89290.jpg
https://www.instagram.com/p/BShYAnWgULH/?taken-by=rachmadwidodo27
Ekonomi · 2 menit baca

Bincang di Simpang Bundaran Jalan


Petang itu, Bandung kembali disesaki kendaraan dari luar kota. Destinasi seperti Lembang masih menjadi alasan untaian kendaraan mengekor sampai persimpangan jalan layang Pasupati. Di bundaran jalan Cemara Sukajadi, di waktu yang sama, beberapa orang seolah tidak terganggu dengan bunyi klakson yang saling bersautan seakan mengumpat padatnya kemacetan. Sepertrinya, perhatian mereka terpusat pada tumpukan daftar pekerjaan, yang harus sesegera mungkin diselesaikan sebelum libur panjang akhir pekan tiba.  

Di luar ruangan, tepatnya di sebuah sudut tempat beberapa kursi bersusun acak, seorang pria berkacamata duduk menunduk seolah pandangannya tidak pernah lepas dari layar gawai. Dia adalah Ir. Rachmad Widodo, M.M., owner Segara Tours and Travell, salah satu perusahaan penyedia jasa pariwisata di Kota Bandung. Di tengah kesibukannya, penulis beruntung dapat mewawancarai pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini.

Rachmad Widodo adalah seorang lulusan Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Setelah sempat bekerja di berbagai perusahaan, pria yang juga lulusan Magister Administrasi Bisnis dari Intitut Teknologi Bandung (ITB) ini, sekitar satu dasawarsa yang lalu memutuskan bergerak dalam bidang penyedia jasa pariwsata dengan membuka Segara Tours and Travell. Kini, Segara Tours and Travell telah memiliki beberapa cabang di beberapa kota.

Dengan background sarjana Geologi, Kang Dodo -begitu sapaan akrabnya- sebelumnya tidak pernah berpikir akan bergelut dalam bidang penyedia jasa pariwisata. Sebagaimana umumnya sarjana Geologi lainnya, beliau sempat bekerja pada salah satu perusahaan tambang di Kalimantan. Namun, karena dorongan dan intuisi entrepreneurnya lebih kuat, bapak dua anak ini memutuskan untuk keluar dan memulai beberapa bisnis, yang menurut penuturannya sangat memberikan banyak pelajaran yang tak akan pernah bisa di dapat di kelas, tanpa terjun langsung bergelut dengan dinamika dunia usaha.

Kini, nama Segara Tours and Travell sudah mulai banyak dikenal publik. Destinasi unggulan seperti Thailand, Korea, Malaysia, dan banyak destinasi di dalam negeri, sudah menjadi kunjungan rutin Segara Tours and Travell setiap bulannya. Pencapain seperti ini tentu tidak datang begitu saja. Kerjasama tim, kemampuan pemasaran yang efektif, dan manejemen yang baik adalah beberapa kunci kesuksesan bisnisnya sejauh ini. Selain itu, kemampuan mengkapitalisi potensi pesatnya perkembangan laju teknologi informasi melaui internet, adalah peta jalan kesuksesan lain yang sudah sepatutnya dimaksimalkan pengusaha, ujar Kang Dodo.

Selain dikenal sebagai pengusaha, Kang Dodo dikenal pula sebagai praktisi digital marketing. Hal ini menurutnya adalah masa depan bisnis Indonesia. Kedepan, setiap orang akan semakin digampangkan dengan teknologi. Hal ini, akan bergulir dan menjalar ke semua lini termasuk aktivitas ekonomi. Sehingga, menguasai medan bisnis dengan konsep digital marketing adalah salah satu keterampilan yang akan sangat dibutuhkan di masa depan. Dengan kata lain, dalam dunia usaha, digital marketing adalah kata kunci menyongsong babak baru gelanggang kompetisi ekonomi.

Di sela obrolan kami, beberapa orang mulai berdatangan mengisi kursi kosong yang perlahan mulai penuh. Silaturahmi, kata itu meluncur begitu saja ketika perhatian saya tertuju pada orang-orang yang kemudian saya ketahui sebagai teman-teman Kang Dodo. Menurutnya, silaturahmi adalah jembatan sekaligus simpul. Silaturahmi menguatkan yang lemah dan menghubungkan yang terpisah. Barangkali, silaturahmi adalah muara kesimpulan hakikat manusia yang memang terlahir sebagai makhluk sosial, tambahnya.

Tak terasa, pertemuan kami hari itu sudah hampir di persimpangan waktu menuju malam. Perlahan antrian kendaraan yang sedari tadi mengekor, sudah mulai bergerak memutus rantai untaian. Sambil berpamitan, saya merapihkan notes kecil yang sudah penuh dengan lingkaran dan catatan tak beraturan. Melangkah beranjak, sejurus saya lihat, orang-orang di dalam ruangan masih saja bergelut dengan dering telepon yang tak kunjung berhenti. Setiap pencapain tentu ada harganya, seringkali harga itu terlalu mahal dibayar oleh mereka yang tidak punya semangat dan kepercayaan pada impian. Karena sukses adalah milik mereka, yang memupuk dan menyiram hari-harinya dengan kerja keras dan pengorbanan.[]