59152islam_muslims_praying_banner_7-31-16-1.sized-770x415xc.jpg.jpg
https://www.google.co.id
Agama · 4 menit baca

Berislam Seindah Islam

Dear God, please save us from the people who believe in you. Begitu bunyi sebuah doa yang tertulis pada dinding “9/11” di Washington DC (NYTimes/2002). Kata-kata itu begitu kontemplatif sekaligus menampar kita.

Benarkah orang-orang yang beragama telah menjadi sedemikian berbahaya? Benarkah setiap peristiwa pengeboman atau terorisme selalu bermuara pada agama? Bukankah agama diciptakan sebagai bentuk kontrol terhadap nurani manusia agar selalu terjaga dari hal murka?

Miris memang jika menyaksikan agama yang seharusnya menjadi hal yang suci, kini dituduh sebagai dalang terorisme. Beragam tragedi terorisme hingga hari ini telah menyeret agama dalam posisi sulit.

Pertanyaan yang kemudian menyeruak adalah benarkah terorisme berjalan searah dengan agama? Sulit untuk mengatakan dengan pasti. Jika dikatakan “ya”, seolah menarik agama dalam dunia kotor yang bertentangan dengan makna agama itu sendiri.

Namun, jika dikatakan “tidak”, seolah mengubur kenyataan bahwa para pelakunya seringkali menggunakan simbol dan spirit agama, di mana, misalnya, praktik terorisme seperti bom bunuh diri diaminkan atas dasar argumen-argumen salah kaprah, seperti jihad, mati syahid, dan sebagainya.

Negara Indonesia merupakan salah satu negara dengan prestasi paling banyak berhasil meringkus pelaku terorisme di dunia. Tapi, yang menjadi sebuah pertanyaan besar adalah mengapa kenyataannya permasalahan terorisme di Indonesia bukan semakin mereda, namun semakin membesar dan tak pernah usai?

Hal ini terjadi karena ideologi terorisme begitu kuat diestafetkan kepada anggotanya. Pemerintah mungkin berhasil meringkus dan melumpuhkan fisik pelakunya, tetapi tidak dengan ideologinya.

Keberadaan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) adalah salah satu penyebab terbesar paham radikal tersebut menyebar hingga Indonesia sejak bertahun-tahun lalu. Tanggal 24 Maret 2017 lalu adalah hari kelam. Pelaku membunuh dirinya dengan meledakkan bom panci di area Kampung Melayu.

Berdasarkan data, peristiwa tersebut menewaskan 6 korban jiwa. 5 orang di antaranya adalah polisi dan 1 orang lagi adalah pelaku itu sendiri. Polisi pun masih kesulitan untuk melakukan tindakan pencegahan guna membendung paham yang merugikan masyarakat ini, hingga rela berjibaku dan harus kehilangan anggotanya ketika tindakan terorisme sudah tidak dapat dihentikan lagi.

Oleh karena itulah upaya preventif pemberantasan terorisme melalui penggrebekan, penangkapan, sampai penghentian aksi teror haruslah diimbangi dengan deradikalisasi terorisme. Dalam hal ini, dengan meluruskan kembali pemahaman dalam beragama, bahwa ideologi dan praktik terorisme sama sekali berbeda dengan nilai-nilai ilahiah agama.

Hal ini penting untuk diluruskan agar masyarakat tidak tersesat dalam pemahaman yang keliru, juga agar tidak ada salah persepsi antar umat beragama yang malah memicu skeptis berkurangnya kepercayaan dalam beragama.

Perbaikan ideologi itu bisa dilakukan melalui pendidikan formal dan nonformal. Pendidikan nonformal melalui pendidikan pengajian sehingga memperbaiki pandangan masyarakat terhadap ajaran agama secara tepat.

Pendidikan formal melalui materi-materi yang meningkatkan moral dan rasa nasionalisme dalam diri masyarakat, sekaligus penanaman yang tepat mengenai teror sebagai kejahatan yang tidak manusiawi. Sehingga memacu mereka agar memiliki imun terhadap ajaran-ajaran yang kurang tepat. Semua proses tersebut harus dimulai sejak dini, sehingga mampu mematahkan rantai terorisme.

Dalam pergerakannya, target yang menjadi sasaran terbesar untuk menarik seseorang menuju jurang terorisme adalah kaum pemuda. Masa transisi krisis identitas kalangan pemuda berkemungkinan untuk mengalami apa yang disebut Quintan Wiktorowicz (2005) sebagai cognitive opening (pembukaan kognitif), sebuah proses mikrososiologis yang mendekatkan mereka pada penerimaan terhadap gagasan baru yang lebih radikal.

Alasan-alasan seperti itulah yang menyebabkan mereka sangat rentan terhadap pengaruh dan ajakan kelompok kekerasan dan terorisme. 

Sementara itu, kelompok teroris menyadari problem psikologis generasi muda. Kelompok teroris memang mengincar mereka yang selalu merasa tidak puas, mudah marah, dan frustasi, baik terhadap kondisi sosial maupun pemerintahan.

Mereka juga telah menyediakan apa yang mereka butuhkan terkait ajaran pembenaran, solusi, dan strategi meraih perubahan dan rasa kepemilikan. Kelompok teroris juga menyediakan lingkungan, fasilitas, dan perlengkapan bagi remaja yang menginginkan kegagahan dan melancarkan agenda kekerasannya. 

Oleh karena itu, edukasi terhadap kaum pemuda dengan mengkampanyekan gerakan anti terhadap terorisme juga sangatlah diperlukan untuk membendung jumlah anggota rekrutmen terhadap pemuda.

Selain itu, pemerintah juga harus mampu memberikan wadah yang tepat untuk mengarahkan dorongan psikologis yang ada pada jiwa pemuda dengan mampu menjadi pendengar suara yang baik, atas apa pun yang menjadi evaluasi dan masukan atas kondisi yang dirasa kurang sesuai terhadap sistem pemerintahan yang sedang berjalan.

Meringkus akar perkara terorisme, berarti mengintip ruang optimisme dalam bernegara dan beragama. Goresan skeptisisme yang terpampang pada tembok 9/11 di Washington serta kerap berulangnya cerita terorisme di negeri ini, mengajak kita untuk merenung lebih dalam, bahwa tidak cukup sekadar mengatasi terorisme pada soal-soal di “hilir” namun melupakan sumber-sumber penyebab yang menjadi “hulu” masalahnya.

Terorisme yang semakin menggeliat, memberi pesan pada kita untuk tidak sekadar mengatasi permasalahan pada permukaan, melainkan juga pada sumber-sumber perkara di akarnya.

Dan yang terpenting bagi kita bangsa Indonesia adalah marilah tetap klarifikasi dulu dalam isu-isu apa pun yang beredar di masyarakat dan jangan mudah terprovokasi dan meluapkan emosi, baik dari permasalahan yang ditujukan kepada pemerintah atau golongan tertentu, karena cara pencegahan terkuat adalah mulai dari diri kita sendiri, untuk selalu berhati dingin, dan tetap berpikir jernih.

Dan bagi kita umat yang beragama Islam, marilah kita “berislam seindah Islam”, karena Allah SWT dan rasulnya mencintai hal yang indah dan Islam merepresentasikan itu semua.

#LombaEsaiKonflik