ahok-equil_20161129_142540-696x391.jpg
Sumber: indowarta.com
Media · 4 menit baca

Botol Air Mineral Pun Terkena Fitnah


Tulisan ini tidak bermaksud mempromosikan produk air mineral yang ada di dalam botol hijau eksklusif tersebut. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika botol minum tersebut "hidup", apa yang sekiranya akan dikatakan oleh si Botol ketika ia menjadi alat yang digunakan untuk menyebarkan fitnah terhadap seseorang dalam hal ini Gubernur Non-Aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Mungkin kalimat-kalimat kasar akan keluar dari mulut si Botol ketika tahu ia dijadikan bahan fitnah oleh penyebar hoax.Jangan mau dibohongi pakai botol sama si anu hehehehe

Siapa yang tidak gondok melihat status semacam itu bisa dilike oleh seribuan orang, menyita perhatian besar seantero netizen di negeri ini (termasuk saya sebenarnya) dan menjadi sorotan media-media nasional. Pemilik akun itu secara sembrono menuduh Ahok dan Tito bersekongkol satu sama lain dan doyan mabuk karena ada 3 botol bewarna hijau yang dianggap minuman keras.

Sebagian besar mungkin ada yang percaya, sebagian lagi mungkin geleng-geleng kepala membaca dan melihat gambar itu. Itu hanya satu contoh dari beragam hoax yang tersebar mewarnai kisruh sosial politik di Indonesia. Jangan heran ketika revisi UU ITE sudah mulai diterapkan terutama di media sosial, siapa yang tidak muak jika kebebasan dalam berpendapat paska reformasi disalahgunakan secara habis-habisan tanpa tanggung jawab. 

Begitu banyak bayangan-bayangan yang akan terjadi jika nanti penduduk Indonesia yang memiliki media sosial akan sangat mudah mengumbar opini mereka secara tidak terkendali, jika nanti kita semakin sulit membedakan mana yang bohong dan yang benar, jika nanti pemerintahan baru yang terpilih secara sah bisa runtuh karena isu hoax yang dibakar secara kontinu memanaskan masyarakat main tubruk sana, tubruk sini.

Apabila dilacak melalui mbah google foto tersebut sebenarnya merupakan foto setahun yang lalu di mana pada waktu itu, Maruarar Sirait sebagai Ketua Steering Committee Turnamen Piala Presiden 2015 dan Kapolda Metro Jaya waktu itu, Inspektur Jenderal Tito Karnavian mengunjungi Balai Kota DKI Jakarta untuk bertemu dengan Ahok membahas keamanan ibu kota jelang final piala presiden tersebut.

Dalam silahturahmi itu, Tito, Ahok, dan Maruarar menikmati acara makan-makan dengan didampingi air mineral bernama Equil yang dikemas dalam botol hijau yang eksklusif. Minuman itu sebenarnya bukan produk miras melainkan salah satu produk natural mineral water buatan lokal yang memang diperuntukkan untuk kalangan ekspatriat alias kalangan atas. Produk tersebut terdiri dari dua jenis yaitu sparkling water (bersoda) dan natural (alami). (Ah maafkan saya yang tidak sengaja membahas produk ini kawan!)

Lagipula secara logika sederhana saja, apa mungkin seorang Kapolri yang salah satu tugasnya memerangi keberadaan miras, dan Ahok sebagai gubernur petahana yang tingkah lakunya disorot publik bisa sebodoh itu minum miras dan memublikasikannya ke medsos? Tentunya tidak.

Dungu, itulah satu kata yang tepat untuk orang-orang yang begitu benci dengan seseorang kemudian dengan segala cara memanfaatkan segala sumber daya termasuk memanfaatkan persoalan spele untuk menghancurkan image orang tersebut. Peran hoax memang bisa dikatakan ampuh sebagai alat perang propaganda menjatuhkan pihak lawan secara halus. Tentunya penulis tidak bisa menebak apakah akun itu yang memulai menyebarkan atau meneruskan hoax tersebut, namun yang jelas terdapat kedangkalan dalam proses berpikir melanda si pemilik akun tersebut.
 

Sumber: amazon.com

Mari berkaca pada seorang komunikator profesional di Amerika Serikat bernama Ryan Holiday yang mengakui pengalamannya sebagai buzzer hoax dalam buku "Trust me I am lying, The confession of an media manipulator" (2012) di mana ia menggambarkan bahwa media dan akun abal-abal bisa berperan strategis dalam membiaskan informasi di media sosial. 

Di negeri ini sendiri berita palsu yang mengandung sensasi, beserta meme buatan memang dianggap menarik dan disukai. Banyak masyarakat dalam hal ini netizen yang tidak peduli asal, sumber, kualitas apalagi kebenaran informasi yang mereka terima. Mereka yang tidak kritis bisa sesumbar ikut menyebarkan dan menganggap info palsu tadi sebagai info asli.

Dan celakanya, informasi itu bisa tersebar secara luas dari satu akun ke akun lain, dari media sosial satu ke media sosial jenis lainnya dan bisa dianggap "benar" ketika orang-orang yang berusaha melakukan counter hoax kalah suara dari para pendukung hoax tersebut sehingga muncul kebenaran palsu yang bisa dianggap rill.

Pernyataan salah seorang Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Henry Subiakto sekiranya tepat, bahwa terjadi Ten Ninety Communication, komunikasi 10 : 90. Kondisi itu menggambarkan hasil penyebaran komunikasi justru 90% dilakukan suka rela oleh masyarakat yang suka pada informasi palsu itu. Sedang pelaku yang sesungguhnya hanya melakukan 10% saja.

Tapi hasilnya bisa menjadi kekuatan besar karena didukung "ketidaktahuan" masyarakat yang ikut menyebarkannya. Lewat mass self communication (baca: Media Sosial), informasi palsu itu tersebar, bahkan juga dikonfirmasi atau diperkuat oleh media-media abal abal lain yang memiliki misi senada.

Pemaparan Henry Subiakto sudah sepatutnya harus dianggap sebagai sebuah warning bagi kita selaku netizen untuk melakukan counter memerangi hoax tersebut dengan menerbitkan informasi tandingan yang membantah hoax yang ada dengan melacak asal usul informasi tersebut, mulai melacak asal sumber, kredibilitas si penyebar, melacak gambar dengan fitur Google search, isinya yang lebih banyak mengumbar kebencian minim fakta atau argumen logis.

Jangan diam ketika rekan, saudara, kerabat anda melakukan share info-info hoax. Hadapilah dengan santun dengan mengemukakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah disebutkan penulis tadi. Jika tidak berani, kita bisa menshare informasi tandingan dari akun-akun yang melakukan counter terhadap hoax. (Baca tulisan saya lainnya tentang medsos disini)

Jangan biarkan diri anda bersama anggota keluarga, teman dan saudara menjadi korban propaganda politik yang merusak masyarakat dari dalam.