why.jpg
Image source: Pixabay
Agama · 2 menit baca

Apakah Saya Menjadi Kafir?

Menjelang usia dewasa ini, patut diakui bahwa kebutuhan untuk beribadah menjadi dasar yang harus saya penuhi. Satu hal yang saya alami: ternyata hanya mengandalkan dan terlalu percaya pada diri sendiri itu membuat hati jadi tidak terlalu tenang.

Saya masih salat, mengaji, istigfar dan berzikir ketika dirundung banyak permasalahan, bahkan bentuk syukur yang saya sebut masih dalam bentuk "Alhamduillah". Saya masih bertahan pada nilai-nilai Islam yang baik bagi saya untuk disepakati.

Lahir Islam dan tumbuh besar di lingkungan keluarga mualaf yang berasal dari aliran kepercayaan "Konghucu", seharusnya tidak membuat saya ragu untuk tetap menjadi Muslim. Sekolah madrasah selama 6 tahun pun harusnya cukup untuk meyakinkan iman saya sebagai orang Islam.

Tapi kemudian praktik-pratik manusia sok suci yang mengatasnamakan Islam membuat saya gerah dan malu dikenal sebagai bagian dari Islam itu sendiri (sorry to say). Melepas identitas artifisial (jilbab) dari keseharian adalah langkah terbaik bagi diri saya saat itu (tapi pasti tidak bagi banyak orang, dan saya menghargai itu). Pertanyaannya, apakah dengan begitu menghilangkan iman saya?

"Melihat lebih dekat" terhadap yang berbeda dan terdekat dengan keseharian. Pergi ke gereja, itulah yang saya lakukan, tapi lagi-lagi manusia cenderung memberi justifikasi tanpa memahami. KAFIR! itulah yang pertama kali disebut. Saya lepas jilbab dibilang kafir, saya pergi ke geraja dibilang kafir, saya ngucapin natal dibilang kafir, saya Konghucu dibilang kafir, saya sudah Islam aja masih dikafir-kafirin. KAFIR!

Istilah "kafir" itu sendiri banyak maksud dan artinya. Dalam konteks kesialan saya di atas mungkin saya dianggap ingkar terhadap keyakinan Islam itu sendiri. Mungkin dengan melepas jilbab, mengucapkan natal, menyimak ibadah di dalam gereja, itu semua (mungkin) membuat iman saya terhadap Islam dan Allah adalah satu-satunya Tuhan yang disembah menjadi hilang.

Jika memang benar dengan melakukan semua itu iman saya sebagai islam kemudian hilang, maka saya punya pertanyaan dan semoga berkenan untuk menjawab:
1. Bagiamana mengukur iman seorang prempuan dari bentuk artifisialnya?
2. Jika di dalam gereja sana ketika terharu melihat hikmatnya orang-orang beribadah lalu yang saya sebut di dalam hati adalah "la ilaha illa allah", apakah saya menjadi kafir?
3. Jika dari dalam gereja sana justru saya menemukan rindu kepada Islam, apakah saya menjadi kafir?

Jika benar secara harfiah kafir berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Maka kebenaran mana lagi yang harus didustakan?

Pada akhirnya bersepakat dengan iman akan bergantung pada klaim kebenaran yang diyakini masing-masing orang. Justifikasi dan cap sosial yang dilakukan justru mengkafirkan keyakinan itu sendiri, keyakinan bahwa Tuhanlah yang punya hak atas segala justifikasi-Nya.

Jadi, apakah saya menjadi kafir?