsung terdiam dan memberikan sandwich tersebut pada Hanan, dalam benak Alya berpikir, bahwa sepertinya Hanan secara tidak langsung ingin di perhatikan oleh Alya, namun sifat Alya yang mudah menyerah kadang membuat ia malas untuk memberi perhatian pada hanan. Saat itu Alya hanya tersenyum dan memperhatikan Hanan yang sedang memakan sandwich buatannya.

    "Gimana enak kan rasanya?" tanya Alya.

    "Hmm, sandwich ini? biasa aja kok. Ya rasanya biasa saja." ucap Hanan.

    "Hmm, kenapa sih bikin kesel terus." ucap Alya dengan memasang wajah kesal.

    "Supaya kalau nanti kakak ngga ada, kamu kangen sama kakak." ucap Hanan sambil sedikit tertawa.

Tidak lama, Alya langsung terdiam dan melamun, dirinya menatap ke jendela. Tidak sesekali menengok Hanan di samping kanannya. Tidak lama Hanan yang asyik dengan handphone nya pun menyadari bahwa daritadi Alya hanya menatap ke jendela. Dirinya khawatir menyinggung perasaan Alya sehingga Hanan mencoba menghiburnya dengan mengajaknya foto bersama. 

    "Al, kita foto, sini liat sini." ucap Hanan sambil menyalakan kamera di handphone nya.

Alya yang saat itu terkaget karena Hanan memanggilnya ia sesegera menengok ke arah kamera dan Hanan pun mengambil foto berdua. Alya pun langsung kembali menatap jendela bus ke arah luar jalan. Hanan pun langsung membuka galeri ponselnya dan melihat foto bersama tadi, betapa bingung nya Hanan ketika melihat foto wanita di sampingnya tersebut sedang meneteskan air mata.

    "Al, kenapa?" tanya Hanan sambil menghadapkan wajahnya ke arah Alya.

    "Tidak kenapa-kenapa." jawab Alya tanpa meliriknya sama sekali.

    "Apa perlu kakak turun disini dan menghentikan perjalanan kakak?" tanya Hanan.

    "Untuk apa? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Alya tanpa melihat Hanan.

    "Al, kamu itu lagi nanya sama jendela atau sama kakak?" tanya Hanan dengan nada sedikit kesal.

Tiba-tiba  Alya langsung menatap Hanan dengan tatapan tidak biasa, seperti penuh rasa sakit di hati nya, dan hanya dia yang memendamnya sendiri.

    "Kenapa Al, kenapa kamu nangis?" tanya Hanan. 

    "Kenapa kak, kenapa kakak tidak pernah mengerti perasaan Alya?" tanya Alya dengan mengeluarkan air mata semakin deras.

    "Apa Alya menangis karena kakak?" tanya Hanan ragu-ragu.

    "Tidak tahu, hanya saja, kali ini Alya merasa benar-benar sakit ketika kakak memang harus pergi."jawab Alya sambil menundukkan wajahnya.

    "Ayo ceritakan pada kakak, karena kakak bukan seseorang yang bisa baca pikiran dan hati kamu." ucap Hanan dengan nada lemah lembut.

    "Dari awal pertama kali Alya kenal kakak, Alya udah cukup nyaman, Alya senang kakak perhatian, meskipun kakak gak suka tiap Alya kasih perhatian balik, tapi Alya terima itu." ucap Alya.

    "Terus Al?" tanya Hanan.

    "Setiap kali kakak menolak Alya ajak main, Alya pendam sendiri, setiap Alya minta kakak jemput dan kakak gak bisa, Alya coba maklum." ucap Alya. 

    "Hmm.." Hanan menghela napas.

    "Tapi Alya senang ketika kakak memberi perhatian pada Alya, sayangnya sekarang kakak akan pergi jauh." ucap Alya.

    "Maafkan kakak." ucap Hanan.

    "Tidak usah minta maaf, karena Alya meyakini bahwa kakak, adalah kakak terbaik untuk Alya." ucap Alya.

    "Perjalanan kita sudah hampir selesai." ucap Hanan.

    "Ya, Alya tahu, karena momen terakhir seperti ini, yang sudah lama ingin Alya ungkapkan pada kakak." ucap Alya.

    "Alya, Alya tidak perlu menunggu kakak sampai kakak selesai kuliah." ucap Hanan.

    "Tidak, tidak sama sekali, karena Alya lebih menyerahkannya pada Tuhan, yang lebih mengerti apa yang Alya butuhkan." ucap Alya sambil tersenyum.

Kemudian suasana sepi kembali, Alya yang melihat ke luar jendelatak menyadari bahwa Hanan sedang menatap nya. Hanan mencoba diam agar Alya kembali tenang. Perjalanan tak terasa akan selesai, tiba-tiba Hanan mengeluarkan satu kalimat yang membuat Alya berpikir keras.

    "Kakak tunggu Alya menyusul kakak." ucap Hanan.

    "Ke Oxford? Ngga deh kayanya, Alya tidak sejenius dan sekaya itu." ucap Alya.

    "Rajin saja cukup, cari info beasiswa seperti kakak. Ucap Hanan sambil tersenyum dan mengusap kepala Alya.

    "Hmmm.. perjalanan kita selesai." ucap Alya untuk mengalihkan pembicaraan, dan bus telah berhenti.

Mereka berdua pun turun dan masuk ke bandara.

     "Ingat, jangan pulang malam, karena sekarang tidak ada yang bisa jemput Alya." ucap Hanan sambil tertawa.

     "Kakak ada pun, tidak bis ajmeput Alya." jawab Alya ketus.

     "Hmm, iya dan kakak sesali itu. Kakak akan menunggu Alya menyusul kakak." ucap Hanan.

    "Sudah, tuh sudah ada pengumuman kak, di suruh masuk ke pesawat!" ucap Alya.

    "Ya, kakak pergi ya, nih ada sesuatu ya kakak beri, tolong jaga baik-baik." ucap Hanan sambil memberikan kotak berisi barang.

    "Terimakasih kak, Alya tidak punya apa-apa, kakak pakai ini ya." ucap Alya sambil memberikan sapu tangan pada Hanan.

    "Apa ini, sapu tangan beruang, kaya anak perempuan." ucap Hanan.

    "Alya tidak punya apa-apa lagi, yang penting bukan warna pink, itu kan warna coklat. Jaga baik-baik itu sapu tangan kesukaan Alya." ucap Alya.

    "Iya, kakak pamit ya Al." Ucap Hanan dan lalu pergi menjauh.   

Setelah berpamitan Hanan pun pergi meninggalkan Alya seorang diri. Lambayan tangan dan Hanan yang sudah tak terlihat lagi, memaksa Alya untuk segera pulang kembali ke desa. 

Alya masuk ke dalam bus yang sama, bus berwarna merah, di dalam bus tersebut Alya duduk di kursi yang sama, di samping supir bus. Alya merenung seorang diri, dan merancang impiannya untuk bisa menyusul Hanan kesana dengan sekuat kemampuannya. 

Setelah 1 tahun berlalu, Alya berhasil menyusul Hanan untuk melanjutkan kuliah S2 nya, semua janji yang Hanan ucapkan sebelumnya di tepati setelah Alya disana, ketika Hanan selesai kuliah, Hanan kembali pulang sendiri dan mencari pekerjaan yang layak dan menempati posisi tinggi di salah satu perusahaan ternama. Begitupun Alya, setelah meraih gelar Masternya ia segera kembali dan menjadi dosen di salah satu universitas terbaik. Kini mereka telah menikah dan hidup bahagia.