62190.jpg
Dokumentasi pribadi
Budaya · 3 menit baca

Beta, Sampeyan dan Kita
Sebuah Realita Kebhinekaan


“Bhineka” frase yang mengartikan beraneka atau bermacam-macam. Jika dilahirkan zaman itu pasti kita menangis begitu besar perjuangan bala tentara negara. “Bhineka tunggal ika”, sebuah filosofi hidup Indonesia yang ditanamkan oleh leluhur terdahulu. Tertanam pada tanah yang subur kaya akan corak manusianya. Bahkan saya dengan lantang dan tegas bernyanyi “karena separuh aku…untuk Indonesiaku”.

Kacamata kehidupan yang boleh melekat dalam keseharian kita bersama. Kegaduhan dan tempramental seiring waktu datang dengan wujud yang berbeda-beda. Merupakan refleksi kehadiran sang ‘Bhineka’. Namun, tidak hanya berwujud negatif, sang ‘Bhineka’ juga memperlengkapi Indonesia melihat perputaran kompas peradaban dunia.

Indonesia diajak untuk bersibaku dengan kompetisi dunia yang begitu sigap. Budaya, politik teknologi seakan menerkam habis ketangguhan sang ‘Bhineka’. Meruntuhkan gagahnya semboyan keberagaman Indonesia tersebut.

“Apakah kita harus merasakan kembali mode yang dilakukan para ‘superhero’ bangsa”, tanya kita semua atas apa yang menimpa negeri sekarang ini. Negeri ini tidak lagi membutuhkan pahlawan, yang dibutuhkan adalah sikap lawan terhadap tembok-tembok pemberi sekat kebhinekaan.

Lebih dari 300 kelompok etnik di Indonesia, tepatnya 1.340 suku bangsa (sensus BPS 2010). Dapatkah kita menghalangi pertumbuhan etnik yang terus menjalar di pundak negeri. Tentu tidak, datangnya pun kita tidak mengerti, asal dan siapa yang memberi hiasan negeri ini.

Masa itu kata ‘Indonesia’ mendobrak kegaduhan negeri yang saling memberi diri untuk berdiri sendiri. Apa yang akan terjadi jika nama ‘Indonesia’ lamban dicetuskan pasti akan berdiri banyak negeri. Satu negeri saja masih terasa sulit untuk diorganisir apalagi banyak negeri dalam satu tanah air.

Beta pung cinta cuma par ale Indonesia..e… Begitu seruan masyarakat timur, lantunan ini tidak bisa terkikis oleh sengatnya gigitan musuh dalam negeri sendiri. Siapakah musuh negeri? Negeri ini sendirilah yang memijahkan benih-benih oposisi. Siapa yang dapat mengira aktor dari semua drama kekacauan negeri adalah para petinggi yang ingin memposisikan diri. Telah banyak kasus yang menyeret sang petinggi, tidak perlu lagi menjadi narasi karena semua telah terdeskripsi.

Kebhinekaan adalah sebuah karya pejuang bangsa bukan seni pelaku oposisi bangsa. Dengan apakah kita bisa melawan bukan hanya manisnya kata persatuan, tapi lewat aksi dan reaksi anak negeri untuk menepis sekat-sekat pembatas keindonesiaan. Indonesia adalah upah Tuhan Yang Maha Esa bagi pahlawan dan masyarakat kita hari ini.

Sudah jelas, Indonesia berdiri karena kerelaan pahlawan untuk membangunnya di atas keberagaman. Tidak ada paksaan tertentu untuk memeluk dan meyakini satu kepercayaan, setiap orang bebas menentukan pilihan keyakinannya. Sebagaimana yang tertulis pada UUD 1945 pasal 28 E ayat (1). Sekarang siapa yang ingin merenovasinya? Maka berhadapanlah pada pahlawan-pahlawan nasionalis bangsa masa kini. Dan bangsa lain pun akan tertawa melihat penjajahan yang dilakukan oleh anak bangsa sendiri.

Sudah pasti Bapak Proklamator kita akan menangis mendengar berita ini, seakan tak ada artinya keringat pahlawan terdahulu untuk tanah pertiwi ini. Catatan indah Ir. Soekarno yang berbunyi “Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke” menjadi surat tertutup yang tidak bisa dibaca lagi oleh penerus negeri.

Di era ini banyak sekali bermunculan politisasi dan formalisasi agama, dan ini merupakan suatu penyusutan persatuan, masalah ini justru sudah dibereskan oleh Bung Karno dan generasinya ketika bangsa ini memilih fondasi ideologi kebangsaan. Di Indonesia sekarang ini, suguhan “Imprealisme Doktriner” semakin marak tidak terkendalikan yang berusaha memutlakkan satu hukum suatu agama kepada pihak lain, yang seyogyanya akan mengancam keutuhan Bangsa Indonesia.

Setidaknya masih ada orang Indonesia yang sebaik sampeyan, satu kalimat sejuta doa untuk Gus Dur (Damien Dematra). Ajaibnya negeri ini pernah dipimpin oleh orang tak melihat tapi bisa melihat kehadiran kebhinekaan. Apakah kurang tajam penglihatan kita melihat kebhinekaan? Tentu saya dan saudara seharusnya tidak dalam jawaban “ya” atas pertanyaan ini. Sampeyan Indonesia? Ya, saya orang Indonesia.

Hita sudena halak Indonesia, kalimat terjemahan Batak ini mengungkapkan “kita semua orang Indonesia”. Ya, kita semua bagian realita kebhinekaan tanpa harus menghadirkan perbedaan.

Kebhinekaan bukan penyebab timbulnya perpecahan, melainkan dengan kebhinekaan kita menghapus jejak kedivergenan. Rasa saling merasakan dan peduli saling mempedulikan harus terus dipupuk, sehingga anak cucu kita menuai perjuangan kita mempertahankan kebhinekaan.