Ketik untuk memulai pencarian

Apakah Saya Jadi Gay Karena Meliput LGBT?

Apakah Saya Jadi Gay Karena Meliput LGBT?

"Lo gay, yo?" demikian tanya kawan saya di Facebook, kemarin, ketika saya memposting berita tentang LGBT yang saya liput.

Saya menulis 'Satu Dekade Prinsip Yogya', menceritakan soal sikap pemerintah Indonesia yang diam terhadap kekerasan kepada LGBT yang terus meningkat, meski Indonesia adalah tempat deklarasi dokumen itu hampir 10 tahun lalu.

Tapi ini bukan pertama kalinya saya ditanya (atau kadang dituduh) identitasnya ketika saya menulis sesuatu. Saya telah mendapatkan pertanyaan tipikal secara konstan, sejak bertahun-tahun silam.

Ketika saya sebagai mahasiswa menulis pembubaran peringatan Hari Asyura di Bandung, Jawa Barat, saya dituduh sebagai Syiah.

Ketika saya meliput penyegelan masjid Ahmadiyah di Banjar, Jawa Barat, saya ditanya apakah saya Ahmadiyah. Pun ketika saya menulis di Qureta tentang Ahmadiyah yang membantu korban banjir Garut, pertanyaan yang sama muncul.

Follow Qureta Now!

Ketika saya membuat 3 feature khusus Natal GKI Yasmin pada 2014, saya ditanya apakah saya Kristen - atau paling tidak apakah saya masih muslim.

Kejadian serupa juga dialami teman saya sesama jurnalis, Febriana Firdaus. Ketika dia menulis unuk Rappler Indonesia tentang LGBT, korban pelanggaran HAM 65, Ahmadiyah, atau gereja tertentu, dia mendapatkan pertanyaan (atau hujatan?) yang sama. Orang-orang juga mulai menyerang identitasnya sebagai muslim - yang juga memakai jilbab.

Ini bukan soal apakah saya gay atau hetero, apakah saya Kristen atau muslim, pun bagi mbak Febro. Tapi ini soal orang-orang yang secara sembarangan menganggap kita memiliki identitas tertentu hanya karena kita menulis (dan dianggap membela) sebuah kelompok minoritas.

Saya kira itu logika yang sepenuhnya keliru. Sebab siapapun tidak perlu menjadi kelompok terpinggirkan untuk membela mereka. Semua orang tidak perlu jadi petani Langkat ketika bersimpati atas penggusuran, tidak perlu jadi warga Palestina dan Suriah untuk merasakan sakitnya perang, dan tidak harus menjadi perempuan ketika membela perempuan korban perkosaan.

Kita bisa merasakan, menggunakan sudut pandangnya, menulis dengan kacamata mereka. Kita semua punya nurani yang sama, yang akan terluka dan marah, ketika digusur dan kehilangan tempat tinggal, atau menjalani hidup tanpa rasa aman, atau ketika otoritas tubuh kita direnggut paksa oleh orang. Semua orang cukup menjadi manusia untuk merasakan ketidakadilan.

Alangkah kerdilnya pemahaman orang-orang itu terhadap kemanusiaan. Mereka menganggap kita harus satu identitas ketika membela identitas tertentu. Barangkali ini erat kaitannya dengan sikap mereka yang tribal, yang memutuskan membela atau tidak, memutuskan satu argumen itu benar atau tidak, hanya dengan kerangka dikotomi identitas.

Sikap dan pandangan ini sungguh berbahaya. Karena berpikir dalam kotak-kotak identitas membuat kita rentan bersikap etnosentris dan menerapkan standar ganda. Cara berpikir demikian mengandaikan identitas satu lebih baik dari identitas lain, dan karenanya yang satu berhak menindas yang lain. Pola pikir ini jugalah yang menyebabkan orang dibutakan bias ketika melihat fakta dan peristiwa.

"Kalau kamu tidak seagama dengan saya, ya kamu akan selalu salah. Kalau kamu satu suku dengan saya, sejahat apapun akan aku bela."

Seorang teman saya yang lain berpendapat, cara seperti itu memang digunakan untuk mendeligitimasi argumen. Dengan mengaitkan saya ke identitas gay atau Syiah, misalnya, orang tidak perlu membantah argumen saya dengan fakta-fakta baru. Serang saja penulisnya, karena tidak bisa membantah bangunan argumennya. Inilah kesalahan berpikir argumentum ad hominem.

Orang cukup mengatakan "Oh kamu gay, pantas saja membela LGBT" atau "Oh kamu Syiah, pantas saja mengutuk pembubaran Asyura". Orang akan menganggap argumen saya batal dengan sendirinya dan menganggap dirinya telah menang. Padahal tidak demikian.

Jadi ketika saya kembali ke Facebook saya dan melihat komentar itu, saya hanya bergumam, "sedangkal itukah cara dia berargumen?”

Rio Tuasikal

Journalist at KBR 68H | Interested in human rights, religious freedom, and LGBT issues | Blog: riotuasikal.com Twitter: @riotuasikal

Comments

Untuk merespon artikel ini, Anda harus login atau register terlebih dahulu

© Qureta.com 2016