79955.jpg
sumber google
Hiburan · 3 menit baca

Belajar Sufisme ala Chris Cornell

Hari ini dunia musik tersentak oleh kematian Chris cornell. Kematian salah satu vokalis music rock yang  lagu-lagunya tentang kehidupan sosial, cinta, kegelisahan, dan kegelapan akan dunia. Dibanding musisi rock era 80-90’an yang didominasi dengan aliran music rock n roll dan heavy metal, Chris Cornel tidak seperti Axl Rose, Jon Bon Jovi, Sebastian Bach, James Hetfield atau Kurt cobain yang musikalitasnya “seiman” yaitu aliran grunge.

Chris Cornel lebih terkesan “menyendiri” dengan band Soundgarden yang dibentuknya dan diantara lagu-lagu yang dibuat, mungkin hanya Black hole sun adalah single lagu yang terpopuler ditelinga.ketika masih bersama band Soundgarden.

Setelah keluar dari Soundgarden, Chris cornell bersama rekan musisi membentuk band Audioslave. Dari segi musikalitas, para musisi yang tergabung di Audioslave tampak mengubah cara bermusiknya lebih “santun” dibanding dengan band yang terdahulu. Beberapa lagu dari album pertama, seperti Cochise, Show me how to live, Like a stone telah berhasil mengangkat “derajat” personel audioslave, Di antara dari sekian lagu dari album pertama, single lagu “Like a stone” adalah lagu yang terpopuler. 

Tak jarang “Like a Stone” menjadi menu wajib kafe-kafe yang dulunya “membid’ahkan” hingga mengharamkan musik rock.  Sayangnya, band audioslaves yang revolusioner tersebut bubar dengan sendiri dengan ikhlas tanpa campur tangan pemerintah, walaupun tidak mengancam sendi-sendi kebangsaan seperti ormas pengusung khilafah.

“Be yourself”, adalah lagu yang mempunyai romantisme tersendiri, tapi saya tidak akan membahas lagu tersebut karena bisa berjilid-jilid seperti drama pengadilan Ahok yang antiklimaks. Diantara lagu-lagu yang dibawakan chris cornell, saya langsung jatuh cinta dengan lagu like a stone. Lagu tersebut pertama saya lihat di televisi swasta yang dulunya masih baik-baiknya karena masih tanpa campur urusan politik. 

Layaknya pria yang jatuh cinta, dari mata turun ke hati berakhir dikamar mandi. Lagu tersebut mengisahkan pengembara rindu tentang kematian bahkan kebangkitan “spiritual cinta” manusia terhadap Tuhannya. Dulunya saya menganggap lagu itu bercerita tentang kisah cinta sepasang kekasih. 

Tapi setelah membaca dan "mendengar" pengakuan dari sang vokalis, ternyata dugaan saya salah. Lagu ini adalah lagu rohani yang tidak menukil ayat kitab suci untuk dijadikan lirik. Saya merasa ini adalah lagu “rohani romantis” terindah yang pernah “hidup” dan sepantasnya menjadi lagu yang wajib putar dibulan suci Ramadhan.

Lagu “Like a Stone” yang menceritakan tentang seorang yang mencari dan menemukan Tuhan melalui cara “berbeda”. Mencari dan menemukan Tuhan melalui jalan pengembaraan ruhani, masuk dan mengetuk ruang, jiwa dan ruhani dalam kesunyian ala sufi. Lihat aja sepenggal lirik lagu “Like a stone” yang dibawakan chriss cornell dengan khas teriakannya, “In your house I long to be. Room by room patiently. I'll wait for you there like a stone. I'll wait for you there…alone". 

Betapa liriknya menggambarkan seseorang dengan sebuah  penantian panjangnya, rela berkorban melupakan hingar bingarnya dunia. Dengan kesabaran, kegelisahan,kerinduan dan Cinta terhadap “DIA” Sang Kekasih membuat sang perindu menjalani proses “nyepi”dalam kesunyian.

Bertemu dan memuaskan Tuhan yang dirindukan, tidak hanya dengan jalan membaca kitab suci, lalu berteriak-teriak dijalan sambil memanggil namaNYA, karenanya tak ayal dalam mendapatkan cinta Tuhan, kita bisa tersesat dijalan yang dibuat Tuhan itu sendiri. Lebih konyol lagi, mereka yang ingin mendapatkan cinta dan surga justru memaki ciptaanNYA. Seolah-olah Tuhan memberikan kuasa untuk merusak ciptaanNYA yang dia buat.

 Saya salah satu dari jutaan manusia yang sedih dengan kepergian sang vokalis yang lagu-lagunya mempunyai kenangan tersendiri. Dengan segala penghormatan, ijinkan hamba yang fana ini menyanyikan beberapa lirik lagu “Like a Stone” darimu kawan, “On my deathbed I will pray. To the gods and the angels. Like a pagan to anyone. Who will take me to heaven. To a place I recall. I was there so long ago. The sky was bruised. The wine was bled. And there you led me on”. 

Selamat jalan Chris Cornell, selamat bersanding dengan “Sang Kekasih”. Kami akan selalu mengingat kata-katamu “surga-mu adalah apa yang kamu buat dan surga ada dimata orang yang melihatnya