gafatar.jpg
http://www.kalampos.com/wp-content/uploads/2016/01/gafatar-400x260.jpg
Agama · 2 menit baca

Belajarlah dari Gafatar

Judul yang penulis buat di atas secara real mungkin memang tidak dapat sepenuhnya dilakukan. Judul tersebut bukan ajakan, tapi lebih kepada kritik pada pemerintah dan pembacaan ulang atas apa yang tengah terjadi.

Kemunculan Gafatar yang sedang heboh menjadi topic di media sosial maupun kehidupan nyata agaknya membuat cemas para orangtua. Terlebih orangtua yang memiliki anak yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Bagaimana tidak? Kebanyakan orang-orang yang direkrut Gafatar adalah orang-orang yang cerdas secara intelektual.

Ini menimbulkan fenomena baru yang harus ditelaah secara serius karena gerakan-gerakan semacam Gafatar sekarang tidak lagi menyasar masyarakat bawah yang secara akses pendidikan tidak seberuntung lapisan masyarakat di atasnya.

Kesukarelaan anggota Gafatar sama seperti gerakan-gerakan lain yang serupa. Biasanya didasari atas rasa penasaran, lalu tertarik dengan ajaran-ajarannya yang dinilai dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang sedang mereka alami.

Yang menarik dari Gafatar adalah cara mereka untuk bertahan hidup/survive di wilayah Kalimantan. Mereka membangun kampung sendiri dan bertani untuk kemandirian ekonomi. Tidak sedikit dari mereka yang berasal dari keluarga mampu -seperti yang penulis jelaskan di atas- yang secara sukarela ikut melakukan kegiatan bertani tersebut. 

Hal inilah yang menarik. Selama ini pemerintah, setahu penulis, belum mengkaji secara serius bagaimana caranya agar masyarakat perkotaan yang berpenghasilan tinggi mau terjun langsung ke desa, khususnya dalam memberdayakan bidang pertanian.

Kemandirian dan ketahanan pangan sebenarnya tidak sulit terjadi apabila semua masyarakat dilibatkan dan berpartisipasi secara aktif. Inilah yang coba dilakukan Gafatar untuk kemandirian ekonominya.

Bayangkan jika pemerintah menggarap program serupa dengan serius, maka yang terjadi nanti adalah keterhubungan antara masyarakat kota dan desa dengan tujuan yang sama. Corak individualistis yang selama ini disematkan tentu akan mencair saat masyarakat perkotaan berada di desa yang mengutamakan interaksi intens dan semangat gotong-royong.

Jika dikaitkan dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa yang turun langsung ke desa, maka tentu program pemerintah ini akan berjalan beriringan. Mahasiswa dan masyarakat perkotaan akan melebur menjadi satu dengan masyarakat pedesaan untuk saling bahu-membahu. 

Pemerintah seharusnya dapat mengambil sisi positif dari gerakan-gerakan semacam, ini bukan hanya mengedepankan pemberangusan saja. Sehingga yang nantinya tertanam di benak masyarakat bukan lagi tentang "sesat vs tidak sesat" yang akhirnya lagi-lagi akan berujung pada aksi kekerasan. 

Belajar tidak harus di ruang kelas ber-ac. Di mana pun dan kapan pun adalah proses pembelajaran. Tidak ada salahnya mengambil sisi positif suatu hal. Selama tidak dengan kekerasan, merugikan, atau merampas hak orang lain, maka kita tidak bisa menghakimi atau bahkan menilai sesuatu tersebut dari satu sudut pandang saja.

Belajarlah dari apapun. Maka, ada saatnya kita akan mengerti bahwa kita tidak sendirian di muka bumi ini.