5874980c56543-peringatan-hut-pdi-perjuangan_663_382.jpg
Politik · 3 menit baca

Bu Mega dan Ideologi Pancasila


Pada hari ini, Presiden Republik Indonesia yang ke-5 sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarno Putri menyampaikan pidatonya dalam sebuah acara ulang tahun PDIP yang ke-44.  Banyak pihak memberikan apresiasi terhadap pidato politik tersebut karena sangat relevan dan kontekstual.

Bu Mega menyampaikan tentang ideologi Pancasila yang belakangan ini terus digoyang dengan ideologi tertutup dan terus dibenturkan oleh sejumlah pihak yang menolak dasar ideologi Pancasila. Rupanya, pihak-pihak yang menolak dasar ideologi Pancasila semakin masif menyuarakan ideologi tertutup yang bersifat dogmatis.

Pasalnya, ideologi tersebut telah diimpor dari ideologi yang dinilai tidak cocok dalam konteks keindonesiaan. Situasi ini dapat membahayakan Indonesia dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ironisnya, sejumlah pihak yang menolak dasar ideologi tersebut telah mempropagandakan hal-hal yang sifatnya sangat sensitif dan dinilai berpotensi mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ideologi Pancasila merupakan anugerah dari Tuhan kepada bangsa ini, karena terbukti telah mempersatukan seluruh elemen bangsa, apapun agama, suku dan rasnya. Ideologi Pancasila telah terbukti dapat menjaga dan merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Maka, tugas kita sekarang ialah menjaga ideologi tersebut agar tetap terpatri di dalam jiwa dan sanubari masyarakat Indonesia. Sebab, ideologi tersebut merupakan satu-satunya ideologi yang dapat merangkul seluruh tatanan bangsa dari berbagai elemen.

Sebagai Ideologi bangsa, hari Pancasila telah dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 1 Juni 2015 untuk mengingatkan masyarakat betapa pentingnya Pancasila bagi bangsa Indonesia.

Namun, kita tidak menutup mata adanya tantangan yang cukup serius perihal munculnya “ideologi tertutup” yang telah merasuki sebagian masyarakat. Kelompok-kelompok ekstremis dan teroris mempunyai mimpi  yang dapat mengancam eksistensi Pancasila.

Maka dari itu, Pidato Bu Mega dalam HUT ke-44 PDIP sangat penting disimak dan dicermati secara saksama agar kita kembali ke Pancasila 1 Juni 1945 sebagai jati diri bangsa. Selama bangsa ini masih berpegang teguh kepada Pancasila, maka selama itu pula kita akan kokoh.

Dalam pidatonya, Bu Mega menyegarkan kembali ingatan kita tentang Pancasila 1 Juni 1945. Menurut Bung Karno, Pancasila ada lima. Jika diperas menjadi Trisila, yang terdiri dari pertama, sosio-nasionalisme. Yaitu perasaan dari kebangsaan dan internasionalisme, yang mencakup atas dasar Kebangsaan dan Prikemanusiaan.

Makna dari perasaan kebangsaan ini berarti masyarakat mancintai Indonesia sebagai bangsa dan negaranya yang damai dan sejahtera. Kemudian prikemanusiaan bermakna untuk saling menghargai satu sama lain tanpa merisaukan perbedaan yang ada.

Kedua, sosio-demokrasi. Yaitu, demokrasi yang dimaksud bukan demokrasi Barat. Demokrasi yang dimaksud ialah demokrasi politik ekonomi, yaitu yang melekat dengan kesejahteraan sosial. Maknanya Indonesia memiliki demokrasinya sendiri, tidak sama dengan demokrasi yang dianut oleh sejumlah negara demokratis di dunia. Demokrasi yang dianut Indonesia untuk membangun kesejahteraan sosial dari aspek ekonomi dan politik.

Ketiga, ketuhanan. Poin ini dalam pidatonya menjadi dasar dan penopang dalam konteks keindonesiaan, justru dalam hal ini ketuhanan ditempatkan ketiga bukan karena derajat kepentinganya paling bawah. Tetapi ketuhanan sebagai pondasi kebangsaan, demokrasi politik dan ekonomi yang kita anut. Tanpa ketuhanan bangsa ini pasti oleng, ketuhanan yang dimaksud ialah ketuhanan dengan cara berkebudayaan dan berkeadaban dengan saling menghormati satu sama lain.

Adapun jika Trisila diperas menjadi Ekasila, yaitu, gotong-royong. Ini merupakan pemahaman yang menghimpun dari seluruh sektor masyarakat untuk membanting tulang bersama, memeras keringat bersama untuk kebahagiaan bersama. Kebahagiaan itu pada ranah kolektif sebagai sebuah bangsa yang memiliki tiga kerangka, diantaranya :

Pertama, satu negara Republik Indonesia yang berbentuk negara kesatuan dan negara kebangsaan yang demokratis sesuai wilayah kekuasaan dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai ke Rote.

Kedua, satu masyarakat yang adil dan makmur materiil dan spiritual dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketiga, satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara di Dunia, atas dasar saling menghormati satu sama lain. Dan atas dasar tersebut dapat membentuk satu dunia baru yang bersih dari penindasaan dalam bentuk apapun menuju perdamaian dunia yang sempurna.

Selain itu, dalam pidatonya Bu Mega juga memaparkan bahwa bung Karno menegaskan “Kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India, kalua jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalua jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.”

Pidato Bu Mega memang cocok di tengah-tengah munculnya ideologi tertutup yang mengoyak persatuan dan kebhinnekaan kita. Kita mesti meyakini, bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalam ideologi Pancasila dinilai memiliki kecocokan bagi Indonesia.   

Pidato Bu Mega telah menggugah hati dan membuka pemahaman masyarakat terhadap Pancasila yang selama ini menjadi landasan dasar negara yang dapat merekatkan antarpulau yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, pemahaman tentang dasar negara harus terus menjadi kekuatan untuk Indonesia.

Maka dari itu, kembali kepada ideologi Pancasila merupakan keharusan yang semestinya dilakukan oleh masyarakat demi mempertahankan Indonesia dari perpecahan. Karenanya kita perlu mengamalkan dawuh Bu Mega agar negeri ini tetap kokoh dan jaya.