Ketik untuk memulai pencarian

Bias Dalam Mengenal Negeri Sendiri

Bias Dalam Mengenal Negeri Sendiri

Sekelompok Anak Muda Menikmati Keindahan Alam dengan Berfoto Ria di Kawasan Gunung Bromo

Usai munculnya film-film bernuansa adventure-survival, katakanlah beberapa contohnya, seperti '5 cm' (2012) yang mengisahkan perjalanan sekelompok anak muda ke puncak Semeru, atau film Into The Wild (2007) yang bercerita tentang seorang pemuda yang memilih mengasing dari hingar-bingar perkotaan ke pelosok Alaska sana seorang diri.

Ditambah lagi, program-program acara di beberapa televisi swasta tentang trip, traveling, atau apapun namanya itu. Praktis, semua itu membuat 'demam' traveling, adventure, atau trip mewabah dikalangan anak muda. Memang, tak semua anak muda yang memiliki hobi tersebut disebabkan oleh hal-hal seperti yang saya utarakan di awal tulisan.

Namun, tak bisa dipungkiri, hal-hal tersebut (film, acara-acara petualangan) sedikit-banyaknya telah berperan dalam menanamkan benih-benih hobi traveling, trip, atau adventure dikalangan anak muda, yang sangat marak dewasa ini. 

Sebelum trend itu marak seperti saat ini, Soe Hok Gie-yang terkenal dengan bukunya 'Catatan Seorang Demonstran', telah lebih dulu melakukannya. Gie merupakan seorang pemuda yang sangat gemar naik gunung, bahkan akhir hidupnya pun di berakhir di tempat- yang kelak dijadikan lokasi shooting film 5 cm, Gunung Semeru.

Gie melakukan pendakian itu pada Desember 1969, bersama Mapala Universitas Indonesia. Saat ditanya mengapa ia ingin menaklukan Gunung Semeru yang berketinggian 3.676 meter diatas permukaan laut itu, ini jawaban nya: 

Follow Qureta Now!

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat."

Jelas sudah, alasan dan tujuan Gie dari kutipan tersebut tentang hobi nya mendaki gunung. Gie bersama kawan-kawannya hendak mengenal dan mencintai Indonesia, melalui cara yang bukan berasal dari hipokrisi dan slogan-slogan belaka. Menurut Gie, untuk mencintai Indonesia harus dilakukan melalui mengenal nya dari dekat, untuk itu ia naik gunung, ke pelosok-pelosok dan pedalaman.

Alasan yang segendang-sepenarian, juga kerap digemakan oleh anak-anak muda masa kini yang melakukan aktivitas tersebut. Mulai dari sebagai bentuk mengenal negeri sendiri, mencintai Indonesia, hingga sebagai upaya memperkenalkan dan mempromosikan Indonesia ke dunia.  

Namun yang menjadi ironis adalah pada kenyataan nya saat ini, alih-alih sebagai upaya mengenal untuk mencintai negeri sendiri, traveling, trip, journey, adventure, tracking atau apapun nama dan sebutan nya itu, justru sangat rentan dengan praktik-praktik nasionalisme yang berbau sloganistis dan hipokrisi-sesuatu yang justru dijauhi Gie.   

Contohnya, ketimbang melihat dan mengenal warga yang berdemo di depan PTUN Semarang, lebih baik berkontemplasi di Gunung Unggaran atau mandi sambil ber-selfie ria di Curug Benowo. Daripada mengupas dan melihat lebih dekat eksploitasi yang terjadi di bumi Papua, lebih asyik meng-eksplor  Kepulauan Raja Ampat yang eksotis. Lebih cihuy juga untuk naik banana boat di pantai Kuta Selatan, daripada harus mengenal lebih jauh tentang Tanjung Benoa yang akan direklamasi.

Hal-hal tersebut, diketahui atau tidak, telah menggemakan kembali, atau mempromosikan lagi cara pandang kolonial terhadap Indonesia, yang pada masa kolonial dahulu, dikenal sebagai istilah mooi Indie. Hindia yang elok, tenang, indah, permai seakan jauh dan terbebas dari segala masalah, kalut, muram, dan kekacauan. Hal itulah yang dimaksud oleh Gie, sebagai nasionalisme berbau hipokrisi: Menutup-nutupi kebobrokan negeri sendiri dengan hanya mau mengenal dan menampilkan-nampilkan keindahannya saja.

Hal itulah yang menjadi suatu ironi tersendiri. Berbekal embel-embel macam My Trip My Adventure, kegiatan tersebut makin marak dilakukan dan dokumentasi-dokumentasi nya pun, mulai dari pemandangan hingga portret kepala suku di pedalaman Kalimantan atau Papua sana-yang mungkin dianggap eksotik, penuh aura magis, dan tentunya fotogenic tersebar viral di dunia maya terlebih di media sosial.

Sangat jarang yang bersedia memotret hutan yang rusak karena dibakar untuk perkebunan sawit, atau wajah-wajah memprihatinkan dampak dari masalah sosial yang memprihatinkan, seperti di pelosok Desa Paringan, Ponorogo sana. Padahal, itu semua nyata terjadi ditengah kita, dan lebih berpotensi mengguggah  awareness atau kesadaran tentang adanya persoalan-persoalan yang mesti diselesaikan, dibalik keindahan negeri ini.

Itulah sebabnya, saya pribadi takjub dan menaruh banyak respek kepada anak-anak muda yang pada hari ini, masih bersedia keluyuran di tengah kotanya-sesuatu yang dewasa ini marak dihindari anak muda. Menelusuri gang-gang, trotoar, stasiun, dan pasar, merekam setiap emosinya. Walaupun tentu, terdengar 'tidak' keren dan gak asyik. Tapi, disitulah kehidupan kita sehari-hari berlangsung.

Apa yang disebut Gie, "untuk mencintai Indonesia dengan mengenal rakyatnya dari dekat" sangat lebih mungkin di implementasikan dengan cara-cara macam itu. Karena disitulah realita terhampar jelas tanpa tedeng aling-aling, dan jauh dari pretensi keindahan yang menipu.

Rio Rizky Pangestu

Perbanyak jalan-jalan !

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016